fiction, review

Yang Fana Adalah Waktu

45672761421_bdea8c9e40While in Hujan Bulan Juni: Novel Sapardi Djoko Damono dares question identities, and later unfolding the disturbing restlessness of divided feelings in Pingkan Melipat Jarak, here in Yang Fana Adalah Waktu the acclaimed senior writer doesn’t seem to show the slightest inclination to give his loyal readers an answer to the big question marks formed back-to-back in the two previous books. Instead, he poses another one, “Is it necessary to question love?” And, to make it even more complicated, is there really any line between existence and non-existence? What does exist and what does not exist?

The last of the trilogy starts with Sarwono’s surreal pondering over his feelings for Pingkan: not a question, it’s more of an affirmation that there is only them, and nothing beyond that. There is only their love, and anything else doesn’t exist. Their relationship, so it seems, is on a very straight path, no twists, no turns, not even a station to stop by. Their love is so true and unquestionable there is no need to make it otherwise.

However, what gets in their way is another’s doubt about another’s relationship. Katsuo, as we know from the two previous books is another man in love with Pingkan, asks her to come and see his fiancée Noriko, the girl personally chosen by his mother. At first Pingkan doesn’t get as to why she should meet the young woman she doesn’t even know who is engaged to the man that loves her in secret. Even if she is the reason why Katsuo feels reluctant to marry Noriko, and she’s aware of it, she doesn’t think she has anything to do with their relationship. But then she sees that Noriko rightly suspects her to be the hindrance to her engagement with Katsuo, and so demands to see her in person. Temporarily uncertain, Pingkan eventually goes to see Noriko, and, unexpectedly, Noriko likes her. So much for jealousy.

Now, the question this book seems to ask, “Is it necessary to question love?” In Pingkan’s and Sarwono’s case, the answer is definitely no. They know they love each other, they know they’re walking on the same path and that anything outside it just doesn’t exist. But they’re also aware that there is another man between them, and, in turn, that Pingkan becomes another woman getting in the way of Katsuo’s and Noriko’s already complicated relationship. And Pingkan is pretty much aware, too, of her role in that brittle engagement so she, eventually, agrees to meet Noriko and solve all the uncertainties there are. Although, in the end, she doesn’t quite solve anything because things get more and more complicated instead, as Noriko puts her engagement on hold and runs away to pursue what she wants to be.

If a question about love is not enough, then Mr. Sapardi gives you another one. In line with Hujan Bulan Juni: Novel and Pingkan Melipat Jarak, Yang Fana Adalah Waktu has also “otherness” as its issue, though not quite in the center of it all like in the first book. Being a liyan, or, that is to say, an alien, is something that Pingkan and Noriko share, as a Javanese-Manadonese and American-Japanese respectively, something that makes it hard for them to be accepted the way they are. But it is what happens most of the time to people like them—people of mixed blood, people who seem to have their feet at two places at the same time and can’t even decide who/what they are, much less getting people’s recognition. This, and its complexity in marriage, is actually a very interesting issue which I don’t think will get old anytime soon and that the writer addressed so well and so thoroughly in Hujan Bulan Juni. Unfortunately, he didn’t do the same here in the last installment. What Noriko has to face as an American-Japanese is merely sort of put on there as an adornment and never gets more attention.

And that is precisely the shortcoming of this novel: that barely anything getting explored properly—not Pingkan’s and Sarwono’s quirky but sweet relationship (they too much talk about somebody else’s), not Katsuo’s and Noriko’s planned, conflicted engagement, not even the “otherness” issue that deserves more room here. Everything appears to run halfway and then stop without further explanation. Well, Mr. Sapardi said that he had promised this series would be a trilogy, so a trilogy it is. But even so, there should be something completed, one or two things concluded. I won’t blame him for leaving the story hanging, but at the very least he could just talk about the sense of alienation more the way he did in Hujan Bulan Juni and so made the narrative strong enough to read. This book, in my honest opinion, is not the end of a trilogy. It’s a goodbye without saying why.

That’s said, Yang Fana Adalah Waktu is still a nice romance novel. The interaction between Pingkan and Sarwono is always loveable, while his with his parents is forever funny (if you understand Javanese language and culture). And Mr. Sapardi is ever poetic, though he didn’t apply that style to the dialogues, which, otherwise, would make them sound weird and unnatural. This book undoubtedly has everything I love about Mr. Sapardi’s fiction works: the jokes, the smooth and poetic narrative, the social issue and criticism (though not thoroughly elaborated), and the impartial characters (Sarwono, from the very beginning, has more or less reminded me of Soekram).

