fiction, review

Uncommon Type

Tak mungkin tak mengenal negeri Paman Sam beserta segala gagasannya mengenai kebebasan, kesetaraan, dan kesempatan. Paling mudah gagasan-gagasan ini dapat dilihat dalam film-film Hollywood di mana Tom Hanks telah lama menjadi bagiannya. Namun, kini sang aktor peraih Piala Oscar memilih untuk menampilkan itu semua dalam sekumpulan cerita singkat bertajuk Uncommon Type. Berisi tujuh belas cerpen, yang beberapa di antaranya berbentuk kolom surat kabar, Hanks memperlihatkan makna impian Amerika serta rasa cinta terhadap negara dari sudut pandang warganya dalam sebuah pengabadian.

Impian Amerika bukanlah sekadar cita-cita. Setidaknya di buku ini impian Amerika direpresentasikan sebagai suatu “kenyataan”, suatu tujuan yang pasti tercapai apa pun rintangannya, siapa pun dan bagaimana pun latar belakangnya, serta sekecil apa pun kemungkinannya. Amerika Serikat yang (tampak) berjaya itu digambarkan menolak untuk berkata “tidak mungkin”. Sebagaimana dalam kisah berjudul Who’s Who?, sebuah narasi klise tentang seorang aktris muda berbakat dari kota kecil yang mengejar impiannya menjadi seorang aktris panggung besar di New York. Tak kurang-kurang kesialan yang harus ditanggungnya, tak kurang-kurang usaha yang harus dilakukannya, dan akhirnya Dewi Fortuna pun tersenyum padanya.

Pun dalam cerita yang cukup panjang, Pergilah Temui Costas, yang berkisah tentang seorang imigran gelap yang lari ke Amerika demi terbebas dari kekejaman rezim komunis di negara asalnya. Assan, serta temannya Ibrahim, melarikan diri dari kejaran polisi Bulgaria seusai kabur dari penjara dan diam-diam menyeberangi perbatasan menuju Yunani. Di Yunani, Assan mendapat pekerjaan sebagai juru api di Kapal Berengaria yang akan berlayar membawa kargo ke Amerika. Sembari menyelundupkan Ibrahim, menyeberanglah ia ke negeri kebebasan. Dengan bantuan sang mualim kapal, ia berhasil mendarat di New York tanpa dokumen dan tanpa ketahuan pihak yang berwenang. Namun tentu hidup di Amerika bukannya tanpa kesulitan. Meski telah diberi “uang saku” oleh sang mualim dan diberi tahu di mana ia dapat menemukan orang Yunani, tetap tidaklah mudah bagi Assan untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat berteduh. Akan tetapi, lagi-lagi, Amerika adalah negeri sejuta kesempatan dan kemungkinan bagi siapa saja. Walau telah ditolak berkali-kali oleh Costas, seorang pemilik restoran Yunani, Assan akhirnya memperoleh pekerjaan untuk bertahan hidup di negeri barunya.

“Kesempatan dan kesetaraan bagi semua orang” di sini tidak hanya berlaku bagi kaum pria. Hanks menegaskan bahwa wanita juga memiliki kesetaraan yang sama. Dan bukan melulu kesetaraan dalam hal pekerjaan, tetapi juga dalam hal bagaimana wanita dipandang sebagai manusia. Ini terutama dapat dilihat pada sosok Anna yang muncul dalam tiga cerita pendek yang berbeda. Dalam ketiga cerita tersebut ― Tiga Minggu yang Melelahkan, Alan Bean Plus Empat, dan Steve Wong Memang Sempurna ― Anna memang bukanlah tokoh utama dan merupakan satu-satunya perempuan di antara empat sekawan, tetapi ia digambarkan sebagai wanita yang mandiri, cerdas, aktif, dan tangguh; tak kalah dan bahkan dapat mengalahkan ketiga teman laki-lakinya dalam banyak hal.

