poetry, review

Sergius Mencari Bacchus

Some writings can truly have devastating effects on the reader, and Sergius Mencari Bacchus (officially translated into English as Sergius Seeks Bacchus by Tiffany Tsao) is one of those. Every word, every line, every verse Norman Erikson Pasaribu penned down on this poetry collection not only sound, but feel so painful. You might get your heart wrenched brutrally reading every piece of poem on the list, whether or not you feel related to the issues being discussed.

This book doesn’t only talk about being different, or how to deal with it and people’s general lack of approval. It talks mostly about the pain, the dilemma, the acceptance of oneself as a homosexual when the family―and the society―see it as a sin, a sickness to be cured, and thus expel them to the lonely corner where they are forced to feel weird about themselves and try to figure out what they should be.

Puisi is the first poem to highlight this pain one has to endure―of pretending, of living two kinds of life, of being “two persons” at the same time. While people see them as a “normal” person, inside they are merely a “dying tree”―as stated in the second verse:

Selama ini kesepian adalah daun-daunmu

hijau, acak, dan lebat, orang-orang mengira kau

pohon yang sehat, sebentar lagi berlebah dan berbuah.

Meskipun sebetulnya kau sekarat; batang, rantingmu

digerogoti benalu yang telah lama kau harus pelihara

This pain, and the dilemma, sound through almost the entire book; in Erratum, one has to face his own family’s rejection after coming out and frankly telling them that he cannot be with any women; Aubade also sees the same rejection, with a group of friends can only laugh at themselves and cry at the same time watching a movie reflecting their own situation, but finally accepting that situation without any fear, without any wish to end their lives, because the protagonist of the movie has done it for them.

Inferno seems like a very calm, “dim” poem, having no shocking or blazing effects on the reader. But it is one which particularly makes the reader ponder about self-acceptance and how the older you get, the longer you live, you will no longer think about whether others love you or not, understand you or not. You don’t even care if there’s a place for you in Heaven, for that Heaven is not for you in the first place.

Tiba di usia di mana dunia tak lagi misterius:

(1) tak lagi perlu seseorang memahamimu

Karena kau telah memahami dirimu sendiri

(2) tak lagi mendamba dicintai

Karena kau telah mencintai dirimu sendiri

………………………………………………………….

Dan surga yang dibicarakan itu, Ada

di puisi lain yang tak membicarakanmu

Meanwhile, Sebelum Aeschylus and Serial TV Komedi talk about the same thing in a row: how this life is a mere play and you are the director of your own. You can have a script in your hand, a “director” behind, but life is not about doing what is written in your script or what the director wants you to. It’s about living it as it is, with all its interruptions and unexpected changes of course and all that―and you have to, ready or not, improvise accordingly.

Tentang Sepasang Lelaki Muda di Basemen P3 fx Sudirman is obviously about how self-acceptance is not enough when we are different from others, for sometimes we still need to hide from them―in the corner of a basement car park, far from anyone’s sight and watching out for any security or cleaning staff who might be passing by and witnessing our secret love and passion. We are hiding not because we are afraid of being ourselves, we are hiding because we are afraid of being unfairly judged. People are so easy judging that our love is not true and that our passion is out of place, and it is so useless to tell them what we think because “dunia belum siap dengan kita” (the world is not ready for us―my translation).

In Curriculum Vitae 2015 Pasaribu seems to summarize all memories he still has of his life: all that pain, rejection, dilemma and, finally, self-acceptance, and the love he found in a writing class. It’s not in any poetic forms or verses, it’s stated in points without any use of figurative nor flowery language. It’s so blatant and he wants all readers to see it clearly: this is my life, this is my pain, this is all the trials and tribulations I’ve been having to go through all this time.

All in all, Sergius Mencari Bacchus is a very painful book to read. Each story behind each poem, each verse and each line sound and feel so devastating. Pasaribu’s personal experiences might not be your experiences, but you will defenitely feel what he has been going through his life.

