Tag: BBI

Pengakuan di Hari Jadi

Tidak terasa sudah enam tahun Blogger Buku Indonesia berdiri, dan sudah enam tahun pula saya bergabung menjadi anggota. Sering kali, setiap kali BBI berulang tahun, saya selalu terkenang masa-masa awal komunitas narablog buku ini berdiri, yang juga merupakan masa-masa awal saya bergabung dan hanya mengenal satu-dua orang teman. Dulu di masa-masa awal itu, bisa dibilang komunitas ini sedang aktif-aktifnya: admin Twitter tidak pernah absen dan selalu mencuit ulang tautan resensi/artikel anggota setidaknya di awal/akhir pekan, selalu saja ada kegiatan posting/baca bareng (walaupun saya tidak pernah ikut), dan masih ada event yang namanya Secret Santa di setiap Natal/akhir tahun (meski saya tidak pernah ikut juga). Karena jumlah anggotanya masih sedikit, masing-masing jadi mudah akrab dan sering sekali mengobrol di Twitter, entah apa saja yang diobrolkan. Saat itu (dan sekarang pun masih) saya bukanlah anggota yang aktif mengikuti kegiatan ini-itu ataupun kenal dengan banyak anggota lainnya, tapi saya bisa merasakan atmosfer kedekatan dan keaktifan di tubuh komunitas BBI.
Sekarang keadaan sudah berbeda. Jumlah anggota sudah bertambah banyak, tapi seiring dengan itu bertambah banyak pula anggota yang “menghilang” dari Twitter, admin juga tidak seaktif dulu lagi, banyak yang sudah tidak/jarang aktif di blog buku masing-masing, bahkan ada anggota yang keluar. Jika bicara tentang keluar atau mengundurkan diri dari BBI, terus terang, ini jujur sejujurnya, saya pun beberapa kali terpikir untuk berhenti menjadi anggota komunitas ini. Ada banyak alasan, mulai dari perbedaan pendapat dengan satu maupun hampir semua anggota, merasa bahwa keanggotaan saya di sini tidak ada gunanya, sampai atmosfer yang tidak lagi terasa akrab. Ketika terjadi perbedaan pendapat antara saya dan anggota-anggota yang lain, saya hanya bisa diam dan tidak berani mengungkapkannya pada siapa pun karena seakan-akan semua anggota (paling tidak yang aktif di Twitter dan saya kenal) satu suara dan berlawanan dengan saya. Saya jadi tertekan: saya harus bicara pada siapa? Jika saya buka suara di Twitter, saya takut justru akan memancing perang cuitan, karena memang sudah menjadi tabiat hampir semua warganet bersikap lebih frontal dan galak di media sosial. Saya tertekan dan jadi merasa tidak punya teman. Saya hanya bisa diam dan malah menceritakannya pada sahabat saya yang notabene bukan anggota BBI. Ini terjadi sudah lama sekali, tapi saya masih ingat.

Kadang-kadang saya juga merasa keanggotaan saya di BBI tidak ada gunanya, tidak tahu kenapa. Mungkin karena sayanya yang kurang aktif, mungkin karena kurang kenal banyak anggota, mungkin karena saya merasa bahwa dengan atau tanpa BBI saya tetap bisa menulis resensi di blog saya. Entahlah. Dan kadang pula, ada ganjalan atmosfer yang sudah tidak lagi terasa akrab lantaran banyak anggota yang sudah tidak aktif lagi di Twitter. Kenapa saya tidak pindah saja ke Instagram, Facebook, atau WhatsApp seperti yang lain? Karena saya mencegah diri saya agar tidak melakukan apa yang dilakukan orang lain, alias mengikuti arus.

Lantas, kenapa selama enam tahun ini saya masih bertahan? Apa alasan dan pertimbangan saya? Untuk pertanyaan ini saya juga tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, ini mungkin saja, karena saya menyamakan menjadi anggota BBI dengan ikatan pernikahan. Pernikahan terjadi antara dua orang yang berbeda yang terlahir dari dua orang ibu yang berbeda pula, jadi tidak mungkin seratus persen cocok. Saudara kembar saja bisa berbeda, apalagi anak orang lain? Dalam pernikahan pun kadang-kadang ada rasa hambar di satu titik saking kita sudah terbiasa dengan orang yang ada di samping kita, atau mungkin saking sepasang suami-istri itu jarang bertemu. Tapi pernikahan bukanlah tempat untuk “mencari bahagia”, tapi untuk berkomitmen. Jika tidak siap dengan segala perbedaan dan kehampaan suatu hubungan, memang sebaiknya tidak/tunda dulu menjalin sebuah ikatan.

