fiction, review

Ikan-ikan dari Laut Merah

34626568873_cbefafc12d_oMembaca kumpulan cerpen Ikan-ikan dari Laut Merah karya Danarto serasa seperti menyelami perkara keimanan di lautan yang tak nyata, seperti memetik buah kesadaran dari pohon yang tampak hanya bayang-bayang semata. Gagasan kisah-kisahnya boleh jadi nyata, begitu juga dengan latar belakang dan tokoh-tokohnya, tetapi tidak dengan narasi yang diolah oleh penulis. Di setiap tulisannya dalam buku ini, penulis seakan merancukan antara realitas dengan lawannya. Namun justru dari olahan narasi masing-masing cerita yang terasa tak nyata itulah muncul satu pesan yang dapat digenggam erat: bahwa agama dan keimanan bukanlah melulu soal ritual, simbol-simbol, dan atribut yang tampak oleh mata, tetapi juga, atau justru utamanya, adalah tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, memaknai dunia dengan segala isi dan kejadian di dalamnya, rasa syukur, serta niat dan perbuatan baik. Singkat kata, spiritualitas.

Jika kita percaya bahwa segala perbuatan, baik maupun buruk, pasti ada balasannya dan bahwa niat baik sudah terhitung baik apa pun jadinya, maka cerpen berjudul Jejak Tanah dan Zamrud merupakan perwujudan dari gagasan ini. Dalam Jejak Tanah, diceritakan jenazah seorang pengusaha properti selalu keluar dari makamnya setelah dikebumikan dan seorang kiai berkata bahwa itu karena semasa hidupnya ia selalu memperjualbelikan tanah rakyat kecil tanpa keadilan. Bila dibaca sepintas, cerita pendek ini mengingatkan kita pada kisah-kisah horor “siksa kubur” yang biasa digunakan untuk menakut-nakuti orang tentang perbuatan dosa dan balasannya. Tetapi kisah racikan Danarto ini terkesan “lebih ringan” dan tidak menggurui, hanya terkesan absurd, terlebih ketika keluarga si pengusaha tidak merasa ketakutan melihat ada jenazah mengambang di depan pintu rumah mereka. Cerpen Zamrud juga tak kalah absurd, menceritakan tentang sebuah keluarga yang mengalami kecelakaan tapi tetap selamat berkat jasa seorang bapak tua yang misterius. Bapak tua tersebut bisa dibilang merupakan medium pertolongan dari Tuhan kepada seseorang yang di dalam hati memiliki niat yang baik, walaupun pada kenyataannya niat baik itu tidak pernah terwujud dan ia harus menerima hujatan dari orang-orang yang merasa dirugikan.

Perkara keimanan dalam artian kepasrahan penuh kepada Yang Maha Kuasa juga menjadi fokus dalam kumpulan cerpen Ikan-ikan dari Laut Merah. Dua di antara delapan belas cerpen yang mengisi, Pantura dan Alhamdulillah, Masih Ada Dangdut dan Mi Instan, menunjukkan petuahnya dengan cukup jelas. Dalam Pantura, seorang pemuda harus mengarungi banjir yang tinggi demi mencari pertolongan untuk santri-santri yang kesurupan. Kepasrahannya di tengah keadaan yang serba sulit itu berbuah manis, bahkan lebih. Tidak hanya mendapatkan pertolongan yang dicari untuk para santri, tetapi juga pertolongan untuk keluarganya sendiri. Cerita berjudul Alhamdulillah, Masih Ada Dangdut dan Mi Instan, yang merupakan cerita pendek paling panjang dalam kumpulan ini, menggunakan latar belakang waktu dari zaman sebelum Indonesia merdeka sampai Orde Reformasi. Di sepanjang hidup Slamet Sukro, sang tokoh utama, ia telah berjumpa dan melihat para tokoh besar bangsa dari masa jaya sampai saat kejatuhan mereka. Namun bukan itu inti dari cerita ini. Semasa hidupnya itu, Slamet harus mengalami kesulitan yang tak henti-henti, mencicipi kekayaan hanya sekejap mata sebelum akhirnya kembali miskin dan tak punya apa-apa. Namun ia tetap berpasrah kepada Tuhan dan bersyukur karena ia masih punya grup dangdut dan bisa makan walau hanya mi instan.