Rating: 3.5/5

poetry, review

Raksasa Bermata Biru

46894931364_94b5a1482b
Indonesian edition’s cover

Sepertinya masih sangat jarang kita temui, atau bahkan mungkin belum ada sama sekali, karya sastra Turki dalam bentuk puisi diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Raksasa Bermata Biru karya Nazim Hikmet yang diterjemahkan oleh Bernando J. Sujibto ini bisa jadi yang pertama. Sebagai sebuah perkenalan kepada pembaca Indonesia, kumpulan puisi ini berisikan sejumlah tulisan yang memang tepat untuk memberitahukan tentang siapa seorang Nazim Hikmet.

Perkenalan dengan Hikmet ini dibuka dengan puisi berjudul Otobiografi, yang menceritakan tentang Nazim Hikmet secara keseluruhan: kapan ia lahir, di mana ia menimba ilmu, kejadian apa saja yang pernah dialaminya, kisah cintanya, sifat-sifatnya, kecenderungannya yang tidak tertarik pada kekuasaan maupun jabatan, juga kerendahan hatinya. Namun dari sekian banyak hal yang diceritakan melalui bait demi bait dalam Otobiografi, yang paling menarik adalah sifat-sifat sang penyair. Salah satu contohnya sebagaimana yang tersirat pada bait pertama:

“aku tidak akan kembali lagi ke kota kelahiran

aku tidak suka kembali ke belakang”

Dari dua baris ini tampak jelas bagaimana seorang Nazim Hikmet memandang masa lalu. Ia sama sekali tidak tertarik untuk menengok ke belakang, mengenang-ngenang kembali yang sudah lalu terutama asal-usulnya. Mungkin baginya tidaklah penting ia terlahir di mana dan bagaimana masa kecilnya. Mungkin yang penting baginya adalah apa yang saat ini dijalaninya.

Sifat Hikmet lain yang menarik adalah kemandiriannya, yang sedikit banyak memperlihatkan betapa tinggi harga dirinya, seperti yang dapat dilihat pada dua baris yang berbunyi:

“aku berbohong karena malu mengendalikan orang lain

aku berbohong demi tidak menyusahkan orang lain…”

Hikmet tak mengelak bahwa ia telah berbohong pada orang lain, tetapi itu dilakukannya agar ia tak perlu menyusahkan atau merepotkan orang lain, agar ia tak perlu meminta orang lain melakukan ini dan itu (maka mengendalikan). Jika membaca jalan hidup Hikmet sendiri yang dijabarkan pada bagian pembuka oleh Bernando J. Sujibto, maka ini tidaklah mengherankan. Jalan kesendirian yang ditempuh Hikmet ini juga terang ketika ia berkata di salah satu bait bahwa ia “tidak pergi ke mana orang pergi.” Hikmet bukanlah seseorang yang suka menggerombol dan mengikuti arus, ia lebih suka berjalan sendiri.

Bisa jadi, jalan kesendirian inilah yang membawa Nazim Hikmet pada pilihan ideologinya. Dengan memilih untuk menjadi seorang komunis, ia melawan arus di negerinya sendiri dan harus menanggung julukan pembelot. Hal tersebut disinggung dalam puisinya yang keenam di buku ini, yang diberi judul sesuai dengan pandangan pemerintah Turki pada saat itu terhadap dirinya, Pengkhianat Negara. Puisi ini menyajikan ironi, karena ketika di satu sisi pemerintah menganggapnya pengkhianat negara, di sisi lain mereka telah “menjual” negeri mereka sendiri kepada Amerika Serikat dan menyediakan tempat bagi pangkalan militer negeri Paman Sam. Hikmet secara terang-terangan menunjukkan siapa sebenarnya yang telah mengkhianati negara, dan siapa yang tidak.