Yah, mungkin itulah alasan saya tetap berada di komunitas BBI ini: komitmen. Saya sudah ada di sini sejak komunitas ini berdiri, dan saya akan tetap ada di sini sampai komunitas ini tidak ada lagi. Insyaallah. Dan dengan ini, saya ingin mengucapkan selamat hari jadi yang keenam untuk Blogger Buku Indonesia. Bagaimanapun, BBI adalah rumah bagi saya di mana saya bisa “berkumpul” dengan orang-orang yang sehobi dengan saya, yaitu membaca dan menulis. Semoga kita bisa semakin menghargai perbedaan, kembali akrab, dan semakin kuat demi ikut memajukan dunia literasi Indonesia. Perjuangan untuk mengajak orang agar gemar membaca (dan senang menulis) belum berhenti selama statistiknya masih menyedihkan. Saya juga ingin meminta maaf jika selama ini saya sangat pasif, jarang sekali blogwalking, dan tidak mengenal dekat para anggota yang lain. Semoga komunitas kita ini semakin maju! 🙂

Advertisements

I Don’t Give a D***

I’ve wanted to put this nagging thing on my mind into words for so long and blog it up here but found myself not having the heart to do it. Now, I’ll be doing it for a thousand words or so. Watch out, you may not like it.

People have favorite writers, so do I. But most of the time they have “favorite people” whose works they just happen to read, or love to read. These “favorite people” have some favorable qualities or likable personalities that make readers adore them even more than their works. These qualities/personalities can be certain charming characters (inspiring, wise, sympathetic, or simply having a heart of gold), or they can be their sex/gender (“I read this book because the author is a woman” doesn’t seem to be a rare expression these days). I’m not accusing people of not having literary taste or something, but sometimes you just can’t help it, can you? Because when you think the books these “favorite people” produce are so great and inspiring you will go to the bookstore and spend what little money you have to buy them and read them enthusiastically till midnight, but when you finally discover that these “favorite people” are a******* (or that they use pseudonyms and are actually not the person you think they are) you will have a doubt and eventually stop reading their books no matter how marvelous they are. You may think that I’m merely talking nonsense here, but I was, and am, a witness to this nonsense.

Years ago, at least that I remember, a best-selling author had just released the English edition of his book under a huge literary publisher in the United States. After quite some time, a blogger put his doubts on his blog over the nature of the release, saying loud and clear that actually the book was published by a small press and not a big player. He also severely criticized the many changes occured in the translated version, pointing out that the US edition might have not been translated from the original manuscript but was merely an adaptation. The author went mad at the “accusation”, and at the blogger, too, of course, and called his lawyer straight away to sue said blogger. It blew up and went viral on the Internet. Everyone on Twitter were condemning him mercilessly and ceaselessly, calling him arrogant and some other names and swore to God that they would never, ever again read his books. I remember feeling disappointed. I understood that it was not the best attitude of an author, but I have to say that it was not the best attitude of a reader, either. People left him, but I stayed. I stayed for the sake of his work. I stayed because I knew he was not the only one to make such a horrible mistake, or the only one to try keeping a good image but failed. I stayed because I knew being a writer in the book industry is a complicated thing. Really, sometimes I wonder what people’s reactions will be if the gossip that J.K. Rowling is actually not J.K. Rowling is true. Will they leave her and promise to never read her books anymore? And what about those senior male writers they said always trying to get into young female writers’ pants? If this rumor proves to be true, and we find out who those male writers are, will we leave them, too?

Writers are not gods, they make mistakes and they sin. If you look at what they are more than you do what they write, you’ll only tear your heart apart because all human beings are sinful, we are all sinful. So I don’t think we should read books for the authors’ “outer” image, or for their sex/gender, for that matter. I know the campaign to read more female writers today is all about making balance in the book industry, since the literary world has been indeed ruled by men for so very long. I am a woman and I can understand the need to do so. But I don’t want to be a gender-bound reader. I want to read a book only if it’s worth reading. What if a book, written by a female writer, is badly written? People hail women writers but they diss E.L. James, and every romance writer there is in the book industry, for they think romances they produce are a bunch of crap. If you really think you should read more female writers, then you should read E.L. James, not despising her on every article you write. So, I do think we should appreciate writers more for their capabilities than their sex/gender, if this is truly about “gender equality”.

