fiction, review

Bagaimana Kita (Seharusnya) Memandang Olenka

Dalam sebuah cerita, sudut pandang adalah yang mendorong jalannya narasi dari awal hingga akhir. Sudut pandang ini bukan semata-mata perkara dari “kacamata” siapa cerita tersebut dilihat dan dikisahkan, tetapi juga memengaruhi bagaimana kemudian pembaca menerima dan memahami cerita tersebut. Bukan hanya itu, sudut pandang jugalah yang “membentuk” karakter setiap tokoh yang kemudian tertanam di benak pembaca.

Novel Olenka diceritakan dari sudut pandang pertama, dari “kacamata” Fanton Drummond, sang tokoh utama. Namun ada yang terasa sedikit mengganggu pada sudut pandang bercerita ini. Gangguan ini datang dari bagaimana tokoh Olenka digambarkan sebagai seorang wanita, diperlakukan sebagai seorang wanita. Gambaran yang menggelisahkan akan tokoh Olenka ini juga datang dari Wayne Danton, suami sang tokoh dalam judul. Jadi bisa dibilang, bagaimana karakter Olenka “dibentuk”―dan bisa jadi “diterima mentah-mentah” oleh pembaca―adalah bagaimana kedua tokoh pria ini (secara dominan) memandang tokoh tersebut.

Pertama-tama mungkin kita mesti melihat bagaimanakah karakter Wayne Danton, seorang penulis menyedihkan yang tidak memandang Olenka sebagai istri melainkan sebagai wanita jalang dan budak belaka, dalam urusan seks pun dalam urusan rumah tangga. Wayne seorang pria yang egois, yang ia pikirkan hanyalah karier dan dirinya sendiri. Ia tidak mau bekerja karena baginya itu akan mengganggu pikirannya dan memakan waktunya sehingga ia tidak akan sempat menulis. Demi menopang keluarga, Olenka-lah yang harus bekerja. Wayne juga menganggap Olenka sebagai alat pemuas nafsu dan memaksa Olenka memiliki anak―dan melahirkan anak yang tidak diinginkannya membuat Olenka tak pernah menyayangi Steven, anak mereka, begitu pula sebaliknya. Masih ditambah lagi, Wayne terus-menerus berusaha (dan berhasil) membuktikan bahwa Olenka bukanlah seorang ibu yang pantas dicintai.

Sementara itu, Fanton Drummond, sang narator dan tokoh utama, bisa dikatakan terobsesi terhadap Olenka. Pemuda gelisah ini mungkin terlihat sebagai “pria yang lebih baik” daripada Wayne. Fanton mencintai Olenka dengan tulus dan tanpa usaha. Ia merasa memiliki ikatan batin dengan Olenka dan merasa terus dibayang-bayangi Olenka. Ia mengikuti semua keinginan Olenka dan ketika Olenka menghilang dari hidupnya, ia menelusuri jejak-jejak Olenka. Bahkan saat mengejar Mary Carson, Fanton tetap tidak bisa melupakan Olenka. Ia juga merasa bahwa dengan mengenal Olenka, ia dapat mengenal dirinya sendiri.

Tetapi bagaimanakah Fanton memandang Olenka? Apakah sebagai manusia, ataukah benda? Apakah sebagai subjek, ataukah objek? Ketika berhubungan intim dengan Olenka, Fanton selalu menganggap Olenka sebagai “peta dunia”, yang ia ketahui “lika-liku dan seluk-beluknya”. Dalam menggambarkan hubungan dan badan Olenka, Fanton selalu menggunakan kata “meletakkan” dan “menggarap”. Bagi Fanton, tubuh Olenka adalah alam yang dapat ia “garap”, ia “rombak”, ia “kuasai”, ia “miliki”, dan ia “rusak” kalau perlu. Bahkan, pada salah satu bab, Fanton pernah berkata, “Seorang laki-laki jantan yang baik mampu menguasai perempuan bagaikan pioner memperlakukan tanah dan hutan,” dan “saya yakin bahwa dia [Olenka] juga ingin saya perlakukan demikian.” Dari mana Fanton tahu? Apakah Olenka pernah berkata demikian? Setidaknya, dari sudut pandang Fanton sendiri, ia tidak pernah mengutip pernyataan dari Olenka bahwa Olenka memang ingin diperlakukan seperti “tanah dan hutan”.