Hikmet juga menyindir Amerika Serikat lewat puisinya Nelayan Jepang, sebuah puisi pilu yang ditujukan untuk mengingat tragedi uji coba bom hidrogen di tahun 1954. Pada puisi tersebut, Hikmet mengandaikan kapal di laut sebuah keranda berwarna hitam, siapa pun yang berada di sana pasti mati, dagingnya pasti membusuk, yang tertular pasti tak akan selamat. Uji coba semacam ini tentu sangatlah keji karena melibatkan dan mengorbankan banyak manusia tanpa pikir panjang dan tanpa pandang bulu. Ketika dalam satu baris Hikmet bertanya, “wahai manusia, di manakah kalian?”, sesungguhnya yang ia pertanyakan bukanlah di mana keberadaan manusia, tetapi keberadaan “akal sehat” dan “belas kasihan” mereka yang menciptakan senjata demikian.

Puisi-puisi Hikmet dalam buku ini yang menyindir pemerintahnya sendiri pun tidak sedikit. Ambillah contoh Rezim dan puisi berjudul 5 Oktober 1945. Dalam Rezim, ia berkisah tentang Presiden Adnan Menderes yang mengirimkan tentara panggilan untuk ikut bertempur di Perang Korea. Melalui pilihan kosakatanya (atau setidaknya yang digunakan oleh sang penerjemah, Bernando J. Sujibto) terasa jeritan pilu para prajurit yang dikirim bukan untuk membela negeri sendiri, melainkan ikut campur perkara negara lain demi aliansi politik. Di sisi lain, ironisnya, sang presiden bersenang-senang dan menikmati kekuasaannya, tubuhnya sehat, benaknya tak memikirkan mayat-mayat prajurit yang diutusnya.

Sementara itu, pada puisi 5 Oktober 1945, Hikmet mencurahkan kekesalannya kepada pemerintah lantaran abai terhadap rakyat. Negara membiarkan mereka kelaparan, kedinginan, kelelahan sampai mati (akibat kerja membanting tulang) dan berpisah (dengan keluarga dan orang-orang tercinta). Untungnya, kata Hikmat, rakyat belum sampai pada tahap saling membunuh. Untungnya lagi, rakyat biasa bukan tak mungkin punya kuasa atau daya untuk menunjukkan kepada pemerintah cara-cara kemanusiaan dan mencintai.

Bicara soal cinta, Nazim Hikmet tidak melulu berbicara tentang dirinya, perjuangan, maupun mengkritik ini-itu. Dalam kumpulan puisi Raksasa Bermata Biru ini, sang penyair juga berbicara soal cinta—suatu hal universal yang dirasakan oleh setiap insan—pada puisi berjudul Salju Membelai Jalanan misalnya. Selain cinta, sang penyair juga berbicara tentang kehidupan dan kematian. Pada puisi Tentang Kematian, Hikmet berkata kepada istrinya Hadijah Pirayende bahwa ia tidak tahu siapa di antara mereka yang akan lebih dulu mati dan kapan, di mana, serta bagaimana kelak mereka akan mati. Sedangkan dalam puisi berjudul Laut Malam Itu, Hikmet mengingatkan bahwa nafas (atau kehidupan) kita adalah pemberian Ilahi, maka dari itu jangan sampai kita lupa kepada sang Pencipta dan lupa bahwa yang abadi justru adalah kematian: kehidupan setelah kita mati.

Raksasa Bermata Biru secara langsung maupun tidak langsung merupakan otobiografi Nazim Hikmet sendiri, yang bercerita tentang riwayatnya, kisah cintanya, pilihan politiknya, kritik-kritiknya, juga apa yang diperjuangkannya. Setiap puisi tersaji dalam pilihan kata yang mengundang dan mengandung pilu, ironi, serta sendu. Hasil terjemahan Bernando J. Sujibto mampu menyalurkan ketiga rasa tersebut kepada pembaca, sehingga pembaca juga dapat mengenal nada dan gaya berbicara Hikmet pada bait-bait ciptaannya.