Dari sekian cerita pendek yang dihadirkan dalam kumcer ini, yang paling menantang pembaca untuk dapat menyelami rasa keimanan adalah cerita pendek berjudul Telaga Angsa dan Si Denok. Dalam kedua kisah ini Danarto seolah ingin mengonfrontasikan seni dan keindahan dengan moralitas yang menjadi lingkupan ajaran agama di hadapan pembaca. Telaga Angsa menggambarkan tarian balet dengan kostumnya yang ketat hingga “membentuk tubuh”, sementara Si Denok berkisah tentang Bung Karno yang menggemari dan mengoleksi patung-patung serta lukisan wanita telanjang. Yang menjadi pertanyaan pada kedua cerpen ini adalah, apakah dengan mempertontonkan bentuk tubuh di atas panggung dan memajang patung serta lukisan wanita telanjang, lantas kita bukanlah manusia yang bermoral? Apakah memang seni modern bertentangan dengan agama dan moralitas? Atau justru dengan mendalami keindahan seni, kita dapat menghargai dan mensyukuri keindahan dunia ciptaan Tuhan? Dengan membaca kedua cerpen tersebut, pembaca diajak untuk berpikir, tidak sekadar memihak salah satu karakter dengan segala pemikirannya.

Selain moralitas, Danarto juga mengajak pembaca untuk merenungi perkara rezeki dan bencana. Bagi orang pada umumnya, rezeki berarti keberuntungan dan bencana adalah kesialan. Tapi ada berapa orang yang sadar bahwa rezeki bisa jadi cobaan dan bencana mungkin saja sesuatu yang indah? Ada berapa orang yang menganggap kematian justru suatu berkah, sebagaimana narator dalam cerita Jantung Hati? Berapa orang yang mampu melihat bahwa bencana di suatu tempat, bisa jadi rezeki di tempat yang lain seperti yang tersirat dalam Lauk dari Langit?

Spiritualitas memang tampaknya menjadi fokus utama dari kumpulan cerpen Ikan-ikan dari Laut Merah ini, tapi tidak berarti Danarto tidak mengajukan tema lainnya seperti alam, keluarga, peperangan di Timur Tegah, walaupun tetap dibalut dengan narasi absurd yang kadang-kadang berada di luar jangkauan pemahaman pembaca. Absurditas dari sebagian besar narasi tulisan Danarto di buku ini dibarengi dengan gaya berbahasa yang beragam: kadang puitis, kadang biasa saja, kadang penuh humor, kadang juga sendu dan penuh kalimat-kalimat perenungan. Kombinasi ini, pada akhirnya, membuat pembaca serasa mengawang-awang kala menikmati kedelapanbelas cerpen yang disuguhkan, serasa seperti menyelam di lautan yang tak nyata. Akan tetapi, di akhir penyelaman itu pembaca akan mendapatkan sesuatu yang, walaupun juga immateriel, lebih nyata digenggam.

Jika gagasan, latar belakang, serta tokoh-tokoh yang nyata dalam kumpulan cerpen ini dapat diibaratkan sisi fisik dari ajaran agama (pelaksanaan ritual, cara berpakaian, dan sebagainya), maka absurditas dari setiap narasi yang terbentuk bisa dibilang representasi dari spiritualitas yang tak kasat mata. Sesuatu yang hanya bisa diresapi dalam hati, tetapi lebih penting dalam penyatuan diri dengan Sang Pencipta. Saya rasa, menuliskan cerita-cerita pendek dalam kumpulan ini adalah cara penulis untuk menyampaikan pesan ini.

Rating: 4/5

Advertisements