fiction, review

Gentayangan

41710031310_603d6ea3e0Jika domestisitas dapat dianggap sebagai lambang “keterkungkungan” kaum perempuan, petualangan bisa jadi adalah salah satu cara untuk memberontak. Novel Gentayangan karya Intan Paramaditha, yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama di akhir tahun 2017 lalu, menggambarkan bagaimana “pemberontakan” ini terjadi. Dan tidak hanya satu atau dua, tetapi ada banyak petualangan yang terangkum dalam novel ini berikut dengan berbagai cabang jalan yang bisa dipilih sendiri—yang menunjukkan bahwa tokoh utama/pembaca/kita berhak untuk memperoleh pilihan dan mengambil salah satu atau bahkan semuanya.

Sejak awal narator telah memperkenalkan sang tokoh utama—dalam sudut pandang orang kedua—sebagai seorang perempuan yang gelisah: gelisah dengan kehidupannya yang begitu-begitu saja dan karena menetap di situ-situ saja, di kota yang sama sepanjang hidupnya, di negerinya, di dalam “rumahnya”. Kau, demikian narator memanggil sang tokoh utama, bosan dan ingin pergi, bertualang, mengalami hal lain di tempat lain. Maka kau membuat perjanjian dengan Iblis, lantaran jalan lain sudah tak mungkin diraih, dan dari sang Iblis kau mendapat sepasang sepatu merah cantik yang akan membawamu ke tempat lain secepat jentikan jari. Kau pun terbangun di New York, Amerika Serikat, tapi di sana kau tak tahu siapa dirimu dan apa yang kau perbuat sebelum berada di dalam taksi menuju bandara.

Di bandara JFK jalanmu mulai bercabang: kembali ke kehidupanmu di New York dan mencari tahu siapa dirimu, melaporkan kehilangan sepatu merahmu ke kantor polisi, atau tetap pergi ke Berlin sebagaimana yang telah kaurencanakan. Memilih salah satu mungkin tidaklah sulit, tetapi petualangan berikutnya dipenuhi cabang dan hal-hal tak terduga. Ambillah pilihan pertama, maka bisa saja kau akan jadi imigran gelap, lantaran visamu telah kedaluwarsa, dan terpaksa menikahi pria yang tidak kaucintai demi mendapatkan green card. Atau bisa jadi kau harus bekerja rendahan, meski kau berpendidikan tinggi, demi bertahan hidup karena uangmu sudah menipis. Jika kauambil pilihan kedua, tidak ada yang tahu akan sampai di mana dirimu, karena makhluk tak dikenal membawamu pergi. Lantas, andai kata pilihan ketigalah yang kauambil, kemungkinan kau akan mengalami hal-hal yang sepertinya mustahil. Bertemu hantu, misalnya. Atau jatuh cinta pada seorang wanita.

“Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan” adalah satu kalimat yang berulang kali muncul hampir di sepanjang novel Gentayangan. Dari kalimat ini dapat dilihat bahwa kebalikan dari cewek bandel—cewek yang bakal masuk surga—adalah cewek baik-baik yang tidak ke mana-mana, cewek “rumahan”, cewek yang selalu berdiam di ranah domestik. Walau sang tokoh utama bukan tipe cewek “rumahan” dalam artian harfiah, dengan demikian bukan pula cewek “baik-baik”, fakta bahwa dia selalu berada di ranah domestik, yaitu di dalam negerinya sendiri tanpa pernah melihat dunia luar, cukup untuk mendorongnya melakukan pemberontakan: “kelayapan”, bertualang ke sana kemari, sekalipun dia harus membuat perjanjian dengan setan. Singkat kata, kau memberontak dari domestisitas dengan bergentayangan.