Selain dengan Nazim Hikmet sendiri, buku kumpulan puisi ini juga merupakan perkenalan pembaca Indonesia dengan perpuisian Turki. Pembaca Indonesia tentu sudah tidak asing lagi dengan karya-karya fiksi karangan Orhan Pamuk, Elif Shafak, atau O.Z. Livaneli, tetapi mungkin kita belum mengenal pujangga-pujangga Turki secara luas. Buku ini bisa menjadi jalan pembuka bagi diterbitkannya lebih banyak lagi karya-karya puisi dari negeri dua benua.

Rating: 3/5

poetry, review

Buku Latihan Tidur

45524246745_5d12bf6423Some (or most) people might think poetry is some kind of melodramatic literary product, with flowery, figurative language not everyone understand. And there might not be many people who would think that poetry can also be funny, comic even, triggering laughter of its readers. Buku Latihan Tidur by Joko Pinurbo, one of Indonesia’s senior contemporary poets, falls into that category. It is not only hilarious, it’s refreshing, and yes it is thought-provoking but it doesn’t try to take anything seriously. Many poems listed on its table of contents indeed address some serious issues—like religion—but still in a very light, entertaining manner.

Those who are already familiar with the poet (those who aren’t can try and pick up Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, some sort of “summary” of his past works) must have known that Pinurbo loves to play with words like someone playing a Rubik’s Cube, the result of which is revealing colorful sides of Indonesian language and what’s funny about it. This tendency is clearly seen in almost every piece of his poems here, but new readers may catch it up directly in Kamus Kecil, the second on the list, where he flips some words, or put two words together with only one letter difference, to show that those words can make up meaningful senteces.

“…

bahwa sumber segala kisah adalah kasih;

bahwa ingin berawal dari angan;

bahwa ibu tak pernah kehilangan iba;

bahwa segala yang baik akan berbiak;

bahwa orang ramah tidak mudah marah;

bahwa seorang bintang harus tahan banting;

bahwa untuk menjadi gagah kau harus gigih;

bahwa terlampau paham bisa berakibat hampa;

bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada tuhan;

…” —(page 3)

The last line above is particularly funny because it’s mostly true that people are more afraid of ghost (hantu) than of God (tuhan).

In Tokoh Cerita, Pinurbo seems to try to point out how tricky it is to write a story and fill it with characters. He describes himself as an author who sits side by side with his fictional character, then suddenly he crosses out himself and so one character disappears and disturbs the plot. This attempt takes the reader back to the notion that writers often pour out themselves—either their alter ego, part of their personality, or their real-life experiences—into the stories they create. And once they decide to take back their character and let the others run wild, that’s when the storyline starts to get uncontrollable. Meanwhile, Perjamuan Malam is another amusing poem in which Pinurbo jokes about a meal where the dish on the plate (seemingly fish from the way the poet describes it) looks about to say “ouch” when it’s going to be eaten. Here he really makes the most out of his stock of metaphor.

There’s also an irony where Pinurbo thinks (or, seems to think) that people are actually insane in general, and that sanity is something as rare as holidays.

“Kepalaku rumah sakit jiwa yang kesepian

(my head is a lonely mental hospital)

ditinggal penghuninya mudik liburan.”

(all its inhabitants going out on vacation)—(page 18)

It is very intriguing that the poet would really think that way. Or perhaps, he means to refer to himself, what with his “abnormal” tone of poetry and crazy ideas. Whatever it is, this one poem can truly knock the reader’s mind as it points out the contradiction between what’s people generally believe (that sanity is a normal condition) and what’s real (that it is insanity the normal one).

“Apa agamamu?

(what’s your religion?)

Agamaku air yang membersihkan pertanyaanmu.”