So, in conclusion, Yang Fana Adalah Waktu is basically a lovely book about love. It just lacks the thing that can make it more powerful, especially when it ends with a bit unpleasant cliffhanger. It looks like intentionally designed to be so, and yes, that’s where it hurts. So frankly speaking, among the three installments of this so-called Hujan Bulan Juni trilogy, the first book is still the best one.

Rating: 3.5/5

others

Apa Yang Fana Dan Kesombongan Kita

Sudah sejak pertama kali mencicipi karya Bapak Sapardi Djoko Damono (Trilogi Soekram kala itu), saya tahu beliau akan menjadi salah satu penulis favorit saya. Banyak pemikiran beliau yang tertuang dalam bentuk fiksi pada kumpulan novel pendek tersebut yang nyeleneh, tapi justru itulah yang menarik perhatian saya. Siapa lagi yang menganggap Datuk Meringgih pahlawan dalam novel Sitti Nurbaya, sementara pada umumnya dia dianggap sebagai tokoh antagonis, lantas menggandengkannya dengan si Sitti? Siapa yang berani mempertanyakan demokrasi, dan menganggapnya semata “barang impor” dari Barat? Siapa pula yang berani mempertanyakan aksi demo tahun 1998? Jujur, pemikiran-pemikiran nyeleneh yang tersusup dalam Trilogi Soekram inilah yang sangat kuat menggetarkan saya sampai-sampai saya tertawa membacanya, karena saya lebih banyak setuju daripada kurang setuju.

sdd-3673240172.jpg

Maka tidaklah mengherankan jika sejak saat itu pula saya mengejar karya-karya beliau, terutama yang dalam bentuk fiksi, dan saya baca satu per satu. Karya-karya Pak Sapardi tidak pernah mengecewakan saya, meski ketika membaca Pingkan Melipat Jarak saya agak terganggu, itu pun bukan karena pemikiran beliau, melainkan karena narasi yang tidak jelas. Yang jelas, tak (atau belum) satu pun karya Pak Sapardi yang membuat saya marah hingga mendepak beliau sebagai salah satu sastrawan pujaan saya. Dan tidak mengherankan pula bila setiap kali beliau pulang kampung ke Solo untuk mempromosikan bukunya, saya akan selalu hadir andai tak ada halangan. Saya mungkin tidak terlalu mengejar kesempatan untuk berfoto bersama atau meminta tanda tangan beliau, tapi saya ingin sekali bisa melihat beliau dan mendengarkan pemikiran-pemikiran beliau secara langsung. Dan jumpa penggemar dalam rangka promosi novel Yang Fana Adalah Waktu minggu lalu merupakan salah satu kesempatan emas tersebut, terutama ketika banyak dari hadirin yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang memicu Pak Sapardi mengeluarkan opini-opini beliau secara blakblakan dan agak meledak-ledak.

Mbak Indah, moderator acara, membacakan sepenggal novel Yang Fana Adalah Waktu sebelum acara dimulai.

Salah satu pertanyaan yang menarik datang dari kawan saya, yang intinya adalah mengapa ada kata-kata kids zaman now dalam buku Yang Fana Adalah Waktu, dan apakah memang perlu memasukkan istilah gaul itu ke dalam karya sastra? Mungkin tidak akan aneh bila Pak Sapardi memberikan jawaban yang nyeleneh, tetapi saya rasa cukup mengejutkan bahwa alih-alih menganggap istilah kids zaman now sesuatu yang menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, beliau justru menganggap frasa tersebut suatu produk bahasa yang “canggih”, lantaran terdiri dari dua kata bahasa Inggris dan satu kata bahasa Arab (saat saya dan beberapa dari hadirin mengatakan bahwa “zaman” merupakan kata dalam bahasa Indonesia, beliau langsung menyalahkan, tetapi memang harus diakui di situlah letak kebodohan dan “kebutaan” kami). Lebih jauhnya, Pak Sapardi menjelaskan bahwa sastra adalah seni berbahasa, dan apa yang tertulis dalam karya sastra adalah bahasa lisan, yaitu bahasanya orang-orang biasa, bahasa manusia pada dasarnya. Mengingat bahasa lisan bersifat fana sedangkan tulisan bersifat abadi, maka orang-orang zaman dulu mencetuskan untuk mencetaknya dalam bentuk gambar (gambar adalah huruf, huruf adalah gambar) agar tidak punah/hilang. Apa yang diucapkan manusia itulah yang kemudian dituliskan, dan lebih jauhnya digunakan dalam menghasilkan karya sastra. Maka kesimpulannya: sah-sah saja memasukkan bahasa gaul ke dalam karya sastra.