You may think I’ve gone out of my mind, but it’s just not in my nature to judge a book by its author. I don’t care if it’s a he or a she, and I absolutely don’t care if he/she is a complete a****** or a wiseguy giving you some spiritual enlightenment on social media. Most of my favorite writers are men and one of them (yes, that best-selling author) was damned by almost the entire readership for his incapability to put his arrogance in the right place. From what I read on online newspapers and literary magazines, I could tell that Orhan Pamuk is not a charming person, but I love his books because they can equally reflect the social/cultural issues in my country; and I do not adore Sapardi Djoko Damono because we share the same cultural background (as Javanese people coming originally from Solo) but because we share the same opinion about everything and anything and have the same sense of humor, too, as reflected in his fiction works. I like Isabel Allende not because she is a woman, but because her Tripartite are a bunch of masterpieces and could really speak to me. In short, I don’t give a d***. For me it’s their works that matter, not their personalities. They can go to hell for whatever reason and I will still read their books if those books are truly great and inspiring. As E.M. Forster put it, “I am more interested in works than authors.”

I realize that it’s totally pointless to address this issue on my blog. But I just want people to know. Well, whoever those who actually read my blog. And I do not wish for anything, for I know everyone’s entitled to their own opinion. And this is mine.

Workshop Penulisan Resensi Bersama BBI

Hari Minggu lalu, tanggal 26 Februari 2017, salah seorang teman dari Blogger Buku IndonesiaBZee, mengajak saya untuk mengadakan semacam workshop penulisan resensi buku untuk anak-anak usia sekolah (SD sampai SMA) di perpustakaan lokal langganan kami, Perpustakaan Ganesa. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan. Kenapa tidak? Saya melihat ada banyak manfaat dari acara ini, selain anak-anak sekolah bisa belajar menulis resensi buku, acara ini sedikit banyak juga bisa melatih mereka untuk menulis, menulis apa pun itu.

Untuk materinya, BZee meminjam materi yang dulu pernah digunakan saat Workshop Menulis Resensi dari Hati dari Mas Helvry, kemudian kami sunting dan beri sedikit tambahan demi kejelasan dan kemudahan anak-anak. Selama beberapa hari kami melakukan persiapan. Yang dimaksud dengan “persiapan” di sini adalah saling berkirim surel dan SMS demi mematangkan konsep acara dan materi presentasi. Di hari H-nya, awalnya kami melihat ada banyak yang mendaftar, tapi ternyata yang benar-benar datang lebih sedikit jumlahnya dari yang tertera pada kertas pendaftaran. Tapi tak apa, yang penting adalah antusiasme dari mereka yang benar-benar hadir dan mengikuti acara kami.

Maaf, nama acara sama tulisan di background-nya beda 😀

Setelah acara dibuka oleh pihak Ganesa, BZee langsung memulai dengan menyapa anak-anak dan bertanya apakah mereka pernah mendengar yang namanya resensi. BZee kemudian menjelaskan, dengan bantuan silde PowerPoint yang sudah dibuat sebelumnya, mengenai apa itu resensi dan apa bedanya dengan sinopsis. Penjelasan BZee dilanjutkan dengan alasan mengapa kita menulis resensi, terutama setelah kita selesai membaca sebuah buku. Ada empat poin yang kami tekankan, yaitu untuk melatih kreativitas terutama dalam menulis, memaknai dan menilai buku yang sudah dibaca, dan terakhir untuk merekam buku apa saja yang sudah kita baca. Kalau soal ini, teman-teman narablog pasti juga sudah tahu :). Selanjutnya, saya menjelaskan bagian apa saja yang diulas dalam sebuah resensi (kami bedakan untuk resensi buku fiksi dan nonfiksi), struktur sebuah resensi, media tempat menulis resensi (media massa dan pribadi), saran-saran dalam menulis resensi, dan apa saja yang harus dihindari ketika kita menulis resensi. Setelah saya selesai, BZee memberikan sedikit tambahan dan contoh demi menambal penjelasan saya.

Nah, yang menarik dari acara ini adalah kami juga mengadakan praktik langsung menulis resensi buku di tempat. BZee menyediakan kertas dan pulpen bagi anak-anak yang ikut serta, dan mereka pun kami ajak untuk menuliskan resensi dari buku yang mereka bawa atau yang sudah selesai mereka baca di rumah. Waktu yang kami berikan kira-kira setengah jam saja (karena acaranya sudah molor sekali :p), tetapi kami juga tidak menuntut mereka untuk menulis resensi yang utuh dan bagus. Selain karena keterbatasan waktu, anak-anak yang ikut bisa dibilang masih sangat awam dalam menulis resensi, jadi tidak adil rasanya kalau kami menuntut hasil yang baik dan sempurna. Di tengah-tengah menulis itu, banyak dari mereka yang maju ke depan dan bertanya, “Gimana ini, Mbak?”, atau “Ini bener ga, Mbak?”. Ada juga adik salah seorang peserta yang entah kenapa, mungkin karena saking aktifnya, dia suka maju ke depan cuma buat ngegodain saya sama BZee, hahaha. Yah, anggap saja itu hiburan selingan, ya :D.