(it’s water that cleans your question)—(page 6)

As naturally funny and linguistically comic as it is, Buku Latihan Tidur still can’t help but fall into the dangerous area of religion, which is a very sensitive topic if you see the condition these days. But Pinurbo doesn’t try to set up some doctrine for people to follow. In fact, he tries to show that religion should be relieving, calming, freeing belief and not something that makes people so angry, so intolerant, so snobbish, so hateful and vengeful toward others. Like in the poem Sajak Balsem untuk Gus Mus, where he highly criticizes “religious people” who do their prayers everyday but then chiding, bullying, fighting others and get mad when they’re at the losing side. This subtly harsh criticism can also be found in Kolom Agama. It basically criticizes the national ID card in which we have to fill what our religious belief is for all people to see. What’s the use of it, anyway?  Does it make you a good person? What if the religion stated on the ID card is not the religion the ID card owner holds? There are too many a case like this. Moreover, as the poet implies in this poem, what’s important is not religion, but love.

Buku Latihan Tidur by Joko Pinurbo has not only so much fun, but also so many themes and tricks of how to handle them. It consists only of 80-something pages yet it is so rich: either in its contents or its metaphorical language. Pinurbo doesn’t only entertain us, but he provokes our thoughts. He invites us to come and see many things from a comical angle, from a humorous point of view. He seems to want us not to take anything seriously, but if we think about it, we’ll find things truly funny but most of the time in an ironic way. Joko Pinurbo really has a gift to do that.

Rating: 4.5/5

poetry, review

Melipat Jarak: Sepilihan Sajak

32572055191_8df2ceb2fb_oMelipat Jarak: Sepilihan Sajak comprises Sapardi Djoko Damono’s selected poems written and published between 1998 and 2015. Quite different from Hujan Bulan Juni, his other book of selected poems released back in 2014, this one’s central theme is more of nature, God and spirituality, and old age. There is no so much as a hint of human love and romanticism in each and every one of the seventy five works contained in this book. But instead of being boring and lifeless, I found Melipat Jarak so heart-shredding and profound.

The collection opens with Catatan Masa Kecil, 4, a paragraphed poem about a little child who only knows of, and is so fond of, the number zero. It is intriguing how Mr. Damono, as an old man himself, explores the mind of a child and presents, if not writtenly imagines, that child’s take on numbers. The style may not be the prime quality for it’s not surprisingly new, but it is something that brings out the storytelling goal of the poem to the surface. Without it, the reader might not catch the reminiscent tone intended for them to sense; it would merely be verses and rhymes. And we won’t find this paragraphing in the opening poem only, but also in some others, like Sepasang Lampu Beca, which needs to bring up into view its “hidden narrative”.

In stark contrast to the first poem of the collection, many of Mr. Damono’s other works here talk about old-age life. Anyone already read his poetry books before must have been familiar with a piece entitled Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?, a nine-part poem telling of an old man who has been retired from his job and from everything else and the only thing he does everyday is reading newspapers at the terrace of his house without anyone, not even his own neighbors, paying attention to him. It emanates loneliness and elicits sadness, describing a kind of life where we will be only doing boring things, recalling the past, reading news and stories of other people on papers while totally ignored by those in reality, waiting for death to come to us. Reading this poem, the reader might get the feeling that it will happen to them one day, especially when there is no one beside us anymore. Interestingly, Mr. Damono describes this purgatory not only in one or two poems, but in many numbers, including Sebelum Fajar, which is very much heart-breaking, and Old Friends, a brief, funny poem about a lot of old people sitting in a wait for their turn at a hospital.

