fiction, review

Semua Untuk Hindia

Dalam kumpulan cerpen Teh dan Pengkhianat, Iksaka Banu mengambil sudut pandang “lawan” dalam menceritakan masa-masa pendudukan Belanda di Nusantara, demikian pula dalam kumpulan cerpen Semua Untuk Hindia ini yang terbit lebih dulu pada tahun 2014. Di satu sisi, Iksaka mungkin ingin menunjukkan sudut pandang orang-orang Belanda yang bersimpati terhadap kaum pribumi atau yang tidak setuju dengan pendudukan ini sejak awal, menunjukkan bahwa “tidak semua orang Belanda sama”. Tetapi di sisi lain, hak beliau dan sahih tidaknya sudut pandang tersebut juga patut dipertanyakan. Jika pun benar ada beberapa orang Belanda yang bersimpati dan menentang kolonisasi atas tanah Nusantara, maka (seharusnya) pihak mereka sendirilah yang berhak menyatakannya.

Meski demikian, tidak berarti cerita pendek-cerita pendek yang terdapat dalam buku ini tidak menarik atau tidak dapat mendorong pembaca untuk melihat “sudut pandang lain”. Selamat Tinggal Hindia, yang merupakan cerpen pembuka, menampilkan sudut pandang Maria Geertruida Welwillend atau Geertje, seorang perempuan muda yang lahir dan besar di Hindia Belanda. Ia sangat mencintai “tanah kelahirannya” dan bersimpati terhadap orang-orangnya. Ketika Jepang datang ia sadar bahwa era Hindia Belanda telah usai, dan ia mendukung penuh terbentuknya Repoeblik Indonesia serta menentang NICA.

Rasa simpati yang muncul dari keterikatan dengan tanah Hindia Belanda juga ditunjukkan tokoh Letnan Pieter Verdragen dalam kisah Keringat dan Susu. Tidak hanya lahir dan besar di tanah air, Letnan Pieter juga disusui oleh seorang wanita pribumi. Ikatan ini tak pernah pudar dari hati maupun pikirannya, meski kini ia telah menjadi tentara bagi Belanda. Ketika bersama pasukan yang terdiri atas tentara dari berbagai bangsa Eropa ia berpatroli pada tengah malam di Batavia―mengingat pada saat itu pasca pendudukan Jepang dan terjadi banyak kekacauan menyusul diumumkan berdirinya Republik Indonesia―ia melihat seorang anak muda yang tidak waras mengenakan ikat kepala merah-putih serta seragam, dan lantas dicurigai oleh anak-anak buahnya sebagai tentara laskar dan sengaja menghadang mereka di tengah jalan, sang Letnan melepaskan anak muda tersebut atas permintaan sang ibu―yang mengingatkannya kepada ibu susunya dulu.

Namun bagaimanapun, bagi orang Belanda, atau sebagian besar dari mereka, orang-orang pribumi tetaplah orang-orang terbelakang yang lebih rendah. Pada cerpen Di Ujung Belati, sang protagonis beranggapan bahwa agar orang-orang pribumi hormat dan setia kepada orang-orang Eropa, mereka harus memberi contoh budaya Eropa yang tinggi, bukannya mengikuti budaya pribumi yang rendah atau menuruti tuntutan dan cara berpikir mereka. Tetapi di sinilah letak kesalahan mereka, karena ketika Hindia Belanda diserang oleh pasukan Inggris, sang protagonis diselamatkan oleh mantan mandor yang pernah ia tolong dan angkat derajatnya. Bagi orang pribumi, kesetiaan datang dari balas budi.

Bias pandangan orang Belanda terhadap orang-orang pribumi pada waktu itu tidak berhenti pada kaum bawahan lelaki, tetapi juga menyentuh kaum perempuan. Dalam cerita Racun Untuk Tuan, seorang nyai (wanita pribumi yang “disewa” pria-pria Belanda untuk melayani kebutuhan fisik dan rumah tangga mereka) dipandang rendah dan berbahaya. Nyai dianggap pencemburu dan menakutkan bila pada suatu saat mereka akhirnya menikah secara resmi dengan wanita Belanda dan “harus menyingkirkan” gundik mereka, karena bisa jadi mereka mati diracun. Tetapi tentu saja, sebagaimana karakter mandor pada Di Ujung Belati, karakter Imah di Racun Untuk Tuan tidaklah seperti pandangan umum orang-orang Belanda terhadap mereka.