Nah, kembali ke praktik menulis resensi. Setelah kami melihat dan menilai satu demi satu hasil tulisan peserta, saya bisa menyimpulkan satu hal: ternyata rata-rata dari mereka masih belum bisa sepenuhnya membedakan antara sinopsis alias ringkasan cerita dengan resensi yang titik beratnya adalah pembahasan dan penilaian terhadap buku yang dibaca. Ada beberapa anak yang sudah bisa menuliskan kekurangan dan kelebihan dari buku yang mereka baca, tapi hanya sebatas pada menuliskan apa yang bagus dan apa yang tidak bagus saja, tanpa memberikan penjabaran lebih detail mengenai mengapa mereka menganggap hal itu bagus atau tidak bagus. Intinya, mereka masih belum bisa memaknai dan menilai sebuah buku. Yah, semoga saja kelak, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia mereka, mereka bisa lebih pintar memaknai dan menilai buku-buku yang mereka baca, dan bisa menulis resensi dengan lebih baik lagi.

Di akhir acara BZee memberikan hadiah bagi tiga anak dengan resensi terbaik (versi awam, tentunya :D), sedangkan saya memberikan “wejangan” agar mereka tetap berlatih menulis resensi supaya bisa semakin mahir ke depannya. Bagi yang belum dapat hadiah, tidak berarti karya mereka buruk. Mereka hanya kurang dalam satu dua hal dan mesti terus berlatih untuk menambal kekurangan mereka.

Sebagai tambahan, saya ingin mengungkapkan rasa bahagia saya hari Minggu lalu di sini. Karena saya sangat cinta dunia tulis-menulis sejak kecil, saya senang sekali waktu BZee bertanya kepada anak-anak yang ikut serta kenapa mereka mau mengikuti acara kami dan kemudian beberapa dari mereka menjawab, “Karena suka nulis.” Saya jadi terharu. Dan salah satu pemenang hadiah dari kami, yang tulisannya saya nilai, sangat menarik perhatian saya karena untuk ukuran anak SD yang masih kecil sekali, hasil tulisannya sangat luar biasa. Memang, resensi karyanya belum utuh dan belum sempurna, tapi tulisannya sangat mulus dan lancar, seolah-olah dia sudah sangat terbiasa menulis. Belakangan kami berdua baru tahu kalau ternyata dulu dia pernah menang lomba menulis sinopsis di tempat yang sama.

Nah, anak-anak seperti ini tentunya memerlukan bimbingan lebih dari guru dan orangtua mereka masing-masing agar kelak hasrat dan kemampuan menulis mereka semakin tajam dan berkembang. Saya berharap mereka tidak berhenti sampai di sini, saya berharap mereka akan terus banyak membaca dan aktif menulis karena saya yakin dengan begitu insyaallah mereka akan punya masa depan yang cerah, terutama di dunia literasi.

Saya ucapkan terima kasih kepada BZee yang sudah mengajak saya mengadakan workshop menulis resensi ini. Walaupun hanya acara “kecil-kecilan”, tapi menurut saya acara ini penting sekali dan saya merasa terhormat bisa ikut ambil bagian dan “berbagi ilmu”. Saya juga ucapkan terima kasih kepada Perpustakaan Ganesa yang sudah menyediakan tempat dan perlengkapan untuk presentasi bagi kami berdua sehingga workshop dapat berjalan dengan lancar :).

Bacaan Kala Liburan (di Dalam Gua)

[BBI – Posting Bareng Juli 2016]

Seperti yang sudah saya beberkan di artikel posbar sebelumnya, saya tidak pernah pergi ke mana-mana. Beberapa tahun belakangan ini, libur tidak libur, saya hanya mendekam di dalam gua (baca: rumah saya). Begitu pun dengan kesempatan “liburan” Hari Raya Idulfitri tahun ini. Lagi pula, hari-hari saya tidak terbagi menjadi “hari kerja dan hari libur”, tetapi “hari sibuk dan hari menganggur”. Maklum, pekerja lepas. Dan sudah sejak bulan April saya menganggur, jadi sebenarnya bisa dibilang saya sudah “liburan” selama tiga bulan terhitung hingga bulan Juni. Tapi karena yang kita bicarakan di posbar kali ini adalah “libur Lebaran” di bulan Juli, dan yang harus diresensi adalah buku-buku yang dibaca di sepanjang bulan Juli ini, maka artikel posbar ini hanya akan memaparkan daftar buku-buku yang saya baca dan resensi di bulan Juli 2016.