Ketangguhan dan kemandirian ini dimiliki pula oleh sosok ibu Kenny Stahl dalam kisah Akhir Pekan Istimewa. Sosok ini menarik bukan lantaran ia menawan secara fisik, tetapi lebih karena cara Hanks menarasikan cerita dan menggambarkan tokohnya. Ibu dan ayah Kenny dikisahkan telah lama bercerai, dan ayahnya telah memberinya keluarga baru. Sementara itu, ibunya masih belum (atau memilih untuk tidak?) menikah lagi meski memiliki kekasih, dan menjadi seorang wanita karier yang sukses. Dari cerita akhir pekan bersama sang ibu, pembaca dapat mengetahui mengapa orangtuanya bercerai. Andai ditulis dari sudut pandang sang ayah, cerita ini akan terasa penuh penghakiman; sedangkan jika dikisahkan dari sudut pandang sang ibu, ia akan terlihat sangat egois. Untungnya, Hanks memutuskan untuk bercerita dari sudut pandang si kecil Kenny, yang masih polos dan dapat menerima keadaan apa adanya. Dengan demikian, pembaca dapat bersimpati terhadap ayah Kenny sekaligus memahami perasaan dan keputusan ibu Kenny.

Akhir Pekan Istimewa hanyalah salah satu contoh bagaimana keluarga di Amerika “berjalan”. Kisah pendek Selamat Datang di Mars juga mempertontonkan hal yang sama, meski dengan konflik berbeda. Keluarga Ullen tak bisa disebut sebagai keluarga harmonis. Dengan seorang ibu pemarah, seorang saudara perempuan memilih tinggal dengan pacarnya dan yang seorang lagi bertekad untuk datang dan pergi sesuka hati, serta Kirk yang selalu tenggelam dalam buku-bukunya, sosok Frank sang ayah yang selalu sabar dan menengahi pertengkaran demi pertengkaran menjadi satu-satunya orang yang masih punya akal sehat di antara mereka. Hanya bersama sang ayah pulalah Kirk merayakan ulang tahunnya yang kesembilan belas di pantai Mars, tempat ia pertama kali belajar dan kemudian menjadi raja ombak. Tetapi kejutan terbesar di hari itu bukanlah hadiah jam tangan anti-air pemberian Frank, melainkan rahasia keluarga yang selama ini tak pernah diketahuinya. Atau, mungkin, yang paling mengejutkan adalah sikap Kirk sendiri setelah mengetahuinya.

Yang terakhir, dan mungkin yang paling menonjol, dari buku kumpulan cerpen ini adalah rasa cinta terhadap negara yang tanpa cela. Aroma nasionalisme tercium begitu kuat di lima dari tujuh belas cerita, kendati beberapa di antaranya bukanlah secara langsung mengenai cinta negeri. Nasionalisme ini kerap muncul dalam bentuk olok-olok terhadap lawan di masa-masa Perang Dunia II dan Perang Dingin. Ini sebagaimana yang disiratkan dalam cerpen kedua, Malam Natal 1953, di mana para tentara sekutu Amerika Serikat digambarkan begitu hebat di medan perang, sedangkan para tentara Jerman digambarkan sebagai pecundang. Pada Alan Bean Plus Empat ― yang menghadirkan tokoh Anna beserta ketiga kawan lelakinya ― sang narator seakan mengejek Rusia yang gagal dalam misi ke bulan mereka sementara empat sekawan Amerika ini berhasil memutari bulan bahkan tanpa bermodalkan pelatihan dan dukungan dari NASA. Jelas-jelas sang narator hendak berkata, “Kami orang Amerika biasa saja bisa melakukannya, sedangkan kalian astronot Rusia tidak.”

Satu hal lagi yang kentara dari tulisan-tulisan Tom Hanks dalam Uncommon Type adalah kecenderungannya untuk “mengabadikan” masa lalu. Ini tampak jelas dari hadirnya mesin tik kuno bukan hanya dalam bentuk gambar tetapi juga di hampir semua cerita pendek yang disajikan. Hanks bahkan mendedikasikan tiga cerpen khusus untuk menghadirkan mesin tik kuno sebagai “tokoh” yang tidak hanya numpang lewat: Inilah Meditasi Hatiku, Kembali ke Masa Lalu, dan Penginjil Perempuanmu, Esperanza.

Secara umum, menulis memanglah suatu bentuk pengabadian. Dalam tulisan, pemikiran-pemikiran seseorang serta peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi tak akan lenyap oleh waktu; karena terus dibaca dan disampaikan oleh satu orang ke orang lain, dari suatu waktu ke waktu berikutnya. Dan Uncommon Type adalah salah satu contoh dari pengabadian tersebut.

Rating: 4.5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s