Bukan hanya dalam hubungan seks, dalam hubungan cinta pun Fanton menganggap Olenka sebagai objek. Bagi Fanton, Olenka adalah “sasaran” dari rasa cinta dan gairahnya, tujuan dari segala obsesi dan keinginan-keinginannya. Sudut pandang Fanton dalam bercerita juga menjadikan Olenka objek pemikirannya. Olenka merupakan sosok yang jauh, sosok yang tertanam di benak Fanton yang kemudian ia gambarkan dengan kata-kata dalam narasinya. Sekalinya Olenka memiliki ruang untuk bicara sebagai subjek, sebagai dirinya sendiri, adalah ketika ia menulis surat panjang kepada Fanton. Dalam surat tersebut, Olenka bercerita tentang dirinya, tentang keluarganya, tentang pengalaman “main apinya” dengan seorang kawan perempuan beralias Winifred, dan bagaimana akhirnya ia menikah dengan Wayne dan menderita karenanya.

Dalam surat tersebut, Fanton bukanlah objek bercerita Olenka sebagaimana Olenka dalam narasi yang dikisahkan Fanton pada keseluruhan novel. Fanton merupakan “teman bercerita” Olenka, Olenka bercerita kepada Fanton. Dalam surat tersebut, Olenka adalah subjek sekaligus objek narasinya sendiri, dan Olenka tidak memandang atau memperlakukan Fanton sebagai objek dalam hal apa pun, sebagaimana yang terlihat sebaliknya. Sesungguhnya, ini bukanlah sesuatu yang dapat dianggap aneh. Namun lantaran penggunaan sudut pandang pertama pada novel ini―juga “cara pandangnya”―ini menjadi terasa tidak (atau kurang?) adil. Adil memang bukan soal “sama” dalam segala hal, tetapi entah mengapa dalam kisah ini ketimpangan yang demikian terasa―sedikit banyak―mengganggu.

Lalu bagaimanakah kita (seharusnya) memandang Olenka dalam kisah ini? Apakah sebagai “wanita jalang” seperti yang digambarkan Wayne Danton lantaran ia gemar “melayani” pria-pria lain? Sebagai “bukan istri dan ibu yang baik”? Atau apakah seperti yang digambarkan oleh Fanton Drummond―objek cinta dan obsesi serta objek seks yang bisa diperlakukan sesuka hati?

Dalam novel Olenka, tidak ada satu pun tokoh yang sempurna, atau bahkan “cukup baik” menurut standar moral tertentu―entah itu Fanton, Wayne, ataupun Olenka sendiri. Maka apakah kita mesti bergantung (dan percaya) pada sudut pandang Wayne yang membuat ketidaksempurnaan Olenka tampak sebagai suatu “keburukan” alih-alih suatu “kewajaran” pada diri manusia biasa akibat kesulitan-kesulitan yang menimpanya? Apakah kita mesti menerima sudut pandang Fanton yang membuat Olenka tampak seperti benda tak bernyawa dan hanya diberi kesempatan bicara sepanjang beberapa lembar surat?

Olenka, jika dilihat dalam bingkai yang lebih luas, bukan semata-mata sebuah kisah nan kompleks tentang manusia-manusia yang gelisah dan bermasalah, manusia-manusia yang (tentu saja) tidak suci dan murni. Novel ini tidak hanya bercerita tentang orang-orang dengan ego masing-masing, yang berjalan di atas pilihan masing-masing dan menanggung akibat masing-masing. Novel ini, disadari atau tidak, juga merupakan contoh dari cara pandang umum terhadap wanita―bahwa wanita sering kali dipandang sebagai objek (dalam hal apa pun itu, dan sengaja atau tidak sengaja), serta bagaimana “wanita yang tidak baik” dipandang dari “luar” lantaran tak ada yang mengetahui masalah serta penderitaan-penderitaan yang menuntunnya pada hal-hal yang dilakukannya, mengingat ia tidak diberi panggung yang layak.

1 thought on “Bagaimana Kita (Seharusnya) Memandang Olenka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s