Nah, berikut ini adalah buku-buku yang rencananya akan saya baca sepanjang bulan Juli ini (bisa jadi bertambah jika masa menganggur saya belum berakhir dan saya punya waktu untuk membaca lebih banyak buku):

  1. Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi – M. Aan Mansyur (tautan teperbarui)
  2. Go Set A Watchman – Harper Lee – Harper Lee (tautan teperbarui)

Sementara itu dulu, kita lihat bagaimana ke depannya nanti. Untuk buku Melihat Api Bekerja, saya membacanya di aplikasi iJakarta. Sedangkan untuk buku Go Set A Watchman, saya punya buku fisiknya. Untuk fotonya nanti, mungkin nggak akan terkesan unik dan menarik ala bookstagram, tapi yang penting ada lah dan latar belakangnya di dalam gua rumah saya saja (di mana lagi?).

Sekian dulu artikel posbar kali ini. Nah, bagaimana dengan kalian? Buku apa saja yang kalian baca saat libur lebaran?

Banner Posbar 2016 kecilNote: Artikel ini diunggah sebagai bagian dari posbar #BBIHoliday Bulan Juli 2016.

Membaca: Jalan Menuju Roma

[BBI – Posting Bareng Juni 2016]

pic-posbar-juniSaya tidak pernah bepergian ke mana-mana. Saya memang pernah pergi ke luar kota, kadang-kadang, untuk urusan keluarga atau sekadar jalan-jalan. Tapi itu dulu. Rasanya sudah lama sekali saya tidak meninggalkan kota tempat saya tinggal ini. Setiap kali ada teman yang berkesempatan untuk pergi ke luar negeri (entah untuk melanjutkan sekolah, bekerja, atau hanya berwisata), saya jadi iri setengah mati. Sejak dulu cita-cita saya adalah menginjakkan kaki di tanah asing, di tempat-tempat yang hanya bisa saya lihat di televisi atau di lini masa Twitter. Saya sangat ingin pergi dari sini, tapi apa daya? Mungkin Tuhan tidak (atau belum?) mengizinkan. Maka dari itu saya sering menjuluki diri saya sendiri manusia gua.

Lalu, apa hubungan semua itu dengan pengakuan saya sebagai seorang pembaca? Ada, dan kaitannya sangat erat. Harus saya akui di sini bahwa sebenarnya, saya tidak suka membaca. Ini jujur sejujur-jujurnya. Daripada membaca saya lebih suka mendengarkan musik, atau menonton film. Lagi pula, sejak kecil saya lebih suka menulis daripada membaca. Saya sangat cinta menulis. Entah ada apa pada kegiatan menulis yang membuat saya sangat tertarik dan dapat merasa terserap ke dalamnya. Pokoknya saya amat sangat suka menulis sekali. Entah itu puisi, cerpen, novel, buku harian, atau sekadar resensi buku. Isi pikiran saya yang tidak pernah tenang ini selalu menuntut untuk dikeluarkan dalam bentuk tulisan. Itu saja intinya.

Sampai suatu saat saya menyadari bahwa tanpa membaca, saya tidak akan menjadi orang yang pintar. Ya, saya memang selalu bilang kalau saya mulai “senang” membaca sejak duduk di bangku SMA. Tapi pada saat itu saya hanya menganggap membaca sebagai “alat” untuk mendekatkan diri saya dengan dunia menulis. Tidak lebih. Dan kebetulan novel-novel yang saya baca waktu itu sangat relevan dengan kegalauan remaja saya ^_^. Yang menyadarkan saya, benar-benar menyadarkan saya, adalah ketika saya mulai kuliah. Di universitas, saya melihat dunia yang lebih besar, ilmu yang lebih banyak, dan orang-orang yang jauh lebih pintar dan berpengetahuan lebih luas daripada saya. Lama-kelamaan saya jadi minder: merasa bahwa diri ini bodoh sekali. Saya ingin jadi seperti mereka, karena saya tahu bahwa ada satu bagian dalam diri saya yang berambisi untuk menjadi pintar. Dan saya tahu, membaca adalah jalan utamanya. Kemudian saya pun mulai suka ke perpustakaan, memaksakan diri membaca koran (walaupun hanya beberapa rubrik), dan sering menyewa buku di persewaan buku/komik di belakang kampus saya (bagi yang satu alma mater dengan saya, pasti tahu di mana letak persewaan itu dulu). Intinya, saya menggenjot diri saya untuk lebih banyak membaca.

