Tag: BBIHUT6

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

34135013895_b46a7651dc_oKita hidup di tengah budaya patriarki di mana sering kali perempuan dipandang sebagai obyek seks semata sehingga kekerasan maupun pelecehan seksual terhadap wanita (diam-diam) dianggap wajar saja. Dan jika memang karya sastra merupakan refleksi dari kehidupan nyata, maka sepertinya itulah yang hendak disampaikan Eka Kurniawan dalam novelnya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Dengan mengambil latar belakang masyarakat kelas menengah ke bawah yang gemar kekerasan, buku ini seolah ingin menunjukkan bahwa hal yang dianggap “wajar” ini sesungguhnya justru tidaklah wajar.

Kisah dimulai ketika Ajo Kawir dan sahabatnya, Si Tokek, masih berusia awal belasan tahun. Suatu malam, tanpa sengaja mereka melihat Rona Merah, seorang perempuan gila di kampung mereka, diperkosa dua orang polisi. Akibat rasa terguncang saat menyaksikan peristiwa ini, kemaluan Ajo Kawir, atau yang ia panggil si Burung, jadi tidak bisa ngaceng alias berdiri. Ajo Kawir berusaha keras membangunkan si Burung dari “tidurnya”, mulai dengan cara yang paling menggelikan sampai yang paling menyedihkan. Tapi si Burung tetap tak mau bangun, tidur nyenyak bak seekor beruang kutub yang terlelap di musim dingin dan memimpikan hujan salju. Masalah bertambah runyam bagi Ajo Kawir ketika ia berjumpa dan jatuh cinta pada Iteung, gadis cantik dari sebuah perguruan silat, karena bagaimana mungkin ia dapat membahagiakan seorang gadis dengan kemaluan yang tidak bisa ngaceng? Tahun demi tahun Ajo Kawir lewati dengan menanggung penderitaan ini, sementara satu-satunya cara untuk menuntaskannya adalah dengan menghabisi kedua polisi yang telah memerkosa Rona Merah.

Tidak seperti Cantik Itu Luka maupun Lelaki Harimau yang sangat mengandalkan realisme magis dalam menyampaikan ide ceritanya, novel Eka Kurniawan kali ini lebih berpegang pada realisme. Namun realisme yang maskulin. Maskulin dan sovinis. Hampir di sepanjang jalan cerita terdapat adegan-adegan brutal di mana adu jotos (dan membunuh dengan tangan kosong) adalah cara yang biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah. Akan tetapi, yang paling menonjol di sini adalah kekerasan seksual terhadap perempuan. Hal yang menimpa Ajo Kawir, yang menjadi sorotan dalam novel ini, berawal dari aksi pemerkosaan yang dilakukan oleh dua orang polisi biadab terhadap seorang perempuan gila. Dari sini dapat dilihat bahwa dua orang lelaki, yang berfisik dan bermental lebih kuat dari si perempuan gila, dengan demikian memiliki kuasa lebih, dapat memaksakan kehendak mereka secara semena-mena terhadap wanita yang lebih lemah. Hal nahas serupa juga dialami Iteung di masa kecilnya, ketika ia masih seorang gadis polos dan dilecehkan oleh guru sekaligus wali kelasnya sendiri. Tapi tentu saja tidak ada tempat untuk mengadu. Si perempuan gila hanya diam saja sampai ia mati seusai diperkosa, begitu pula dengan Iteung yang memilih jalannya sendiri untuk menyudahi pelecehan yang dialaminya. Karena, pada umumnya, yang berkuasalah yang akan selalu menang dan yang lemah (baik secara fisik, mental, maupun kedudukan) akan selalu kalah. Maka mengadu kepada siapa pun hanya akan menjadi jalan keluar yang sia-sia.

“Kau pikir perempuan barang, bisa dibeli di Pasar Tanah Abang?”