Dengan ini Pak Sapardi seolah ingin menegaskan bahwa sebenarnya tak perlu ada batasan antara “bahasa sastra” dan “bahasa populer”, yang ada hanyalah perubahan zaman, perubahan penggunaan bahasa, dan apa yang mudah/sulit dipahami. Sebagai contoh Pak Sapardi membandingkan puisinya dengan puisi karya Chairil Anwar, keduanya tentu menggunakan kosa kata dan gaya penulisan yang berbeda karena mereka hidup (menulis) di zaman yang berbeda pula, tapi toh karya keduanya tetaplah puisi. Apakah, hanya karena puisi Pak Sapardi menggunakan bahasa Indonesia yang modern dan santai, lantas puisi beliau bukanlah karya sastra? Tentu seyogianya kita tidak memandang dengan cara demikian. Sudah sepantasnya bahwa karya sastra mengikuti perkembangan zaman, bahwa setiap karya sastra mempunyai “zaman”-nya sendiri-sendiri, dan bahwa karya sastra adalah karya yang populer.

Menanggapi pernyataan terakhir di atas, salah seorang hadirin bertanya haruskah karya sastra bersifat populer? Menurut Pak Sapardi itu bukanlah sebuah keharusan tetapi keniscayaan. Pak Sapardi bercerita bahwa dahulu di Inggris muncul pengelompokan seni menjadi seni kelas atas, menengah, dan kelas bawah sebab terdapat perbedaan strata dalam masyarakat sebagaimana yang disebutkan. Apa yang dibaca kaum pembantu yang hampir-hampir buta huruf tentu saja berbeda dengan apa yang dibaca majikannya yang lebih berpendidikan. Pertunjukan balet tidak mungkin ditonton kaum pembantu, hanya oleh mereka-mereka yang berasal dari kalangan atas (yang pergi menonton dengan mengenakan tuksedo dan gaun), karena toh kaum pembantu tidak akan bisa mengerti/menghayati balet yang memang tidak diajarkan kepada mereka. Padahal semua orang tahu tari balet, jadi artinya tari balet adalah tarian yang populer. Contoh lain adalah wayang. Semua orang Jawa dan hampir semua orang Indonesia pasti mengenal wayang, yang berarti wayang bersifat populer, tetapi apakah semua orang menikmati wayang? Belum tentu. Pertunjukan wayang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang paham betul cerita-cerita wayang saking sudah sering menonton atau mendengar cerita-cerita wayang sedari kecil. Jadi, jika boleh saya simpulkan, yang menjadi perkara bukan apakah suatu karya seni (apa pun itu) bersifat populer atau eksklusif, tetapi penggolongan masyarakat beserta tetek bengeknya, termasuk pendidikan. Karya seni lazim bersifat populer karena dikenal oleh khalayak luas, tetapi siapa yang bisa menikmatinya? Tentu hanya orang-orang yang memahaminya. Semua orang kenal William Shakespeare, tapi siapa yang bisa menikmati karya-karyanya? Tentulah orang-orang yang mampu memahami karya-karyanya, yaitu mereka yang terbiasa atau terdidik untuk membaca karya-karya tersebut.

Penjelasan beliau sedikit banyak mengingatkan saya pada cerita-cerita karangan Jane Austen, yang menurut saya tidak ada bedanya dengan cerita-cerita bergenre roman sejarah karya penulis-penulis zaman sekarang seperti Sabrina Jeffries, Lisa Kleypas, Stephanie Laurens, dll. Pola narasinya pun sama. Saya juga samar-samar teringat suatu artikel yang mengatakan bahwa kategori “literary fiction” dan “popular fiction” di luar negeri hanyalah “akal-akalan” penerbit demi penjualan.