Nah, semakin kemari, saya jadi semakin sadar bahwa saya sudah tertinggal jauh. Sejak bergabung dengan komunitas GRI dan BBI, saya jadi “melek” bahwa ternyata bacaan orang lain sudah luar biasa banyaknya. Saya ini bisa dibilang hanya termasuk kelas teri. Saya jadi merasa ciut. Apalagi setelah berkenalan dengan blogger-blogger luar, yang bagi mereka membaca buku sudah seperti makan nasi bagi kita. Saya jadi semakin ciut, makin merasa bodoh. Tetapi segi positifnya adalah, semakin bodoh saya merasa, semakin getol saya membaca.

Hubungannya dengan pembukaan saya tadi? Nah, walaupun bacaan saya masih sangat sedikit (disebabkan akses yang masih agak sulit, daya baca saya yang masih lemah alias tidak bisa membaca lama-lama maupun cepat, dan kesibukan yang kadang-kadang membuat saya tidak sempat membaca sama sekali), manfaatnya sudah mulai terasa. Saya jadi tahu lebih banyak hal, “melihat” lebih banyak tempat. Jika ada yang bilang kalau membaca buku sama dengan bepergian ke mana-mana, saya setuju sekali. Dengan membaca, saya yang manusia gua ini serasa seperti berkunjung ke tempat-tempat di luar sana tanpa harus meninggalkan gua tempat saya tinggal. Dengan membaca, saya jadi tahu tentang budaya lain, watak masyarakat lain, dan sudut pandang orang lain. Dengan membaca, saya jadi “mengenal” negara-negara lain seperti Jepang, China, Britania Raya, Amerika, India, Italia, Iran, Afghanistan, Pakistan, Chile dan Turki, negeri impian saya. Hanya dengan membaca Istanbul, memoarnya Orhan Pamuk, saya merasa seperti sudah pernah ke sana (walaupun tetap, impian saya adalah benar-benar pergi ke sana). Intinya, dengan membaca saya jadi tahu lebih banyak dan melihat lebih banyak. Saya mungkin masih tetap manusia gua, tapi paling tidak sudah bukan katak dalam tempurung.

Jadi, inilah pengakuan saya: saya tidak suka membaca, tapi saya butuh membaca. Saya menggemari kegiatan membaca karena saya ingin keluar dari batas-batas gua tempat tinggal saya. Saya gemar membaca karena saya ingin pintar, ingin tahu banyak hal dan menjadi seseorang yang lebih baik. Saya gemar membaca karena saya tahu, membaca adalah satu-satunya jalan saya menuju Roma.

Banner Posbar 2016 kecilNote: Artikel ini diunggah sebagai bagian dari posbar #BBIBookishConfession Bulan Juni 2016.

Happy Happy B’day, Bebi!

logobbiWARNING: postingan ini setengahnya hanya bercanda, jadi mungkin ga perlu terlalu dianggap serius :DDD

SELAMAT ULANG TAHUN BLOGGER BUKU INDONESIA YANG KE-4!!!

Saya tidak akan berbasa-basi terlalu lama. Saya hanya akan mengucapkan semoga komunitas baca (dan menulis) ini kelak bisa lebih berkembang lagi, bukan hanya menjadi bagian dari perkembangan minat baca dan industri buku di Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari perkembangan dunia kepenulisan kreatif di mana para penulis (dengan membaca resensi para reviewer, baik ataupun buruk) dapat lebih meningkatkan kualitas tulisannya. Jadi bisa dibilang, semoga kelak komunitas Blogger Buku Indonesia bisa benar-benar ikut andil dalam perkembangan dunia buku baik dari segi konsumen dan produsen.

Emm… kalau ditanya perubahan apa yang saya rasakan setelah jadi anggota BBI… Yah, kalau hanya “tambah teman”, atau “tambah tahu banyak tentang buku”, atau “dapat rekomendasi lebih tentang berbagai genre buku” sih kayaknya klise ya, standar aja gitu. Cuma, emang belakangan ini saya dapat “sesuatu yang lebih” dari menjadi anggota BBI. Say… saya jadi punya tebengan baru (lirik Mbak Danee Ollie ;p). Terakhir kali saya punya tebengan waktu zaman kuliah dulu. Saya ini emang hobi memanfaatkan teman yang punya motor, apalagi buat pergi ke tempat-tempat yang tidak terjangkau (seperti rumahnya Alvina) :D. Jadi lumayan lah, sekarang dapat tebengan baru, LOL.