Namun dengan narasi yang teramat maskulin dan sovinis inilah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas justru mengolok-olok seksisme dan kekerasan seksual terhadap perempuan yang dianggap lazim di masyarakat. Si Burung yang tidur lelap bisa dibilang merupakan kiasan dari sesuatu yang tidak wajar, berlawanan dengan tindak pemerkosaan (sebagai penyebabnya) yang diam-diam dan sering kali dipandang wajar dan sambil lalu. Dan seperti yang disiratkan oleh kisahnya sendiri, ketidakwajaran yang diderita Ajo Kawir hanya akan sembuh jika kewajaran yang dilakukan oleh kedua polisi biadab tersebut dihapuskan secara nyata, bagaimana pun caranya. Tampaknya, bagi Eka Kurniawan, memandang wajar seksisme dan kekerasan seksual terhadap perempuan adalah hal yang konyol dan patut ditertawakan, maka dari itu ia melawan gagasan ini dengan kiasan burung (kemaluan lelaki) yang tertidur. Eka juga melakukan perlawanan dengan menciptakan tokoh Iteung yang kuat baik secara fisik maupun mental, yang mampu melawan lelaki dengan tangannya dan memilih jalannya sendiri dan melakukan apa pun yang dikehendakinya.

Sebagaimana sudah menjadi tipikal Eka Kurniawan, novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas penuh dengan satire dan bernuansa komedi gelap (black humor). Tetapi memang gaya penulisan seperti ini sangat cocok untuk menyampaikan olok-olok yang diinginkan penulis. Namun novel ini juga tak melulu berisi sindiran terhadap budaya patriarki dan masalah sosial, Eka juga mewarnainya dengan guyonan-guyonan segar terutama melalui burung Ajo Kawir yang ia ajak bicara dan mintai pendapat setiap kali ia dihadapkan pada masalah yang rumit. Dan yang paling menarik dari novel ini adalah plotnya yang terlihat seperti tak beraturan, tak memiliki batasan antara masa lalu dan masa kini, pun antara kenyataan dan khayalan. Uniknya, jalan ceritanya mengalir dengan sangat baik sehingga tetap dapat diikuti tanpa kesulitan.

Secara keseluruhan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas bukan hanya sebuah karya yang sepertinya diciptakan memang sengaja untuk mengkritik, tetapi juga merupakan hasil olahan narasi yang ciamik dan bukti dari kelihaian sang penulis dalam bercerita.

Rating: 4/5

Pengakuan di Hari Jadi

Tidak terasa sudah enam tahun Blogger Buku Indonesia berdiri, dan sudah enam tahun pula saya bergabung menjadi anggota. Sering kali, setiap kali BBI berulang tahun, saya selalu terkenang masa-masa awal komunitas narablog buku ini berdiri, yang juga merupakan masa-masa awal saya bergabung dan hanya mengenal satu-dua orang teman. Dulu di masa-masa awal itu, bisa dibilang komunitas ini sedang aktif-aktifnya: admin Twitter tidak pernah absen dan selalu mencuit ulang tautan resensi/artikel anggota setidaknya di awal/akhir pekan, selalu saja ada kegiatan posting/baca bareng (walaupun saya tidak pernah ikut), dan masih ada event yang namanya Secret Santa di setiap Natal/akhir tahun (meski saya tidak pernah ikut juga). Karena jumlah anggotanya masih sedikit, masing-masing jadi mudah akrab dan sering sekali mengobrol di Twitter, entah apa saja yang diobrolkan. Saat itu (dan sekarang pun masih) saya bukanlah anggota yang aktif mengikuti kegiatan ini-itu ataupun kenal dengan banyak anggota lainnya, tapi saya bisa merasakan atmosfer kedekatan dan keaktifan di tubuh komunitas BBI.
Sekarang keadaan sudah berbeda. Jumlah anggota sudah bertambah banyak, tapi seiring dengan itu bertambah banyak pula anggota yang “menghilang” dari Twitter, admin juga tidak seaktif dulu lagi, banyak yang sudah tidak/jarang aktif di blog buku masing-masing, bahkan ada anggota yang keluar. Jika bicara tentang keluar atau mengundurkan diri dari BBI, terus terang, ini jujur sejujurnya, saya pun beberapa kali terpikir untuk berhenti menjadi anggota komunitas ini. Ada banyak alasan, mulai dari perbedaan pendapat dengan satu maupun hampir semua anggota, merasa bahwa keanggotaan saya di sini tidak ada gunanya, sampai atmosfer yang tidak lagi terasa akrab. Ketika terjadi perbedaan pendapat antara saya dan anggota-anggota yang lain, saya hanya bisa diam dan tidak berani mengungkapkannya pada siapa pun karena seakan-akan semua anggota (paling tidak yang aktif di Twitter dan saya kenal) satu suara dan berlawanan dengan saya. Saya jadi tertekan: saya harus bicara pada siapa? Jika saya buka suara di Twitter, saya takut justru akan memancing perang cuitan, karena memang sudah menjadi tabiat hampir semua warganet bersikap lebih frontal dan galak di media sosial. Saya tertekan dan jadi merasa tidak punya teman. Saya hanya bisa diam dan malah menceritakannya pada sahabat saya yang notabene bukan anggota BBI. Ini terjadi sudah lama sekali, tapi saya masih ingat.

