others

Belajar Menerima Kehilangan-Kehilangan

Adaptasi pada biasanya dilakukan ketika kita mesti berhadapan dengan situasi atau kondisi baru. Situasi atau kondisi baru ini dapat terjadi pada lingkup kecil maupun besar, mencakup sedikit atau banyak hal, termasuk hal-hal yang sepele maupun luar biasa. Adaptasi kerap kali sulit untuk dijalankan, lebih-lebih bila kondisi atau situasi berubah dengan sangat cepat dan takterduga, sedangkan orang-orang tidak siap, atau enggan, untuk ikut berubah. Meskipun begitu, mau tidak mau, orang-orang tetap harus belajar untuk menyesuaikan diri.

Saat ini tidak dapat dibantah lagi bahwa orang-orang mesti menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi di kala pandemi. Wabah menyebar di mana-mana, semua orang dapat tertular, belum ada obat yang bisa menyembuhkan, kematian yang takterhitung jumlahnya merupakan situasi yang mesti kita hadapi setahun belakangan ini. Satu akibat yang pasti adalah semua orang mengalami kehilangan: kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, kehilangan kesempatan untuk melakukan atau meraih apa pun yang seharusnya bisa andai tidak terdapat wabah, kehilangan hiburan dan kesenangan yang biasanya dapat dilakukan bersama-sama di luar rumah, kehilangan “ruang” karena tempat kita terbatas hanya di dalam kediaman, dan bahkan kehilangan kewarasan lantaran terlalu lama berada dalam batasan tersebut. Ini baru beberapa, karena masih ada banyak kehilangan-kehilangan lainnya yang menimpa semua orang.

Tentu saja, di saat seperti ini, kita harus menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kehilangan-kehilangan ini. Akan tetapi, untuk dapat menghadapinya, pertama-tama kita harus (mau) menerimanya. Menerima kehilangan tidaklah mudah, apalagi jika kehilangan itu terjadi tidak disangka-sangka. Namun menerima kehilangan sangatlah penting, jika kita tidak ingin kemudian benar-benar kehilangan kewarasan―dalam artian yang sesungguhnya.

Kehilangan baru bisa diterima ketika kita sudah terbiasa, ketika kita sudah “tidak merasakan apa-apa lagi” di saat kehilangan menimpa kita kembali. Ini mungkin saja bila kehilangan terus berulang, atau bila kehilangan itu berlangsung untuk waktu yang lama. Kehilangan-kehilangan yang terjadi selama pandemi ini bisa merupakan salah satu atau keduanya. Maka tak pelak lagi, kita mau tidak mau (dan lama-kelamaan) terbiasa kehilangan satu, dua, atau banyak hal. Tanpa sadar, kita sudah terbiasa kehilangan “ruang” akibat batasan-batasan yang diterapkan pada lingkup kerja, belajar, hiburan, dan hidup kita secara luas. Kita sudah terbiasa kehilangan kesempatan, dan hanya bisa berusaha mencari kesempatan yang lainnya. Kita sudah terbiasa tak punya (karena kehilangan) pekerjaan, lantas melakukan berbagai cara agar bisa tetap makan. Bahkan, kita sudah terbiasa melihat orang-orang kehilangan nyawa, karena memang takterhitung jumlah mereka yang terkena wabah dan tak dapat diselamatkan.

Yoko Ogawa mengisahkan tentang kehilangan-kehilangan dengan begitu miris pada salah satu karyanya, Polisi Kenangan. Di suatu pulau tak bernama, kehilangan telah menjadi sesuatu yang lazim, sesuatu yang pasti, sedangkan para penghuninya hidup normal tanpa wabah yang merajalela. Begitu lazimnya, para penghuni pulau bahkan tahu kapan dan apa yang akan hilang berikutnya. Begitu terbiasanya, mereka dapat menerima begitu saja kehilangan-kehilangan yang terjadi, lantas mencari atau menjalani hal lain sebagai ganti. Lupa akan apa yang hilang adalah wajib. Kejam memang, ketika manusia dipaksa untuk melupakan apa yang telah lenyap dari hidup mereka, tanpa dapat menyisakan satu kenangan saja. Akan tetapi, (seringnya) hanya dengan melupakan apa yang pernah kita punya dan apa yang pernah ada di sekitar kitalah kita dapat menerima, dan kemudian menghadapi, kehilangan yang terjadi.

Pada novel Polisi Kenangan ada satu bagian yang sangat menarik, yang sedikit banyak bisa dikatakan relevan dengan kondisi hampir semua orang di tengah pandemi ini: ketika tokoh R harus menghindar dari pelacakan para Polisi Kenangan dan bersembunyi di rumah tokoh utama, tinggal di dalam ruangan yang sangat sempit tanpa bisa keluar barang sejenak. R kehilangan ruang sekaligus kebebasan, terkungkung di satu tempat dan juga tidak dapat bekerja. Meski ia satu-satunya penghuni pulau yang tidak kehilangan ingatan akan hal-hal yang sudah tak ada, ia telah “kehilangan rasa” lantaran terlalu lama berada di satu ruangan kecil yang terbatas untuknya. Ia mulai terbiasa dengan batasan-batasan ruang geraknya, mulai dapat menerima situasi yang menimpanya tanpa merasa terluka, seperti warga pulau lainnya. Pada akhirnya, toh ia juga “lupa” bahwa ia “terpenjara” karena harus menghindari sesuatu yang berbahaya. Sama halnya ketika sebagian besar orang (jika tidak bisa dikatakan semua) harus “terpenjara” di dalam rumah demi menghindari wabah yang mengancam.

