I Don’t Give a D***

I’ve wanted to put this nagging thing on my mind into words for so long and blog it up here but found myself not having the heart to do it. Now, I’ll be doing it for a thousand words or so. Watch out, you may not like it.

People have favorite writers, so do I. But most of the time they have “favorite people” whose works they just happen to read, or love to read. These “favorite people” have some favorable qualities or likable personalities that make readers adore them even more than their works. These qualities/personalities can be certain charming characters (inspiring, wise, sympathetic, or simply having a heart of gold), or they can be their sex/gender (“I read this book because the author is a woman” doesn’t seem to be a rare expression these days). I’m not accusing people of not having literary taste or something, but sometimes you just can’t help it, can you? Because when you think the books these “favorite people” produce are so great and inspiring you will go to the bookstore and spend what little money you have to buy them and read them enthusiastically till midnight, but when you finally discover that these “favorite people” are a******* (or that they use pseudonyms and are actually not the person you think they are) you will have a doubt and eventually stop reading their books no matter how marvelous they are. You may think that I’m merely talking nonsense here, but I was, and am, a witness to this nonsense.

Years ago, at least that I remember, a best-selling author had just released the English edition of his book under a huge literary publisher in the United States. After quite some time, a blogger put his doubts on his blog over the nature of the release, saying loud and clear that actually the book was published by a small press and not a big player. He also severely criticized the many changes occured in the translated version, pointing out that the US edition might have not been translated from the original manuscript but was merely an adaptation. The author went mad at the “accusation”, and at the blogger, too, of course, and called his lawyer straight away to sue said blogger. It blew up and went viral on the Internet. Everyone on Twitter were condemning him mercilessly and ceaselessly, calling him arrogant and some other names and swore to God that they would never, ever again read his books. I remember feeling disappointed. I understood that it was not the best attitude of an author, but I have to say that it was not the best attitude of a reader, either. People left him, but I stayed. I stayed for the sake of his work. I stayed because I knew he was not the only one to make such a horrible mistake, or the only one to try keeping a good image but failed. I stayed because I knew being a writer in the book industry is a complicated thing. Really, sometimes I wonder what people’s reactions will be if the gossip that J.K. Rowling is actually not J.K. Rowling is true. Will they leave her and promise to never read her books anymore? And what about those senior male writers they said always trying to get into young female writers’ pants? If this rumor proves to be true, and we find out who those male writers are, will we leave them, too?

Writers are not gods, they make mistakes and they sin. If you look at what they are more than you do what they write, you’ll only tear your heart apart because all human beings are sinful, we are all sinful. So I don’t think we should read books for the authors’ “outer” image, or for their sex/gender, for that matter. I know the campaign to read more female writers today is all about making balance in the book industry, since the literary world has been indeed ruled by men for so very long. I am a woman and I can understand the need to do so. But I don’t want to be a gender-bound reader. I want to read a book only if it’s worth reading. What if a book, written by a female writer, is badly written? People hail women writers but they diss E.L. James, and every romance writer there is in the book industry, for they think romances they produce are a bunch of crap. If you really think you should read more female writers, then you should read E.L. James, not despising her on every article you write. So, I do think we should appreciate writers more for their capabilities than their sex/gender, if this is truly about “gender equality”.

You may think I’ve gone out of my mind, but it’s just not in my nature to judge a book by its author. I don’t care if it’s a he or a she, and I absolutely don’t care if he/she is a complete a****** or a wiseguy giving you some spiritual enlightenment on social media. Most of my favorite writers are men and one of them (yes, that best-selling author) was damned by almost the entire readership for his incapability to put his arrogance in the right place. From what I read on online newspapers and literary magazines, I could tell that Orhan Pamuk is not a charming person, but I love his books because they can equally reflect the social/cultural issues in my country; and I do not adore Sapardi Djoko Damono because we share the same cultural background (as Javanese people coming originally from Solo) but because we share the same opinion about everything and anything and have the same sense of humor, too, as reflected in his fiction works. I like Isabel Allende not because she is a woman, but because her Tripartite are a bunch of masterpieces and could really speak to me. In short, I don’t give a d***. For me it’s their works that matter, not their personalities. They can go to hell for whatever reason and I will still read their books if those books are truly great and inspiring. As E.M. Forster put it, “I am more interested in works than authors.”