Kendati secara keseluruhan karya ketiga Intan Paramaditha ini berbicara tentang cewek bandel yang nekat keluyuran demi menembus batas-batas rumahnya, sebagaimana alurnya yang bercabang-cabang problema wanita yang diangkat di sini pun beragam. Dalam bab Kisah Cinta Tetangga contohnya, penulis seolah ingin menunjukkan betapa sulitnya posisi seorang wanita yang mencintai dua orang pria sekaligus tetapi hanya dapat terikat pada satu pernikahan saja. Mengapa pria bisa berpoligami, sedangkan wanita tak bisa melakukan poliandri? Namun satu hal yang cukup menggelitik pada bab ini adalah bagaimana penulis menyiratkan adanya rasa persaingan dalam diri perempuan—yang bisa jadi “lumrah”—ketika kau merasa iri pada tetanggamu yang mampu memiliki hati pria pujaanmu, padahal dia tidak lebih cantik darimu. Di sinilah standar kecantikan turut dipertanyakan, sebab nyata-nyatanya standar kecantikan berbeda-beda bagi setiap orang.

Bersamaan dengan petualangan sang tokoh utama, penulis sejatinya tidak hanya mengangkat isu-isu yang berkenaan dengan perempuan, tetapi juga identitas dan batas-batas negara, pun dengan superioritas serta hak-hak istimewa dunia pertama. Penulis juga menyiratkan, secara paradoksikal, bahwa ke mana pun kita pergi, senekat apa pun kita melewati batas demi batas, sering kali kita merindukan rumah dan ingin pulang—entah setelahnya kita puas berada di dalam kurungan atau kembali ingin menghirup udara bebas. Sebagaimana yang tertera pada subjudul novel: pilih sendiri petualangan sepatu merahmu.

Dengan skema memilih sendiri petualangan yang ingin dijalani ini, pembaca bebas untuk mengambil jalan mana pun yang telah disediakan oleh penulis: jalan pertama, jalan kedua, atau bahkan jika hendak menyusuri semua jalan yang tersedia pun tidak ada yang melarang. Di satu sisi, alur yang beragam semacam ini terkesan sangat kreatif, dan penulis tampak begitu pandai dalam menyusun subplot demi subplot secara acak yang lantas bermuara pada beberapa akhir tak terduga. Selain bebas memilih jalan cerita yang lebih disukai, pembaca juga dapat membebaskan imajinasi mereka akan alur yang digelar di depan mata. Namun, di sisi lain, jalan cerita yang mengandung pilihan seperti ini juga memperlihatkan bahwa manusia tidaklah sepenuhnya bebas dan kita sesungguhnya tidak mempunyai banyak pilihan, karena toh di setiap tikungan hanya tersedia dua (paling banyak tiga) pilihan. Itu pun kadang-kadang pembaca (atau sang tokoh utama) mesti menghadapi jalan buntu dan kembali ke pilihan sebelumnya. Di dunia ini sejatinya memang tidak ada kebebasan absolut, dan penulis—di tengah keinginannya untuk membebaskan pembaca—justru tanpa sengaja merefleksikan hal tersebut.

Akan tetapi ini adalah satu-satunya cacat yang terdapat dalam novel Gentayangan (jika pembaca berbaik hati tidak menghitung salah ketik yang bertebaran di sana-sini), karena Intan Paramaditha mampu menampilkan gaya penulisan yang sangat bagus dan enak dibaca, narasi yang unik dan asyik, serta sangat terampil memadukan nuansa horor, realisme, dan mistis sehingga ketiganya terasa begitu menyatu dan, ajaibnya, tidak mengada-ada. Sang penulis juga berusaha menyajikan berbagai sudut pandang dan tidak menghakimi siapa pun dalam hal apa pun yang ia kritik, baik itu persoalan tragedi 1965, genosida kaum Yahudi, terlemparnya orang-orang Palestina dari tanah mereka sendiri, maupun perkara budaya patriarki yang ia lawan dalam karya apik ini.

Gentayangan bisa dibilang merupakan sebuah karya pemberontakan. Kendati tidak begitu berhasil dalam membebaskan pembaca, setidak-tidaknya novel ini berusaha memberikan pilihan jalan cerita dan narasi yang berbeda. Selain itu, ia berusaha untuk menerjang batasan-batasan genre yang selama ini kita ketahui dengan menyodorkan gabungan dari berbagai kategori fiksi yang amat luar biasa hasilnya. Karya Intan Paramaditha ini sangat layak untuk dibaca.

Rating: 4.5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s