Menariknya (dan untungnya) di sini, karakter seorang nyai tidak hanya digambarkan dari sudut pandang pria Belanda, tetapi Iksaka juga menyediakan ruang bagi perempuan pribumi untuk memperlihatkan sudut pandang mereka sendiri. Stambul Dua Pedang menceritakan tentang Sarni, yang berganti nama menjadi Cornelia van Rijk setelah menikah dengan orang Belanda yang merupakan petinggi di perkebunan teh Tanara. Karena tertular hobi suaminya, Sarni suka membaca dan menonton opera, dan dari situlah ia jatuh cinta pada bintang opera Stambul Tjahaja Boelan, Adang Kartawiria. Keduanya pun berselingkuh, lantaran Sarni tak pernah merasa cocok dan bahagia dengan suaminya, walau suaminya sangat mencintainya. Lagipula Sarni tidak pernah merasa dirinya merupakan bagian dari orang-orang Belanda, ia tetaplah orang pribumi yang dipaksa menikah dengan orang Belanda oleh ayahnya.

Meski sebagian besar (bisa dibilang hampir secara keseluruhan) buku ini menceritakan tentang kehidupan dan sudut pandang orang-orang Belanda di tanah air, sebenarnya cukup menarik melihat sekilas sudut pandang orang pribumi menyusup di tengah-tengah dan “dipertentangkan” dengan sudut pandang tersebut. Stambul Dua Pedang merupakan cerita pendek paling menarik di antara cerita-cerita lainnya lantaran memperlihatkan situasi dari mata bukan hanya seorang pribumi yang “dijajah”, yang harus tunduk dengan “pernikahan paksa”, tetapi juga mata seorang wanita yang tidak bisa berbuat apa-apa sedangkan ia sangat membenci penjajah dan tidak bahagia dengan pernikahannya. Perselingkuhan Sarni dengan Adang di satu sisi bisa jadi salah, jika dilihat dari “kesucian ikatan pernikahan”, tetapi bisa juga tidak jika mempertimbangkan hati seorang wanita dan seseorang yang mendamba kemerdekaan.

Namun terlepas dari sudut pandang apa pun yang digunakan oleh Iksaka Banu, sahih tidaknya sudut pandang tersebut dan apakah Iksaka sebagai penulis berhak mengambil sudut pandang yang demikian, pada akhirnya buku ini hanyalah sekumpulan cerita fiksi yang titik beratnya adalah keelokan narasi dan kekuatan karakter. Pada nomor-nomor di mana karakter-karakter Belanda digambarkan bersimpati kepada rakyat pribumi, Iksaka dengan tepat menunjukkan adanya alasan keterikatan karakter-karakter tersebut dengan tanah air, dan bagaimana keterikatan itu kemudian memengaruhi sudut pandang mereka. Ada pun tokoh-tokoh Belanda yang memiliki bias tertentu dalam memandang orang-orang pribumi, hal itu juga dapat dimaklumi lantaran jelas-jelas mereka merasa superior sebagai penjajah, sebagai bangsa yang menduduki tanah bangsa lain. Dua sudut pandang dalam satu kelompok bangsa ini saja sudah merupakan sebuah pertentangan, apalagi jika ditambah sudut pandang kaum pribumi seperti Sarni.

Semua Untuk Hindia merupakan kumpulan cerita pendek yang sesungguhnya menarik, jika pembaca dapat menafikan persoalan sahih tidaknya sudut pandang yang dipakai dalam menuliskan cerita-cerita di dalamnya. Ide-idenya juga menarik, walaupun gaya penulisan Iksaka Banu kurang dapat menjadikannya lebih menarik lagi.

Rating: 3.5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s