I realize that it’s totally pointless to address this issue on my blog. But I just want people to know. Well, whoever those who actually read my blog. And I do not wish for anything, for I know everyone’s entitled to their own opinion. And this is mine.


Solusi Dari dan Untuk Diri Sendiri

[BBI – Posting Bareng Mei 2016]

pic-posbar-meiHari Buku Nasional mungkin akan selalu menjadi momen untuk merenungi atau mengkritisi dunia perbukuan dan masalah minat baca di Indonesia. Saya rasa, dari pengamatan kecil-kecilan saya selama ini, pertanyaannya masih berpusat di topik itu-itu saja dan belum berubah sama sekali. Kenapa minat baca (kebanyakan) orang Indonesia masih sangat rendah? Dengar-dengar negara kita ini bahkan ada di urutan kedua dari bawah dari negara-negara di dunia dalam urusan suka membaca (buku tentu saja, bukan status orang di media sosial). Lalu, kenapa harga buku (semakin) mahal? Bahkan harga satu eksemplar buku bisa berkali-kali lipat lebih mahal daripada harga satu kilogram beras yang paling bagus sekalipun. Orang Indonesia kebanyakan, yang punya watak perhitungan, tentu akan lebih memilih untuk menimbun beras (lalu dijual kembali) daripada menimbun buku (dan dibaca entah kapan).

Selain kedua pertanyaan di atas, ada satu pertanyaan yang terus terngiang di kepala saya: kenapa (sebagian besar) pembaca Indonesia belum bisa menghargai karya anak bangsa sendiri? Saya tahu dan saya menyadari bahwa belakangan ini buku-buku yang menjadi best seller adalah buku-buku dalam negeri alias karya penulis lokal. Buktinya bisa dilihat di toko-toko buku online maupun fisik, dan dari blog tour yang menjamur di dunia maya Indonesia. Tapi bukan itu yang menjadi masalah buat saya. Sekali lagi, dari hasil pengamatan kecil-kecilan saya (yang mungkin juga tidak dapat dipercaya), saya melihat sempat adanya tren membaca dan meresensi buku Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan setelah buku itu masuk dalam longlist penghargaan Man Booker International tahun 2016 ini. Buku itu pertama kali terbit 12 tahun yang lalu, kenapa baru heboh sekarang? Ke mana para pembaca Indonesia selama ini? Sibuk membaca Harry Potter, mungkin.

Kutipan dari novel 1Q84 – Haruki Murakami

Ah, tapi saya tidak mau sok suci. Saya sendiri juga begitu. Saya ini kan, hanya bagian dari orang-orang “pada umumnya”. Satu-satunya perbedaan saya dengan orang pada umumnya adalah saya tidak punya Facebook dan Instagram (maaf, off topic, tapi ini beneran, saya nggak bercanda). Saya sendiri masih lebih suka membaca (baca: menghargai) karya-karya penulis luar daripada penulis negeri sendiri (kalian bisa cek isi blog ini kalau tidak percaya), dan saya sendiri juga ikut-ikutan heboh membaca Cantik Itu Luka waktu buku itu terbit dan banyak diperbincangkan di luar negeri akhir tahun kemarin, padahal buku itu sudah terbit di Indonesia sejak 14 tahun yang lalu. Kenapa? Kenapa, sering kali, kita baru bisa menghargai suatu produk/karya dalam negeri setelah produk/karya tersebut dihargai di luar negeri? Apakah karena cara berpikir kita yang selalu bergantung pada “standar luar negeri”? Apakah karena bagi kita segala sesuatu yang berbau “luar negeri” selalu “pasti keren” dan “lebih keren”? Apakah kita harus selalu menunggu “pengakuan luar negeri” untuk menghargai penulis-penulis lokal?