As I have mentioned earlier, many a poem in Melipat Jarak brings up the subjects of nature, God, and spirituality. They are so many that they seem to be the soul of the book. Sometimes these themes of God and nature are blended together into one, like what we find in the poem Surah Penghujan: Ayat 1-24. This isn’t so because of the title, nor the form that replicates the verses in the Koran, where God speaks to humans, but for it subtly describes the power of God transforming into changes of seasons which cannot be denied no matter how hard humans refuse them. In others, like the ones entitled Tiga Sajak Ringkas Tentang Cahaya (about the light of the moon and sun) and Sajak Tafsir (where every element of nature denies the way others describe its shape, name, and role in this world), Mr. Damono purely talks about the nature and how it works. Meanwhile, in poems like Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta, Tentu. Kau Boleh, and Sajak dalam Sembilan Bagian, he channels out his creativity solely into the subject of God, spirituality, and how he interacts with the Almighty.

As engrossing as those poems mentioned above might seem, none of them bears uniqueness as attractive as Malin Kundang and Sudah Kubilang, Jangan Kamu ke Sana, which are meant to represent the “alternative narratives” of an Indonesian folklore, Malin Kundang, and a well-known Western fairy tale, Cinderella, respectively. It is not the only time for Mr. Damono to tinker with folklores, legends, or fairy tales for he has ever done it with the story of Ramayana in his 2-in-1 short story collection, Pada Suatu Hari Nanti, Malam Wabah, but still they are fascinating creations. In Malin Kundang, the betraying son is not cursed into a stone, instead, people of his land warn him against coming back home so he can dodge the bullet. While Sudah Kubilang, Jangan Kamu ke Sana is a totally different take on the happily-ended, popular love story. There are, on the other hand, pieces of which uniqueness is more on the form than the content; some poems like Sunyi yang Lebat, Tiga Percakapan Telepon (something I’ve never discovered before), Sebilah Pisau Dapur yang Kaubeli Dari Penjaja yang Setidaknya Seminggu Sekali Muncul di Kompleks, yang Selalu Berjalan Menunduk dan Hanya Sesekali Menawarkan Dagangannya dengan Suara yang Kadang Terdengar Kadang Tidak, yang Kalau Ditanya Berapa Harganya Dikatakannya, “Terserah Situ Saja…”, Urat Daun, and Dialog yang Terhapus. Their meanings are somehow unfathomable, but the beauty of their verses and rhymes is undeniably fun and enjoyable.

I cannot say I know much about poetry—the techniques, the figure of speech, the rhyme patterns and all that stuff—but overall I enjoyed Melipat Jarak so much. All the poems contained in this collection seemed to speak to me in every way, though it’s not to say that I could understand every one of them. Now I’ll close this review with some quote from one of my favorite numbers here, Dongeng Marsinah, a quote that is more powerful than that of Descartes:

“Ia suka berpikir,” kata Siapa,

(“She likes to think,” says Who)

“itu sangat berbahaya.”

(“that’s very dangerous.”)

Rating: 4/5

poetry, review

Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi

Membaca Melihat Api Bekerja karya M. Aan Mansyur serasa membaca kumpulan cerita yang dipuisikan, dengan kalimat-kalimat serta kata-kata sambung yang sering kali dipecah-pecah secara sembarangan demi memunculkan rima yang teratur. Dalam setiap puisinya, Aan menarasikan bukan hanya perenungan dan perasaan, tetapi juga kritik dan sindiran terhadap hal-hal yang bisa jadi kita anggap “biasa saja” dan tidak perlu dipermasalahkan. Layaknya buah karya seniman pada umumnya, Melihat Api Bekerja, jika boleh dinilai, merupakan perwujudan diri Aan secara hati dan pikiran.

Membaca Melihat Api Bekerja juga merupakan tantangan besar, karena dari 54 puisi yang tersaji, tak banyak yang gampang dimengerti. Beberapa memang mudah dipahami, namun banyak yang lainnya menggunakan kiasan yang teramat kental serta gaya stream of consciousness yang sulit diikuti ujung pangkalnya sehingga dibaca sampai berulang kali pun tidaklah cukup. Di antara yang sulit “ditangkap maknanya” tersebut, yang sangat menarik perhatian adalah salah satu bait dari puisi Mengunjungi Ambon:

“Menjadi diri sendiri adalah filsafat yang sekarat dan alat kontrasepsi yang sudah bocor sebelum dimasukkan ke kemasan dan dijajakan sembarangan.”