Nah, kesibukan BBI divisi Danus akhir-akhir ini juga membuat saya jadi kepikiran buat “memaksa” BZee mendirikan usaha pengepakan barang bersama saya (dengan nama BZee and Co.), lumayan lah buat bertahan hidup kalau kelak saya kehilangan profesi saya (eh, tapi jangan sampe deh!). Tapi sayangnya, BZee malah bersikeras pengen mendirikan usaha penerbitan buku-buku klasik. Haiiihhh… ya sudah lah. Mungkin kelak kalau Bzee beneran buka penerbitan buku-buku klasik, dia mau mempekerjakan saya (walaupun harus jadi tukang ngepak lagi, LOL).

Yah, intinya adalah, dengan bergabung komunitas BBI, saya jadi punya pengalaman lebih. Dari dari segi buku, mau non-buku (seperti pengalaman di atas :p). Semoga BBI tetap dan semakin jaya. Maaf kalau selama ini saya hanya bisa jadi seorang anggota pasif. Nggak pernah bantuin apa-apa, nggak pernah urun apa-apa, nggak pernah ikutan event apa-apa, nggak pernah ikutan posting bareng *heuheuheu*. Maklum, saya ini orangnya serba terbatas. Tapi yang jelas, insya Allah saya akan terus membaca dan menulis resensi.

Terima kasih, BBI :)))

Liebster Blog Award 2014

5a7b2-liebsteraaward

Halo, halo 🙂 Pakai bahasa Indonesia saja, ya? Aku lagi ribet sendiri nih, jadi nggak sempet bikin postingan ini dalam dua bahasa (Inggris dan Indonesia) seperti tahun lalu waktu kena Rapid Fire Questions ;p. Nah, kali ini aku kena yang namanya Liebster Blog Award, yang memang belakangan ini sedang melanda teman-teman BBI (halah). Aku pernah baca satu dua postingan LBA, dan kurasa mirip-mirip lah sama RFQ tahun lalu, hanya aturannya aja yang berbeda. Aku kirain aku nggak bakalan kena, eh akhirnya kena juga, hahaha. Entah bagaimana caranya, kena “timpuk” sama Meliana. Yah, tak apa lah. Ini kan cuma buat senang-senang aja, dan sekalian juga supaya lebih mengenal anggota BBI yang lain.

Oke, jadi gimana aturan mainnya? Begini: seorang blogger melemparkan 10 pertanyaan kepada 10 orang blogger lainnya, kesepuluh blogger yang mendapat pertanyaan tersebut harus menjawab pertanyaan di blognya plus memberikan 10 random facts tentang diri mereka sendiri. Kemudian, para blogger tersebut membuat 10 pertanyaan baru yang akan dilemparkan ke 10 blogger lain yang (kalau bisa) belum dapat giliran. Hadew, ribet jaya dah.

Nah, kemarin tuh dapat 10 pertanyaan dari Meliana, dan sekarang akan aku jawab di sini. Ini dia.

1). Suka karangan penulis dalam negeri atau luar negeri?

Jawab: Terus terang, aku lebih suka karangan penulis luar negeri. Karena temanya lebih beragam dan lebih berani, gaya penulisan dan cara penceritaannya juga lebih menarik. Ini bukan masalah nasionalis atau nggak nasionalis lho. Ini cuma masalah selera dan opini pribadi. Kan nggak bisa dipaksakan, hehe.

2). Apa yang membuat kamu memutuskan untuk membeli atau membaca sebuah buku? Dari cover, sinopsis, atau apa?

Jawab: Alasan aku membeli atau membaca sebuah buku lebih ke sinopsisnya dan resensi dari orang-orang yang udah baca. Aku agak nggak pedulian sama cover soalnya.

3). Apakah kamu mempersiapkan budget khusus untuk membeli buku?

Jawab: Yap. Karena penghasilanku mepet sedangkan tanggunganku banyak, kalau mau beli buku ya harus nabung dulu. Apalagi kalau mau beli buku impor berbahasa Inggris yang harganya selangit, mesti nabung jauh-jauh hari dulu.

4). Pernah nggak kamu kehilangan buku?

Jawab: Waduh, seingatku sih enggak.

5). Buku yang bikin kamu nyesel membaca atau membelinya?

Jawab: Sejauh ini Testpack sama The Rug Merchant. Testpack karena aku nggak terlalu suka (alias kecewa) sama gaya penceritaannya, kalau The Rug Merchant karena terjemahannya sudah keterlaluan menurut standarku.

6). Genre buku apa yang kamu paling sukai?

Jawab: Aku paling suka genre “general fiction”, buku fiksi tentang kehidupan orang, idealisme, budaya masyarakat tertentu, dan juga isu-isu di berbagai belahan dunia.