Lalu, bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan itu? Terus terang, saya juga tidak tahu. Saya bukan seorang kritikus dan bukan ahli memberi solusi. Tapi saya punya satu prinsip: jika ingin melakukan perubahan, maka berubahlah mulai dari diri sendiri. Pertama, soal minat baca. Di negara yang sebagian besar rakyatnya masih lebih memikirkan bagaimana caranya mengisi perut (dan punya kendaraan sendiri) daripada bagaimana caranya menjadi bangsa yang cerdas rasanya masih sulit untuk menumbuhkan minat membaca (ingat: buku, bukan kolom gosip). Walaupun sudah banyak bermunculan komunitas baca di Indonesia yang gencar mengkampanyekan gemar membaca beberapa tahun belakangan ini, kita masih saja di urutan kedua dari belakang. Apa solusinya? Dengar-dengar pemerintah melalui Mendikbud sudah meluncurkan program “membaca 15 menit sebelum kelas dimulai” bagi anak-anak sekolah. Tapi apakah itu cukup? Jangan-jangan begitu pulang sekolah mereka lebih suka main game di gawai. Menurut saya, peran orangtua sangat penting di sini. Nah, kalau sudah begitu saya tidak bisa bilang apa-apa lagi. Lalu, apa solusi perubahan bagi diri saya sendiri? Menetapkan satu niat: menjadi pembaca yang lebih baik. Saya sadar saya tidak akan bisa bertanggung jawab atas minat baca se-Indonesia yang ratusan juta orang rakyatnya, tapi paling tidak saya bisa bertanggung jawab atas diri saya sendiri. Jadi, saya ingin membesarkan minat baca saya. Saya menyadari kalau sampai saat ini saya baru berminat membaca karya-karya fiksi. Saya jarang sekali membaca jenis buku lainnya, paling-paling hanya beberapa buku sejarah (dan tidak tuntas), sedikit buku teori ideologi, lebih sedikit lagi buku-buku puisi, dan memoarnya Orhan Pamuk. Saya ingin kelak punya minat membaca buku yang lebih beragam. Semoga saja, amin.

Kedua, soal harga buku yang mahal. Saya sendiri bingung harus bagaimana agar buku bisa murah, karena saya bukan pedagang/produsen buku. Kalau beberapa saat lalu, waktu harga BBM dan listrik naik, mengatakan “harga buku mahal” wajar-wajar saja rasanya. Tapi sekarang? Harga BBM turun. Tarif listrik turun. Lalu, kapan harga buku turun? Kalau itu mungkin hanya Tuhan yang tahu, karena pemerintah yang (saat ini) belum memikirkan industri buku dalam negeri tidak akan berpikiran sampai ke sana. Saya pernah baca di lini masa Twitter seorang teman kalau harga buku mahal disebabkan kertas yang digunakan adalah kertas impor, sedangkan kurs dolar sekarang masih di sekitar Rp. 13.000,-. Lalu, apakah kita harus menunggu kurs dolar turun untuk dapat membeli buku dengan harga murah? Mau menunggu sampai kapan? Nah, karena saya ini hanya orang bodoh dan bukan bagian dari pemerintah, saya tidak bisa sok-sokan memberi solusi. Saya hanya punya satu jalan keluar, dan ini sifatnya sangat personal dan ekonomis. Pinjam. Yap, jika teman-teman blogger buku lain mengaku sebagai “ordo buntelan”, maka saya ini adalah “ordo peminjam”. (Saya tidak bisa mengaku-ngaku sebagai ordo buntelan karena sering kali gagal menang giveaway dan tidak pernah dilirik penerbit). Sebenarnya ini adalah solusi lama, bukan hal baru bagi saya. Karena saya ini bukan orang yang mampu membeli buku sewaktu-waktu (mengingat penghasilan saya yang tidak tetap dan kebutuhan rumah tangga saya yang banyak), sejak dulu saya sudah sering meminjam buku dari teman. Jika tidak pinjam, biasanya saya akan menyewa di persewaan. Tapi syukurlah sekarang saya sudah menemukan perpustakaan lokal dengan koleksi yang cukup lengkap, jadi sekarang saya sering meminjam di perpustakaan. Bagi saya solusi ini sangat membantu. Lagi pula, selama kondisi keuangan saya masih begini-begini saja, prinsip saya adalah “mencintai (buku) tidak harus memiliki”.

