fiction, review

Bajak Laut & Purnama Terakhir: Sebuah Komedi Sejarah

40500774525_b90bc2836fKetika mendengar kata pahlawan, mungkin yang terpikir oleh kita adalah sifat-sifat seperti gagah berani, berbudi pekerti luhur, kuat secara fisik, cerdas, serta rela berkorban untuk membela kebenaran dan membasmi kejahatan demi kepentingan orang banyak.

Pahlawan adalah panutan, contoh, idola, sosok manusia tanpa cela yang “didewakan” dan dipuja-puja. Karena itulah seorang pahlawan selalu dijadikan protagonis atau tokoh utama dalam kisah-kisah klasik maupun dalam kisah-kisah masa kini yang masih memakai patokan lama demi menyampaikan moral cerita kepada pembaca dengan lebih mudah dan gamblang, mengingat pahlawan selalu putih dan penjahat selalu hitam.

Namun bagaimana jika karakter yang dipasang sebagai protagonis memiliki sifat-sifat ambigu? Tidak hitam, tetapi juga tidak putih? Bagaimana jika alih-alih kepentingan orang banyak, sang protagonis hanya memikirkan diri sendiri? Bagaimana jika alih-alih berdecak kagum, sang protagonis justru membuat pembaca muak?

Di zaman modern, formula tokoh protagonis sudah banyak bergeser, tokoh-tokoh dengan karakter ambigu semakin banyak dipasang sebagai pemeran utama. Adhitya Mulya pun menghadirkan formula modern yang sama dalam karya terbarunya, Bajak Laut & Purnama Terakhir: Sebuah Komedi Sejarah.

Berlatar tahun 1667 pada masa kekuasaan V.O.C. (perlu diketahui bahwa pada saat itu Nusantara belum diduduki oleh negeri Belanda, karena V.O.C. merupakan perusahaan swasta berskala multinasional), Bajak Laut & Purnama Terakhir bercerita tentang pencarian pusaka sakti peninggalan kerajaan Majapahit nyaris 400 tahun sebelumnya.

Lantaran berpotensi bencana, para arya (yang dulu merupakan pengikut setia Raden Wijaya) dan keturunan mereka diwajibkan untuk mengembalikan pusaka sakti tersebut ke tempat asalnya sebelum genap 4200 purnama. Setelah melewati ratusan tahun dan banyaknya arya serta keturunan mereka yang berguguran, delapan dari sepuluh pusaka berhasil dikembalikan ke tempatnya di Pulau Sangeang. Akan tetapi, ketika pusaka kesembilan dan kesepuluh hendak diambil untuk “diantarkan pulang” oleh ketiga keturunan arya yang tersisa, mereka harus berebut dengan seorang admiral V.O.C. yang licik dan ambisius, yang terang-terang memiliki segala sumber daya untuk merenggut pusaka tersebut demi mimpi meraih kuasa lebih.

Jika pembaca mengira tokoh protagonis di sini adalah ketiga keturunan arya yang tersisa—yang berjiwa kesatria, pandai bela diri, dan rela berkorban apa pun demi menjalankan tugas mulia—ia salah, walaupun bukan pula sang admiral yang jelas-jelas berhati kotor. Di antara kedua belah pihak, sang protagonis adalah bajak laut bernama Jaka Kelana, yang digambarkan bukan orang baik-baik (lantaran profesinya), sering kali konyol, kadang kala tolol, pengecut dan tidak memiliki ilmu bela diri apa pun, suka memuji diri sendiri (mungkin pembaca akan lelah dengan omong kosongnya bahwa dia ganteng, padahal menurut deskripsi tidak), dan telah melakukan berbagai macam tindak kriminal mulai dari perampokan bersenjata, pencurian, penculikan, sampai pembunuhan.

Di tengah perebutan pusaka antara ketiga arya dan sang admiral, Jaka Kelana muncul sebagai “pahlawan”, yang membantu ketiga arya mengembalikan pusaka sakti terakhir ke tempatnya dan dengan segala daya upaya menumpas makhluk misterius yang hendak menghancurkan seluruh keturunan Raden Wijaya (makhluk yang bisa jadi mengingatkan pembaca pada naga tidur dalam The Hobbit). Orang macam Jaka Kelana-lah yang kemudian rela berkorban demi menuntaskan misi yang mulia, meskipun dia berbuat demikian lebih karena insting daripada niat menyelamatkan orang banyak.

Jaka Kelana merupakan sosok antihero, protagonis abu-abu dengan karakter yang ambigu. Dia sama sekali bukan sosok idola yang patut dicontoh, apalagi memiliki sifat kepahlawanan sebagaimana lazimnya. Namun dia dirancang sebagai tokoh yang menonjol dan menggerakkan cerita, juga yang menyelesaikannya. Dialah sang pemecah kebuntuan dan “pembasmi kejahatan”. Selain itu, Jaka Kelana juga bukannya tanpa karakter yang (sedikit) mulia. Selain setia kawan, Jaka seseorang yang dapat diandalkan dan sopan (bahkan begitu sopannya hingga terlihat konyol). Sifat-sifat inilah yang menjadikannya bernuansa hitam dan putih sekaligus.

Namun jika kita mau melihat lebih jauh ke belakang pada sejarah (sejarah dalam konteks buku ini, tentunya), Jaka tidak sendiri.

Dalam kisah Bajak Laut (yang tentu saja hanya fiksi belaka), tokoh Raden Wijaya yang selama ini kita kenang (atau kita kenal) sebagai kesatria pendiri sebuah kerajaan digambarkan sebagai sosok yang gila kekuasaan dan rela menghabisi pengikut setianya karena tak ingin kehilangan kekuasaan itu (yang ada hubungannya dengan pusaka sakti yang mesti dikembalikan). Sang raja pertama Majapahit pun dikisahkan tidak ragu-ragu memalsukan catatan sejarah agar generasi yang akan datang hanya mengetahui kehebatan dan kejayaannya, dan bahwa para pengikutnya telah berkhianat dan memberontak, walau sebenarnya tidak demikian.

Bajak Laut & Purnama Terakhir memang hanya kisah rekaan berlatar sejarah masa lalu yang ditulis dengan gaya komedi demi mengundang tawa. Tetapi pembaca tidak hanya dapat mentertawakan kekonyolan adegan dan dialog tokoh-tokohnya, karena tindakan yang diambil oleh Raden Wijaya dalam kisah ini juga dapat menjadi bahan lelucon.

Apa lagi yang lebih lucu dari seorang penguasa, yang demi menjaga kekuasaan dan nama baiknya, tanpa rasa bersalah memutarbalikkan fakta sehingga mengacaukan keaslian sejarah? Apa lagi yang lebih lucu dari kenyataan bahwa kita tidak akan pernah tahu sejarah yang sebenarnya karena bisa jadi ada banyak orang seperti tokoh Raden Wijaya dalam kisah ini? Bahwa apa yang fiksi dan nonfiksi hanya dipisahkan oleh satu garis tipis? Jika memang demikian, bukankah kisah sejarah benar-benar telah menjadi komedi? Jika memang demikian, bukankah sejatinya setiap pahlawan bukanlah pahlawan, layaknya Jaka Kelana dan Raden Wijaya?

Bajak Laut & Purnama Terakhir mungkin bukanlah karya yang dirancang untuk menjadi bacaan yang serius, tetapi justru karya seperti inilah yang seharusnya dianggap serius.

N.B.: resensi ini pernah ditayangkan sebelumnya di Jurnal Ruang.

Rating: 3.5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s