Jika dibaca terpisah dari bait-bait lainnya, maka potongan puisi di atas dapat menimbulkan efek cengang dan memicu perenungan. Pertama-tama, apa yang dimaksud dengan “menjadi diri sendiri adalah filsafat yang sekarat”? Apakah, sebagai sebuah pandangan hidup, menjadi diri sendiri sangatlah sulit dilakukan? Begitu sulitnya hingga tak banyak orang yang mau menerapkan lantas ditinggalkan begitu saja menjadi filsafat yang terlantar, nyaris tak bernyawa dan hampir tanpa napas? Lalu, apa pula maksudnya “menjadi diri sendiri adalah alat kontrasepsi yang sudah bocor sebelum dimasukkan ke kemasan dan dijajakan sembarangan”? Apakah menjadi diri sendiri dianggap sebagai alat pelindung diri yang tidak berguna? Karena merupakan alat yang “bocor”, yang menguak bagian kita secara gamblang, prinsip tersebut hanya sia-sia belaka karena memang tak bisa digunakan untuk “melindungi diri”? Begitu pelikkah menjadi diri sendiri di dunia ini? Mungkin demikianlah yang ingin disampaikan bait tersebut.

Jika diperhatikan, Aan banyak berbicara tentang cinta dan kepedihan dalam kumpulan puisinya ini. Banyak sekali kiasan yang digunakan untuk menggambarkan cinta, seperti “Cinta adalah hidangan di atas meja, pelan-pelan dingin dan kau tidak lagi lapar” (dalam Tentang Sepasang Kekasih); “Mereka tidak tahu jatuh cinta dan mencintai adalah dua penderitaan yang berbeda” (dalam Melihat Api Bekerja); “Cintaku kepadanya melampaui jangkauan kata. Aku cuma mampu mengecupkannya dengan mata” (dalam Barangkali); dan “[…] cinta juga bisa membunuhku. Berkali-kali dan berkali-kali lebih perih” (dalam Kau Membakarku Berkali-kali). Dari kutipan-kutipan puisi tersebut, mungkin dapat diambil kesimpulan bahwa bagi Aan cinta tak lain adalah kepedihan yang bertubi-tubi: jauh, dingin, dan menyakitkan. Apalagi jika dilihat dari puisi berjudul Mengisahkan Kebohongan, di mana kata-kata cinta bisa jadi cuma omong kosong belaka. Atau dalam puisi Menikmati Akhir Pekan, di mana Aan berkata bahwa ia lebih suka berada di antara orang-orang yang patah hati, yaitu orang-orang yang jujur dan berbahaya (jika memang jujur itu berbahaya). Mungkin, bagi Aan, orang-orang yang biasanya bermesraan di akhir pekan bukanlah orang-orang yang sejujurnya bahagia, meski punya pasangan dan cinta.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, selain perenungan dan perasaan, Aan Mansyur juga secara “sembunyi-sembunyi” melayangkan kritik dan sindiran kepada pihak maupun suatu hal tertentu. Seperti yang jelas-jelas ia layangkan kepada sosok-sosok terkenal dalam puisi Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia, juga seperti yang tersirat dalam puisi Kepada Kesedihan, di mana pada salah satu baitnya ia berkata, “Memejamkan mata berarti menjadi politikus”. Di sini Aan seolah menyindir kaum politikus yang selalu menutup mata terhadap apa pun, termasuk dan terutama terhadap kebenaran. Atau bisa jadi Aan sebenarnya ingin mengatakan bahwa dengan “menutup mata” terhadap kebenaran, berarti kita telah menjadi seperti para politikus: busuk. Karena itulah di akhir bait tersebut ia menambahkan, “Aku memilih hidup sebagai penjahat yang ceroboh—cuma tahu melukai hidup sendiri”.

