Tag: community

Pengakuan di Hari Jadi

Tidak terasa sudah enam tahun Blogger Buku Indonesia berdiri, dan sudah enam tahun pula saya bergabung menjadi anggota. Sering kali, setiap kali BBI berulang tahun, saya selalu terkenang masa-masa awal komunitas narablog buku ini berdiri, yang juga merupakan masa-masa awal saya bergabung dan hanya mengenal satu-dua orang teman. Dulu di masa-masa awal itu, bisa dibilang komunitas ini sedang aktif-aktifnya: admin Twitter tidak pernah absen dan selalu mencuit ulang tautan resensi/artikel anggota setidaknya di awal/akhir pekan, selalu saja ada kegiatan posting/baca bareng (walaupun saya tidak pernah ikut), dan masih ada event yang namanya Secret Santa di setiap Natal/akhir tahun (meski saya tidak pernah ikut juga). Karena jumlah anggotanya masih sedikit, masing-masing jadi mudah akrab dan sering sekali mengobrol di Twitter, entah apa saja yang diobrolkan. Saat itu (dan sekarang pun masih) saya bukanlah anggota yang aktif mengikuti kegiatan ini-itu ataupun kenal dengan banyak anggota lainnya, tapi saya bisa merasakan atmosfer kedekatan dan keaktifan di tubuh komunitas BBI.
Sekarang keadaan sudah berbeda. Jumlah anggota sudah bertambah banyak, tapi seiring dengan itu bertambah banyak pula anggota yang “menghilang” dari Twitter, admin juga tidak seaktif dulu lagi, banyak yang sudah tidak/jarang aktif di blog buku masing-masing, bahkan ada anggota yang keluar. Jika bicara tentang keluar atau mengundurkan diri dari BBI, terus terang, ini jujur sejujurnya, saya pun beberapa kali terpikir untuk berhenti menjadi anggota komunitas ini. Ada banyak alasan, mulai dari perbedaan pendapat dengan satu maupun hampir semua anggota, merasa bahwa keanggotaan saya di sini tidak ada gunanya, sampai atmosfer yang tidak lagi terasa akrab. Ketika terjadi perbedaan pendapat antara saya dan anggota-anggota yang lain, saya hanya bisa diam dan tidak berani mengungkapkannya pada siapa pun karena seakan-akan semua anggota (paling tidak yang aktif di Twitter dan saya kenal) satu suara dan berlawanan dengan saya. Saya jadi tertekan: saya harus bicara pada siapa? Jika saya buka suara di Twitter, saya takut justru akan memancing perang cuitan, karena memang sudah menjadi tabiat hampir semua warganet bersikap lebih frontal dan galak di media sosial. Saya tertekan dan jadi merasa tidak punya teman. Saya hanya bisa diam dan malah menceritakannya pada sahabat saya yang notabene bukan anggota BBI. Ini terjadi sudah lama sekali, tapi saya masih ingat.

Kadang-kadang saya juga merasa keanggotaan saya di BBI tidak ada gunanya, tidak tahu kenapa. Mungkin karena sayanya yang kurang aktif, mungkin karena kurang kenal banyak anggota, mungkin karena saya merasa bahwa dengan atau tanpa BBI saya tetap bisa menulis resensi di blog saya. Entahlah. Dan kadang pula, ada ganjalan atmosfer yang sudah tidak lagi terasa akrab lantaran banyak anggota yang sudah tidak aktif lagi di Twitter. Kenapa saya tidak pindah saja ke Instagram, Facebook, atau WhatsApp seperti yang lain? Karena saya mencegah diri saya agar tidak melakukan apa yang dilakukan orang lain, alias mengikuti arus.

Lantas, kenapa selama enam tahun ini saya masih bertahan? Apa alasan dan pertimbangan saya? Untuk pertanyaan ini saya juga tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, ini mungkin saja, karena saya menyamakan menjadi anggota BBI dengan ikatan pernikahan. Pernikahan terjadi antara dua orang yang berbeda yang terlahir dari dua orang ibu yang berbeda pula, jadi tidak mungkin seratus persen cocok. Saudara kembar saja bisa berbeda, apalagi anak orang lain? Dalam pernikahan pun kadang-kadang ada rasa hambar di satu titik saking kita sudah terbiasa dengan orang yang ada di samping kita, atau mungkin saking sepasang suami-istri itu jarang bertemu. Tapi pernikahan bukanlah tempat untuk “mencari bahagia”, tapi untuk berkomitmen. Jika tidak siap dengan segala perbedaan dan kehampaan suatu hubungan, memang sebaiknya tidak/tunda dulu menjalin sebuah ikatan.

Yah, mungkin itulah alasan saya tetap berada di komunitas BBI ini: komitmen. Saya sudah ada di sini sejak komunitas ini berdiri, dan saya akan tetap ada di sini sampai komunitas ini tidak ada lagi. Insyaallah. Dan dengan ini, saya ingin mengucapkan selamat hari jadi yang keenam untuk Blogger Buku Indonesia. Bagaimanapun, BBI adalah rumah bagi saya di mana saya bisa “berkumpul” dengan orang-orang yang sehobi dengan saya, yaitu membaca dan menulis. Semoga kita bisa semakin menghargai perbedaan, kembali akrab, dan semakin kuat demi ikut memajukan dunia literasi Indonesia. Perjuangan untuk mengajak orang agar gemar membaca (dan senang menulis) belum berhenti selama statistiknya masih menyedihkan. Saya juga ingin meminta maaf jika selama ini saya sangat pasif, jarang sekali blogwalking, dan tidak mengenal dekat para anggota yang lain. Semoga komunitas kita ini semakin maju! 🙂