Selain soal bahasa/karya sastra, satu pertanyaan yang menarik menyangkut pandangan Pak Sapardi perihal adaptasi novel ke dalam bentuk film, karena tampaknya si penanya kecewa dengan film hasil adaptasi novel Hujan Bulan Juni. Menurutnya, film adaptasi tersebut mengurangi esensi novelnya. Jawaban Pak Sapardi atas pertanyaan ini boleh dibilang tidak istimewa, karena saya sendiri pernah mendengar seorang sutradara juga mengatakan bahwa novel dan film merupakan dua jenis media yang berlainan, dan cara mengerjakannya berlainan, sehingga apa yang dihasilkan pun berlainan. Rasa-rasanya tidak adil jika pembaca/penonton menuntut isi novel dan film haruslah sama. Akan tetapi, yang menarik dari jawaban Pak Sapardi adalah penjelasan beliau mengapa novel dan film (walaupun adaptasi) tidak akan pernah bisa sama. Beliau menjelaskan dengan memakai contoh novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli. Beliau sedikit menjabarkan penggambaran tokoh Sitti Nurbaya yang berkulit begitu putih bening hingga ketika minum akan terlihat air mengalir di tenggorokannya. Nah, jika penggambaran ini diadaptasi mentah-mentah ke dalam layar, maka filmnya tidak akan menjadi film drama tetapi film horor. Lalu bagaimana jika di dalam novel digambarkan seorang wanita memiliki mata seindah janda yang baru bangun pagi? Bagaimana sang sutradara harus menerapkan penggambaran itu dalam filmnya? Apakah dia harus memakai aktris yang sudah janda? Tentu saja tidak.

yfaw-11681424395.jpg

Satu hal lagi yang menarik adalah perihal judul dari buku terakhir trilogi Hujan Bulan Juni. Mengapa Yang Fana Adalah Waktu? Selain karena dipilih oleh kru di penerbitan, judul ini ada kaitannya dengan apa yang fana dan apa yang kekal dalam dunia dongeng. Pak Sapardi berkata bahwa waktu akan selalu berlalu, zaman berubah, tetapi tokoh dalam dongeng akan selalu abadi, seperti tokoh Sitti Nurbaya selalu diingat oleh pembaca dari dulu sampai sekarang dan kelak sampai kapan pun. “Saya akan mati, tapi Pingkan akan abadi,” ujar beliau terkait tokoh Pingkan dalam trilogi ini.

Sayang seribu sayang, kisah Pingkan dan Sarwono ini tidak akan “abadi” karena tidak akan berlanjut lagi, lantaran Pak Sapardi sudah telanjur menjanjikan bahwa kisah ini hanya akan menjadi trilogi. Jadi, bagaimanapun akhir cerita Yang Fana Adalah Waktu, maka begitulah akhirnya. Mengambang atau tidak, pasti atau tidak.

Saya memang, sampai artikel ini ditulis, belum membaca novel Yang Fana Adalah Waktu, tetapi perbincangan (atau lebih tepatnya sesi tanya-jawab) pada acara jumpa penggemar dalam rangka promosi buku tersebut bagi saya sangatlah berkesan. Bahkan jauh lebih berkesan daripada acara peluncuran resmi novel Suti yang saya hadiri sekitar dua tahun lalu di tempat yang sama. Sungguh bahagia dan puas rasanya mendengarkan jawaban dan pemikiran seorang Sapardi Djoko Damono dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan hadirin, yang menurut saya tak kalah menggelitik. Penjelasan-penjelasan yang beliau berikan memicu saya untuk berpikir. Benarkah selama ini kita telah begitu sombong, memisah-misahkan “karya sastra” dan “karya populer”? Benarkah selama ini kita telah terlalu sombong, memisah-misahkan “bahasa sastra” dan “bahasa populer”? Benarkah selama ini kita telah sangat sombong, menganggap bahasa Indonesia adalah bahasa Indonesia, dan bukannya bahasa asing-bahasa asing yang “diambil” oleh masyarakat kita yang terdiri dari berbagai bangsa, yang menghuni gugusan pulau yang dulunya merupakan tanah kosong tak berpenghuni? Benarkah selama ini kita sebagai pembaca telah teramat sombong, menuntut setiap adaptasi berupa film harus sama dengan novel yang diadaptasinya?

Tampaknya, kita harus merenungkan hal-hal ini kembali.

N.B.: Disarikan dan dirangkum dari sesi tanya-jawab pada acara jumpa penggemar bersama Bapak Sapardi Djoko Damono di Balai Sudjatmika, Gramedia Surakarta, 21 April 2018.

-erdeaka-