Secara keseluruhan, Melihat Api Bekerja merupakan kumpulan puisi yang kompleks: mengusung berbagai tema, menerapkan berbagai bentuk, menceritakan berbagai hal, dan menggunakan rima-rima yang mengandung berbagai jebakan baca. Namun justru itulah yang membuat Melihat Api Bekerja menjadi sebuah karya yang kaya. Ditambah lagi, puisi-puisi Aan Mansyur juga ditemani ilustrasi-ilustrasi hasil guratan Muhammad Taufiq yang sangat luar biasa, yang berperan merepresentasikan hasil tulisan Aan tersebut dalam bentuk gambar. Bisa dibilang, selain kompleks, Melihat Api Bekerja juga merupakan karya yang komplit.

Saya akan menutup resensi ini dengan salah satu bait dalam puisi yang berjudul Menyunting Sajak Untukmu, yang sedikit banyak mewakili kompleksnya isi dan makna puisi-puisi Aan yang terkumpul dalam buku ini serta kesulitan saya dalam mencernanya:

“Singkirkan semua yang cuma kata. Baca dan baca lagi hingga hilang maksudku menuliskan sajak ini. Apakah kau sudah merasakan hal yang sejak mula kupikirkan? Baiklah, akan kuhapus dan memulainya lagi.”

Rating: 4/5

poetry, review

Aku Ini Binatang Jalang

Chairil Anwar is no doubt the most outstanding poet, if I may say so, in Indonesian contemporary literature. His works have been recited, quoted, and used by so many people and even translated into foreign languages. I do not enjoy poems as a general rule, though I frivolously express my feelings in poems as well sometimes, but reading Aku Ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942-1949 was a wonderful experience to me. The book was first published in 1986, containing Anwar’s collected poems from 1942 to 1949, and has been reprinted many times through the years.

This book seems to have been compiled in an attempt to put together Anwar’s own poems (not his translation nor adaptation) scattered in several books. Those books had apparently had different versions of Anwar’s poems, making them questionable in their originality, hence the need for collecting those different versions into one book and putting them side by side. I understand that the editor didn’t mean to show which one is the original, but he might have, as stated in his “Editor’s Note”, wanted the reader to choose which one is the better and worth recitation or being quoted. All those poems are sorted in chronological order, so that the reader can follow Anwar’s progress in creating poetry.

There are more or less 74 poems in all, with some of them presented in two versions, plus several Anwar’s letters to H.B. Jassin. I found Anwar’s works pretty hard to comprehend (or maybe I just don’t understand poetry), but his words are so miraculously beautiful. The first two lines of the first stanza of Pemberian Tahu (1946) are particularly striking:

“Bukan maksudku mau berbagi nasib

   nasib adalah kesunyian masing-masing.”

Aside from the true meaning of the whole poem, I found those lines so mind-blowing like a punch to the head. I don’t dare to interpret them, as I used to try, but it’s as though those sentences express a strong desire for untangling ourselves not only from other people, but “outer world” as well. They are clearly stating that we are living our own life, our own destiny. We should not bind ourselves to anything or anyone.

Reading the entire book, I dare say that Anwar was never a poet trying to be romantic. Yet his words roar out despair and feelings more than anything.

“Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.”

No words could describe the impermanence of love better than those written by Anwar above. Once again, I may not fully understand the meaning of the whole Tuti Artic poem, but that particular line has a blowing effect on me. I think this is why Anwar’s words and lines have been quoted so often and very much popular (like “Aku ini binatang jalang”). His words, whatever their meanings are, have certain effect on everyone that they would be always stuck in their mind.

I would say that Aku Ini Binatang Jalang is a worth-reading poetry book. In addition to having a chance to read all Chairil Anwar’s ever poems, readers, I believe, will cherish his stunning talent in creating them.

Rating: 3.5/5