fiction, review

Aku Mendengarmu, Istanbul

33088007498_4b3ce12be2_oBisa jadi, tidak banyak cerita bertemakan identitas nasional ditulis oleh seseorang yang justru tidak memegang identitas tersebut. Mungkin ada banyak penulis yang lebih dari sekadar mampu menuliskan kisah dengan latar negeri-negeri nun jauh bermodalkan seberapa pun pengetahuan tertulis yang sanggup mereka raup, tetapi itu hanya akan seperti melihat kehidupan orang lain melalui lubang kunci pintu yang kecil: tidak mendalam, tidak menyeluruh, dan tidak sepenuhnya bisa dipercaya. Namun Bernando J. Sujibto bukan penulis yang hanya bermodalkan mengintip dari lubang kunci. Ketertarikannya yang kuat pada hal-hal berbau Turki, lamanya ia tinggal di tanah Eurasia, kemampuannya berkomunikasi dan intensitasnya berinteraksi dengan penduduk setempat menjadikannya mampu, dan berhak, untuk menghadirkan gambaran yang lebih luas mengenai sebuah negeri yang pada biasanya hanya kita kenal melalui media dan sastra.

Aku Mendengarmu, Istanbul merupakan kumpulan lima belas cerita pendek karya Sujibto mengenai Turki—mengenai orang-orangnya, melankolinya, dinamikanya, juga keresahan dan masalah-masalahnya. Bagian pertama kumpulan cerpen ini, yang bertajuk Merayakan Cinta, dibuka dengan kisah berjudul Ela Gözlü yang langsung membuat pembaca cengang dengan keindahan dan kemuraman narasinya yang menusuk-nusuk. Jalinan cerita Ela Gözlü sangat padat, sangat ringkas, namun penuh misteri akan seorang perempuan muda yang menyimpan hasrat berjuang bersama PKK. Dengan mengadaptasi hüzün, yang terasa sangat kental pada karya-karya Orhan Pamuk, penulis menghadirkan pergulatan batin seorang Berivan yang sangat ingin ikut berjuang demi kemerdekaan dan berdirinya negeri Kurdistan. Atmosfer yang nyaris terasa romantis membuat isu sensitif separatisme yang menjadi tema cerpen ini lebih lunak untuk dikunyah, bahkan sedih dan melankolis sebagaimana yang mungkin diharapkan penulis.

Selain Ela Gözlü, ada enam cerita pendek lainnya pada bagian pertama, dan Beri Aku Kesempatan untuk Lebih Mengenalmu salah satu yang paling menarik. Penulis tidak bicara tentang Turki sama sekali, pun tidak menjadikan si bartender Turki sebagai tokoh utama. Ini sepotong kisah tentang seorang wanita bernama Jane yang memilih untuk tidak percaya pada cinta, dan justru lebih menggantungkan hidupnya pada hitung-hitungan. Jika penulis mana pun diperbolehkan bersandar pada klise, maka tak salah jika pada akhirnya Jane jatuh cinta tepat di saat ia harus menyesali sikapnya. Tetapi penulis tak membuat Jane larut dalam kesedihan dan penyesalan; Jane pergi ke Tibet untuk meresapi kehadiran cinta di hatinya.

Bagian Merayakan Cinta tidak melulu tentang cinta dua joli. Kaleköy untuk Muhammad Hasan Turki bercerita tentang persahabatan insan dua negara, sementara Senja di Osmangazi tentang rasa cinta pada bangsa dan identitas yang telah mati. Namun bisa dibilang Tokoh Fiksi yang Menjadi Orhan adalah yang paling menggelitik. Seberapa jauh, seberapa dalam, seberapa kuat rasa cinta kita pada idola? Apakah sampai menjadikannya sosok nyata di hadapan kita, bicara pada kita? Apakah sampai menjadikannya tokoh fiksi yang dikendalikan sesuka hati kita? Ini hanyalah satu contoh di mana rasa cinta bisa menjadi obsesi.