Kadang-kadang saya juga merasa keanggotaan saya di BBI tidak ada gunanya, tidak tahu kenapa. Mungkin karena sayanya yang kurang aktif, mungkin karena kurang kenal banyak anggota, mungkin karena saya merasa bahwa dengan atau tanpa BBI saya tetap bisa menulis resensi di blog saya. Entahlah. Dan kadang pula, ada ganjalan atmosfer yang sudah tidak lagi terasa akrab lantaran banyak anggota yang sudah tidak aktif lagi di Twitter. Kenapa saya tidak pindah saja ke Instagram, Facebook, atau WhatsApp seperti yang lain? Karena saya mencegah diri saya agar tidak melakukan apa yang dilakukan orang lain, alias mengikuti arus.

Lantas, kenapa selama enam tahun ini saya masih bertahan? Apa alasan dan pertimbangan saya? Untuk pertanyaan ini saya juga tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, ini mungkin saja, karena saya menyamakan menjadi anggota BBI dengan ikatan pernikahan. Pernikahan terjadi antara dua orang yang berbeda yang terlahir dari dua orang ibu yang berbeda pula, jadi tidak mungkin seratus persen cocok. Saudara kembar saja bisa berbeda, apalagi anak orang lain? Dalam pernikahan pun kadang-kadang ada rasa hambar di satu titik saking kita sudah terbiasa dengan orang yang ada di samping kita, atau mungkin saking sepasang suami-istri itu jarang bertemu. Tapi pernikahan bukanlah tempat untuk “mencari bahagia”, tapi untuk berkomitmen. Jika tidak siap dengan segala perbedaan dan kehampaan suatu hubungan, memang sebaiknya tidak/tunda dulu menjalin sebuah ikatan.

Yah, mungkin itulah alasan saya tetap berada di komunitas BBI ini: komitmen. Saya sudah ada di sini sejak komunitas ini berdiri, dan saya akan tetap ada di sini sampai komunitas ini tidak ada lagi. Insyaallah. Dan dengan ini, saya ingin mengucapkan selamat hari jadi yang keenam untuk Blogger Buku Indonesia. Bagaimanapun, BBI adalah rumah bagi saya di mana saya bisa “berkumpul” dengan orang-orang yang sehobi dengan saya, yaitu membaca dan menulis. Semoga kita bisa semakin menghargai perbedaan, kembali akrab, dan semakin kuat demi ikut memajukan dunia literasi Indonesia. Perjuangan untuk mengajak orang agar gemar membaca (dan senang menulis) belum berhenti selama statistiknya masih menyedihkan. Saya juga ingin meminta maaf jika selama ini saya sangat pasif, jarang sekali blogwalking, dan tidak mengenal dekat para anggota yang lain. Semoga komunitas kita ini semakin maju! 🙂

I Don’t Give a D***

I’ve wanted to put this nagging thing on my mind into words for so long and blog it up here but found myself not having the heart to do it. Now, I’ll be doing it for a thousand words or so. Watch out, you may not like it.

