fiction, review

Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa

48123715498_5e39c308fc“Kenyataan adalah hal yang paling mudah dicurigai kebenarannya.” Apalagi jika kenyataan tersebut berlapis-lapis. Apalagi jika kenyataan kita dipegang dan dikendalikan oleh orang lain, sebagaimana kita memegang dan mengendalikan kenyataan orang lain. Apalagi jika kenyataan saling bersengkarut dengan khayalan.

Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa, karya terbaru Faisal Oddang, dibuka dengan adegan di mana kamu (pemegang kenyataan pertama) sedang sibuk berusaha merampungkan novelmu lantaran sudah dikejar-kejar editor. Di tengah-tengah usahamu itu kamu didatangi oleh seseorang, pria tua berbadan gempal yang berdiri menghadapmu sambil menenggak vodka. Kamu mengenalinya: Raymond Carver, seorang penulis cerpen dan puisi yang (seharusnya) sudah meninggal tiga puluh tahun silam akibat kanker paru-paru. Tetapi orang itu ada di hadapanmu, dan meminta tolong padamu agar mencabut nyawanya. Sampai di sini kamu mempertanyakan apakah ini nyata atau tidak.

Nyata tidak nyata, demi iming-iming sejumlah uang, kamu lantas mengiakan dan menandatangani surat perjanjian. Yang menjadi masalah kemudian adalah, di saat kamu harus segera menyelesaikan novelmu, kamu juga harus mencari cara untuk membunuh Ray Carver tanpa ketahuan orang lain.

Ini tidak mudah. Novelmu saja sudah menguras pikiranmu. Plot yang kamu ciptakan buntu, terutama ketika kamu justru membuat kekasih si tokoh utama mati di tengah jalan. Lantas bagaimana kelanjutannya? Apakah Clevie, tokoh utama dalam novelmu—sang pemegang kenyataan kedua—harus kaujadikan kambing hitam dalam kasus pembunuhan yang kaukarang? Namun, mengingat kau masih harus mengurus kematian Ray, pertanyaan tersebut belum bisa kaujawab.

Sebelum membunuh Ray, kamu sempat memberinya makan mi instan yang kamu bawa dari Indonesia, dan ternyata Ray sangat suka. Dia berkata pernah menikmati mi instan bersama mantan istrinya, Maryann, tapi menurutnya yang kamu beri adalah yang paling enak, maka ia kemudian membeli sekotak untuk dimakan sendiri sebelum mati. Setelah Ray puas, kamu segera melaksanakan rencanamu. Sayang, percobaan pertama pembunuhanmu gagal. Ray nyata-nyata masih hidup. Kamu pun harus memutar otak dan mencari cara lain untuk melakukannya lagi. Tetapi anehnya, sebelum kamu sempat melakukan percobaan pembunuhan yang kedua, Ray telah ditemukan mati di bak mandi di kamar hotelnya dalam keadaan telanjang, berdarah, dan terkubur di bawah tumpukan mi instan dengan hanya kepalanya yang terlihat.

Kamu tahu bukan kamu pelakunya, melainkan orang lain: Tuan Monaghan, suami dari Nyonya Monaghan yang diketahui berselingkuh dengan Ray. Tetapi Nyonya Monaghan sendiri merupakan salah satu tokoh dalam novel yang tengah kamu garap, yang kamu jadikan kekasih gelap Clevie dalam narasimu. Bagaimana mungkin ia tiba-tiba keluar dari khayalanmu dan suaminya membunuh seseorang yang “nyata” dalam hidupmu?

Tapi apakah hidupmu memang benar-benar nyata? Bukankah kamu juga hanyalah tokoh dalam buku karangan Clevie? Secuil khayalan dalam kenyataan hidup Clevie? Bukankah kehidupanmu, kenyataan yang ketiga, juga hanya merupakan fiksi di tangan Clevie?

“Orang-orang hanya ingin mengerti apa yang mereka alami.”

Faisal Oddang (dalam kenyataannya sendiri, tentu saja) memegang dan mengendalikan kenyataan semua tokoh utama dalam khayalan masing-masing. Meski teknik penulisannya terkesan tidak istimewa (dan bahasanya terkesan seperti hasil terjemahan mentah), caranya menghadirkan kenyataan yang bertumpuk-tumpuk mampu membuat pembaca bertanya-tanya manakah sebenarnya kisah yang “nyata.” Keingintahuan ini sebagian juga didorong oleh keinginan pembaca untuk benar-benar meresapi dan mendapatkan “jawaban” dari pengalaman membacanya, oleh keinginan untuk mengendalikan sendiri mana yang nyata baginya dan mana yang tidak. Singkat kata, pembaca (sebagian besar) tentu tidak ingin dan tidak suka dibuat bingung oleh sesuatu yang “tidak nyata”.

“Kamu tak perlu memberinya identitas,” Allisa memotong Clevie, “biarkan itu jadi olok-olok pada kehidupan dan juga kenyataan.”

Karya fiksi memang merupakan ranah khayalan di mana kita dapat bermain-main dengan dan “menciptakan” sebuah kenyataan. Ketika menulis cerita rekaan, kita—sebagai pemegang kenyataan kita sendiri—mengendalikan kenyataan orang lain dalam khayalan kita. Namun belum tentu kehidupan kita lebih nyata daripada khayalan kita. Pun diri kita, identitas kita, bisa jadi merupakan hasil pengandaian semata. Identitas kita, jangan-jangan, juga bukan merupakan sesuatu yang “nyata.” Setidaknya bagi orang lain yang tidak memegang dan mengendalikan kenyataan kita.

“Jika kamu berjalan mengelilingi dunia lalu mendengar setiap orang dari setiap tempat berbicara mengenai kehidupan, maka segala yang bisa kamu pahami semata-mata omong kosong. Jika kamu berjalan mengelilingi dunia lalu mendengar setiap orang dari setiap tempat berbicara mengenai kenyataan, maka segala yang bisa kamu pahami semata-mata omong kosong.” — Robert Barry, pemenang Nobel Sastra 2018*

*) Kutipan ini, tentu saja, tidak berlaku bagi pembaca yang menganggap pemenang Nobel Sastra 2018 tersebut benar-benar nyata.

Rating: 4.5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s