Yang ketiga dan yang terakhir, soal penghargaan terhadap penulis-penulis lokal (sebelum dilirik pembaca luar). Untuk masalah yang satu ini, sebenarnya saya juga sudah punya solusi sejak tahun lalu. Bagi yang suka membuka dan membaca blog saya, pasti tahu tentang Indonesian Literature Reading Project yang saya gagas awal tahun lalu. Saya berketetapan untuk membaca lebih banyak karya-karya sastra Indonesia tanpa batasan waktu dan jumlah buku per tahunnya. Pokoknya saya harus baca karya sastra Indonesia walaupun hanya satu buku dalam setahun. Ini demi membuka wawasan tentang khazanah sastra Indonesia dan memicu kesadaran untuk menghargainya. Bonusnya adalah agar kita tidak bengong saja jika ditanya orang luar tentang dunia sastra kita sendiri, kayak kita nggak tahu di mana letak Jakarta. Selain itu saya punya solusi lain: saya berketetapan untuk sementara ini tidak membaca buku-buku Eka Kurniawan. Saya tidak mau lagi membaca karya beliau hanya karena ikut-ikutan heboh orang luar negeri. Saya ingin membaca karya beliau karena saya tulus dan ikhlas ingin membaca karya beliau. Lagi pula, sisa tahun ini mungkin akan saya habiskan dengan membaca karya-karya sastra Jepang. Bukan kenapa-kenapa, hanya saja teman saya Opat sedang mengadakan Japanese Literature Reading Challenge dan hadiah utamanya cukup menggiurkan :D.

Nah, sekian dulu artikel saya tentang problema dunia buku dan solusinya. Apa solusi kalian?

Banner Posbar 2016 kecilNote: Artikel ini diunggah sebagai bagian dari posbar #BBIHariBukuNasional Bulan Mei 2016.


Seperti Membaca Diri Sendiri

Pada tanggal 29 Juli lalu saya menghadiri sebuah diskusi terbuka mengenai Orhan Pamuk, salah satu penulis favorit saya, yang diadakan oleh komunitas Pawon. Diskusi tersebut membuka beberapa bahasan menarik dan kemudian mengingatkan saya akan kesan yang saya tangkap dari karya-karya beliau dan alasan mengapa saya menggemari beliau.

Pertama kali saya mengenal Orhan Pamuk adalah ketika saya membaca My Name is Red edisi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Serambi. Saya langsung terkesan dengan ide cerita serta gaya penuturan narasinya. Mungkin ini akibat pengalaman baca saya yang masih sangat kurang, tetapi saya merasa bahwa gaya bercerita Pamuk dalam novel tersebut sangatlah unik di mana kisahnya dituturkan dari sudut pandang pertama bukan hanya semua orang/tokoh tetapi juga semua benda, bahkan warna dan kematian. Walaupun plotnya sangat panjang dan kadang-kadang terasa melelahkan, gagasan mengenai tarik-menarik antara paham Islam yang dianut kekaisaran Ustmaniyah dan paham Barat yang mulai menyusup masuk serta konflik yang terjadi kemudian memicu berbagai pemikiran di kepala saya.