People have favorite writers, so do I. But most of the time they have “favorite people” whose works they just happen to read, or love to read. These “favorite people” have some favorable qualities or likable personalities that make readers adore them even more than their works. These qualities/personalities can be certain charming characters (inspiring, wise, sympathetic, or simply having a heart of gold), or they can be their sex/gender (“I read this book because the author is a woman” doesn’t seem to be a rare expression these days). I’m not accusing people of not having literary taste or something, but sometimes you just can’t help it, can you? Because when you think the books these “favorite people” produce are so great and inspiring you will go to the bookstore and spend what little money you have to buy them and read them enthusiastically till midnight, but when you finally discover that these “favorite people” are a******* (or that they use pseudonyms and are actually not the person you think they are) you will have a doubt and eventually stop reading their books no matter how marvelous they are. You may think that I’m merely talking nonsense here, but I was, and am, a witness to this nonsense.

Years ago, at least that I remember, a best-selling author had just released the English edition of his book under a huge literary publisher in the United States. After quite some time, a blogger put his doubts on his blog over the nature of the release, saying loud and clear that actually the book was published by a small press and not a big player. He also severely criticized the many changes occured in the translated version, pointing out that the US edition might have not been translated from the original manuscript but was merely an adaptation. The author went mad at the “accusation”, and at the blogger, too, of course, and called his lawyer straight away to sue said blogger. It blew up and went viral on the Internet. Everyone on Twitter were condemning him mercilessly and ceaselessly, calling him arrogant and some other names and swore to God that they would never, ever again read his books. I remember feeling disappointed. I understood that it was not the best attitude of an author, but I have to say that it was not the best attitude of a reader, either. People left him, but I stayed. I stayed for the sake of his work. I stayed because I knew he was not the only one to make such a horrible mistake, or the only one to try keeping a good image but failed. I stayed because I knew being a writer in the book industry is a complicated thing. Really, sometimes I wonder what people’s reactions will be if the gossip that J.K. Rowling is actually not J.K. Rowling is true. Will they leave her and promise to never read her books anymore? And what about those senior male writers they said always trying to get into young female writers’ pants? If this rumor proves to be true, and we find out who those male writers are, will we leave them, too?

Writers are not gods, they make mistakes and they sin. If you look at what they are more than you do what they write, you’ll only tear your heart apart because all human beings are sinful, we are all sinful. So I don’t think we should read books for the authors’ “outer” image, or for their sex/gender, for that matter. I know the campaign to read more female writers today is all about making balance in the book industry, since the literary world has been indeed ruled by men for so very long. I am a woman and I can understand the need to do so. But I don’t want to be a gender-bound reader. I want to read a book only if it’s worth reading. What if a book, written by a female writer, is badly written? People hail women writers but they diss E.L. James, and every romance writer there is in the book industry, for they think romances they produce are a bunch of crap. If you really think you should read more female writers, then you should read E.L. James, not despising her on every article you write. So, I do think we should appreciate writers more for their capabilities than their sex/gender, if this is truly about “gender equality”.

You may think I’ve gone out of my mind, but it’s just not in my nature to judge a book by its author. I don’t care if it’s a he or a she, and I absolutely don’t care if he/she is a complete a****** or a wiseguy giving you some spiritual enlightenment on social media. Most of my favorite writers are men and one of them (yes, that best-selling author) was damned by almost the entire readership for his incapability to put his arrogance in the right place. From what I read on online newspapers and literary magazines, I could tell that Orhan Pamuk is not a charming person, but I love his books because they can equally reflect the social/cultural issues in my country; and I do not adore Sapardi Djoko Damono because we share the same cultural background (as Javanese people coming originally from Solo) but because we share the same opinion about everything and anything and have the same sense of humor, too, as reflected in his fiction works. I like Isabel Allende not because she is a woman, but because her Tripartite are a bunch of masterpieces and could really speak to me. In short, I don’t give a d***. For me it’s their works that matter, not their personalities. They can go to hell for whatever reason and I will still read their books if those books are truly great and inspiring. As E.M. Forster put it, “I am more interested in works than authors.”

I realize that it’s totally pointless to address this issue on my blog. But I just want people to know. Well, whoever those who actually read my blog. And I do not wish for anything, for I know everyone’s entitled to their own opinion. And this is mine.