Tidak bisa dikatakan bahwa baru sekarang saya mengalami kehilangan-kehilangan, tetapi kehilangan-kehilangan yang terjadi pada saya di kala pandemi ini terbilang lebih berat daripada sebelum-sebelumnya. Kehilangan pekerjaan dan kesempatan membuat saya harus berpikir keras bagaimana caranya agar dapat bertahan. Saya dan terus mencoba mencari peluang lain, dan terus-menerus gagal, hingga pada akhirnya saya terbiasa dengan kehilangan kesempatan. Kehilangan-kehilangan itu saya terima dengan tekad untuk mencari kesempatan lain, walau saya tahu peluang yang saya lihat belum tentu membuahkan hasil. Mungkin saya tidak akan melupakan kehilangan kesempatan yang masih terus saja saya alami, sebagaimana orang-orang dalam novel Polisi Kenangan, tetapi setidak-tidaknya saya sudah kebal karena terbiasa, sama seperti para penghuni pulau tak bernama yang telah terbiasa dengan kehilangan-kehilangan mereka.

Novel Polisi Kenangan terbit pertama kali pada bulan April 2020, tepat satu bulan setelah kita “resmi” memasuki masa pandemi. Selain relevansi yang saya rasakan dengan kisahnya (yang membantu saya melihat kehilangan saya sendiri dari sudut pandang yang lebih positif dan menerimanya tanpa merasa terluka), proses membacanya pun sesungguhnya merupakan bagian dari adaptasi atau penyesuaian diri. Saya tidak banyak membaca buku dalam bentuk digital dan biasanya lebih memilih membaca buku fisik. Jika tidak punya cukup uang untuk membeli, saya akan meminjam dari teman atau dari perpustakaan yang tidak jauh dari rumah saya. Tetapi situasi di saat pandemi membuat penerbit Gramedia Pustaka Utama memutuskan untuk tidak menerbitkannya dalam bentuk fisik kala itu, dan hanya mengeluarkannya dalam bentuk ebook yang bisa dibaca di aplikasi Gramedia Digital.

Di sisi penerbit, ini merupakan suatu bentuk adaptasi karena mereka harus kehilangan pasar buku fisik, mengingat toko buku-toko buku tutup dan banyak orang yang penghasilannya hilang atau berkurang sehingga tidak sanggup membeli buku fisik yang mahal. Melihat situasi mereka sendiri, para pembaca tentu akan beralih ke aplikasi tersebut lantaran biaya berlangganan yang dipungut lebih murah daripada harga satu eksemplar buku fisik. Di sisi saya sendiri, ini juga merupakan suatu bentuk adaptasi. Saya “terpaksa” membaca dalam format ebook di aplikasi Gramedia Digital karena biaya berlangganan yang lebih terjangkau dan buku tersebut hanya tersedia di sana.

Kehilangan, dalam situasi atau kondisi apa pun, sejatinya bukanlah sesuatu yang “luar biasa”. Kehilangan adalah sesuatu yang sangat biasa terjadi, entah kemudian kita dapat melupakannya atau tidak. Dan setelah mengalami kehilangan, kita akan―perlahan tapi pasti―berusaha menyesuaikan diri. Akan tetapi, di tengah pandemi yang kita alami sekarang ini, kehilangan terjadi begitu cepat dan tiba-tiba, dan mencakup hal-hal yang mendasar bagi kita, yang terlalu sulit untuk kita lepaskan apalagi lupakan begitu saja. Sayangnya, kita harus mau menerima kehilangan-kehilangan yang sulit ini, harus terbiasa dan menghadapinya dengan tenang serta pikiran terbuka, dan harus segera melupakan agar kita dapat cepat-cepat melangkah maju dan menyesuaikan diri dengan situasi atau kondisi yang baru.

Bagi saya, Polisi Kenangan bukan hanya sebuah karya distopia tentang orang-orang yang dipaksa untuk kehilangan kenangan, tetapi juga bagaimana orang-orang itu telah terbiasa dan akhirnya mau menerima kehilangan-kehilangan yang terjadi pada mereka. “Kehilangan kenangan”, dipaksa atau tidak, pada akhirnya membuat orang-orang dapat dengan mudah melangkah maju dan tidak diam di satu tempat kala suatu kehilangan menimpa. “Kehilangan kenangan”, mau tidak mau, membuat orang-orang terbiasa dengan tiadanya sesuatu yang biasanya ada dan mereka miliki, kemudian mencari cara untuk menyesuaikan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s