Gagasan mengenai tarik-menarik antar dua paham inilah yang membuat saya menggemari Orhan Pamuk. Tema seputar pertentangan antara Barat dan Timur, modernitas dan tradisi, sekularisme dan Islam terasa dekat dengan kondisi masyarakat yang saya kenal. Setiap kali membaca karya-karya Pamuk, saya selalu merasa bahwa Turki dan Indonesia adalah dua negara yang berbeda namun dengan karakter bangsa yang sama: sama-sama sekuler (tidak berdasarkan hukum agama) tetapi sama-sama sebagian besar berpenduduk Muslim; sama-sama kuat memegang tradisi tetapi juga sama-sama memimpikan modernitas hingga tak pernah ragu “berkiblat ke Barat”. Masyarakat kita selalu menganggap bahwa yang bagus dan yang hebat adalah yang “Barat”. Saya ingat dalam novel The Museum of Innocence diceritakan bahwa begitu inginnya seseorang dianggap modern dan fashionable “layaknya” orang Barat sampai tak malu memakai produk-produk branded palsu (karena gengsi lebih besar daripada kesanggupan membeli yang asli). Hal ini, saya amati, juga terjadi di tengah masyarakat kita.

Ada yang mengatakan bahwa sebagai seorang penulis Turki beliau sangat “Barat”, namun dalam berkarya beliau selalu berusaha obyektif dan berimbang mengisahkan pertentangan antar paham. Kalaupun beliau memang sangat “Barat” seperti yang dikatakan orang-orang, tidak serta merta beliau berat sebelah dan membenarkan tindakan serta perilaku masyarakat Turki yang suka meniru-niru orang Barat—seperti yang disindirkan beliau dalam The Museum of Innocence dan yang tersirat dalam The White Castle. Namun begitu, di sisi lain, beliau juga sangat menyayangkan piciknya masyarakat tradisional Muslim di Turki yang seolah-olah sangat anti modernitas dan kemajuan—layaknya yang tersirat dalam My Name is Red (yang bercerita tentang pembunuhan terhadap seorang pelukis yang meniru gaya Barat dan “melanggar” aturan pembuatan gambar ilustrasi gaya Islam Turki), Silent House (yang tokoh utamanya, Fatma, digambarkan sangat kolot dan membenci modernitas karena dianggapnya sangat jauh dari ajaran agama dan memicu dosa), juga The New Life (di mana diceritakan bahwa mereka yang membaca buku yang membawa kehidupan baru alias “pembaharuan” dibunuh dan mati satu per satu). Obyektivitas Pamuk dalam menulis juga terlihat dari karya populer beliau yang berjudul Snow, di mana beliau menceritakan tentang tertekannya kaum Muslim Turki—terutama para pelajar wanita yang pada era novel tersebut dikisahkan masih dilarang memakai kerudung/hijab—sehingga memicu aksi bunuh diri dan terorisme.

Meski tema pertentangan selalu berulang-ulang dalam setiap novelnya (saya sudah membaca hampir semua karya fiksi Pamuk, baik dalam terjemahan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, terkecuali The Black Book) saya tidak pernah bosan, karena Pamuk selalu menghadirkan tema tersebut dalam bungkusan narasi yang apik dan unik. Walaupun sering kali narasi Pamuk terasa membosankan (terutama bagi mereka yang tidak terbiasa membaca buku-buku beliau), bagi saya tetaplah menakjubkan. Pamuk sering kali membangun cerita dari berbagai sudut pandang tokoh-tokohnya sehingga pertentangan nilai-nilai dan paham-paham yang ingin beliau sampaikan terlihat sangat jelas, karena penceritaan dari berbagai sudut pandang itu kemudian memunculkan pesan/isi mengenai pertentangan itu sendiri.

Pesan/isi inilah yang membuat saya setia membaca karya-karya beliau. Sekali lagi, kedekatan karakter, meskipun tidak sepenuhnya, antara masyarakat Turki (seperti yang tertuang dalam novel-novel beliau) dan masyarakat Indonesia selalu membuat saya merasa seperti membaca diri sendiri.