7). Dalam 1 hari kamu bisa menyelesaikan berapa buku? Atau berapa halaman buku?

Jawab: Wadoh, pertanyaannya nonjok banget nih. Aku ini lelet setengah mati. Jangankan berapa buku dalam sehari, berapa halaman aja belum tentu dapet. Kalau sempet sih paling 30-50 halaman sehari, kalau nggak sempet ya 1 halaman sehari aja udah alhamdulillah.

8). Suka baca paperback atau ebook?

Jawab: Sebenernya apa aja boleh lah. Tapi untuk saat ini aku lebih memilih paperback karena bisa baca sambil istirahat alias tiduran. Karena nggak punya ebook reader, baca ebook mesti di komputer. Nah, di depan komputer isinya kerja melulu, jadi agak-agak nggak sempet gitu.

9). Berapa kali dalam sebulan kamu ke toko buku?

Jawab: Haha, haduh, pertanyaan nonjok lagi nih. Dalam rangka apa dulu nih? Kalau cuma buat nongkrong-nongkrong ya paling sering sebulan sekali. Kalau buat beli buku ya bisa sampai setahun sekali ke toko buku. Mana ada duit sering-sering beli buku? Diriku ini kan biasanya cuma modal minjem sama nyewa doang, haha.

10). Kenapa kamu membuat blog tentang buku?

Jawab: Sebenarnya awalnya, dan pada dasarnya, aku bikin blog buku karena pengin punya medium untuk mempraktikkan bahasa Inggris-ku. Kalau kita punya ilmu dan nggak selalu diasah, bisa hilang begitu aja alias lupa. Karena aku menganggap bahasa adalah ilmu (terutama bahasa asing), makanya aku pengin mempraktikkan (sekaligus belajar lagi) menulis dalam bahasa Inggris. Kebetulan aku suka baca buku, jadinya aku mempraktikkan bahasa Inggris-ku dalam bentuk resensi buku. Makanya jangan heran kalau blogku isinya bahasa Inggris semua, hehe. Ini aja sebenernya blog pengganti yang dulu (erdeaka’s book review, yang link-nya udah aku hapus dari dunia maya). Kenapa ganti? Karena setelah kubaca-baca lagi, bahasa Inggris-ku di blog resensi yang dulu itu acak adul semua. Aku pengin bikin resensi yang lebih formal dengan bahasa Inggris yang lebih baik dan lebih benar. Hehe.

Maaf ya kalau jawabanku terkesan curcol ;p. Nah, setelah menjawab kesepuluh pertanyaan dari Meliana di atas, sekarang saatnya aku mengungkapkan 10 random facts tentang diriku:

  1. Punya kesulitan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain.
  2. Nggak bisa hidup tanpa kopi dan sambal, padahal punya maag berat.
  3. Phobia kodok.
  4. Hobi tidur.
  5. Alergi debu (eh, nggak penting ya? hehe)
  6. Rajin jogging pagi, tapi bobot nggak turun malah naik terus.
  7. Walau berkecimpung di dunia romance, sebenernya aku nggak terlalu suka romance.
  8. Baru mulai suka membaca waktu SMU.
  9. Pecinta warna ungu.
  10. Nggak pedulian sama penampilan.

Sekarang, aku punya 10 pertanyaan untuk 10 blogger lainnya. Dan pertanyaannya adalah:

  1. Sejak kapan kamu suka membaca buku?
  2. Kenapa kamu suka membaca buku?
  3. Pernah nggak kamu merasa menyukai penulis tertentu lalu kemudian kamu merasa tidak menyukai penulis itu lagi? Kenapa?
  4. Sebagai lanjutan pertanyaan di atas, pernah nggak kamu sangat menyukai sebuah buku, tapi kemudian kamu merasa tidak menyukai buku itu lagi? Kenapa?
  5. Apa kendala terbesarmu dalam membaca buku?
  6. Apa kendala terbesarmu dalam meresensi buku?
  7. Apa alasan kamu bergabung dengan BBI?
  8. Buku apa di wishlist kamu yang sampai saat ini masih belum kamu dapatkan/baca?
  9. Jenis buku apa yang paling tidak mau kamu baca?
  10. Apa cita-citamu berkenaan dengan buku dan membaca?

Dan, yang beruntung mendapatkan kesepuluh pertanyaan di atas adalah: Annisa, Sulis, Perdani, Bzee, Putri, Phie, Tantri, Asrina, FJRean, dan Fanda.

Yak, selamat menjawab dan have fun! 😉

NB: Jangan lupa sertakan link dari postingan jawaban LBA kalian di komen di bawah ini, ya? Thanks.