Kontras dengan bagian pertama, bagian kedua bertajuk dan berbicara tentang Merayakan Tragedi. Pada bagian inilah penulis membahas tentang gejolak, dinamika, pemberontakan dan masalah separatisme yang menyelimuti Turki. Dari delapan cerita yang disajikan, mungkin yang paling menarik adalah nomor-nomor yang bertemakan perdagangan ilegal di perbatasan, seperti Ada Dua Cara Mereka Mati, Ikuti Anjing Itu dan Kaçak Çay. Bagi orang-orang Turki bisa jadi apa yang diceritakan dalam ketiga cerpen tersebut sudah merupakan sesuatu yang “biasa”, rahasia umum yang semua orang tahu. Tetapi bagi orang-orang yang tidak tinggal di sana, bukan orang sana, atau tidak pernah melihat atau mendengar apa pun tentang dalamnya negeri sana, cerita-cerita ini bisa dibilang sungguh mengejutkan. Para pedagang barang-barang selundupan harus selalu siap mempertaruhkan nyawa di tangan para penjaga perbatasan. Ada yang demi penghidupan, ada pula yang demi membiayai gerakan pemberontakan.

Bicara tentang gerakan separatis, selain ceirta pertama pada bagian pertama, Sujibto kembali menghadirkan tema serupa di bagian kedua ini dalam dua nomor, Atas Nama Tanah dan Bangsa Kita Sendiri serta Lima Biji Zaitun Rontok. Meski memiliki tema serupa, tetapi dua cerita tersebut berbeda dengan cerpen Ela Gözlü—narasinya lebih tegas, atmosfernya lebih keras, dan akhirnya mengenas. Pada Atas Nama Tanah…, penulis bercerita tentang seorang warga suku Kurdi yang ditembak mati oleh polisi karena berani menurunkan bendera Turki di Diyarbakir. Orang ini berbuat demikian bukan tanpa alasan: ia tidak pernah merasa dirinya orang Turki; ia adalah orang “lain” dan ingin menjadi “lain”. Kaum separatis bukanlah sesuatu yang asing, dan tokoh ini adalah contohnya.

Setiap kisah pendek dalam buku Aku Mendengarmu, Istanbul dinarasikan dengan bahasa yang sangat puitis hingga menciptakan atmosfer yang romantis, bahkan pada cerita-cerita bertemakan penyelundupan dan pemberontakan. Penulis juga sepertinya sangat berniat mengadopsi hüzün yang biasa terasa kuat pada novel-novel Orhan Pamuk, nada melankolis yang sudah barang tentu lekat dengan bayangan kita tentang Turki. Jika dilihat dari segi ide cerita, karya-karya Bernando J. Sujibto pada buku ini pun bisa dikatakan tidak biasa. Apa-apa yang selalu kita lihat diberitakan di televisi atau media lainnya, bahkan lebih, menjadi dasar beberapa cerita pada buku ini. Sujibto juga tidak hanya berkutat pada satu tema, dan itu menjadikan buku ini semakin memikat.

Gabungan ide cerita yang unik, narasi yang apik, serta atmosfer yang sangat melankolis membuat Aku Mendengarmu, Istanbul sebuah kumpulan cerpen yang indah dan menggugah. Jika pun ada, satu kekurangannya adalah tata bahasa sang penulis. Sering kali penulis menggunakan kosa kata yang tidak tepat atau mubazir serta kalimat-kalimat yang tidak rapi sehingga terkesan agak tidak wajar. Narasi yang indah juga membutuhkan logika berbahasa, dan itu tidak selalu hadir di sini. Meski demikian, secara keseluruhan buku ini tetap dapat dinikmati.

Membaca Aku Mendengarmu, Istanbul rasanya seperti pergi ke negeri dua benua dan melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi yang luput dari mata media, serta ikut merasakan perasaan orang-orang yang termarjinalkan di pemberitaan. Selain bacaan, buku ini juga merupakan pengalaman yang luar biasa.

Rating: 4/5

2 thoughts on “Aku Mendengarmu, Istanbul”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s