others

BBI’s Seven-Year Itch

Hari ini ulang tahun Blooger Buku Indonesia yang ketujuh. Tepat tanggal 13 April ini tujuh tahun yang lalu komunitas narablog buku tersebut didirikan yang konsep awalnya sebenarnya sangat sederhana, mengumpulkan data blog-blog yang isinya khusus mengenai buku. Seiring berjalannya waktu komunitas ini semakin berkembang, menerima semakin banyak anggota dan semakin tertata sistem keanggotaan serta kepengurusannya. Semakin beragam pula isi blog para anggota, mulai dari resensi buku, kuis berhadiah buku atau voucher buku (giveaway), artikel mengenai tema tertentu, trivia mengenai buku, sampai wawancara dengan penulis, sesama narablog buku, atau tokoh lainnya. Komunitas ini bukan semata komunitas daring yang hanya bertemu di dunia maya, tetapi juga komunitas luring yang sering bertemu (baca: kopdar) di dunia nyata.

Blogger Buku Indonesia juga bukan semata komunitas senang-senang yang tidak bermanfaat atau menghasilkan apa-apa, karena banyak anggotanya yang—lantaran begitu sering menulis di blog sendiri—akhirnya menjadi penulis di luar blog mereka. Banyak yang resensi buku karyanya dimuat di media cetak (yang cenderung sulit dimasuki), pun di media daring yang memang sering memuat resensi buku. Banyak pula yang akhirnya menjadi penulis buku, atau yang karya tulisnya masuk ke dalam antologi-antologi keluaran penerbit terkenal. Komunitas ini telah berkembang dari sekumpulan orang yang membahas karya penulis menjadi sebuah komunitas yang banyak anggotanya sendiri menjadi penulis. Berawal dari menulis, berakhir dengan menulis pula. Dan mungkin kelak akan lebih dari itu.

Akan tetapi, sebagaimana hubungan suami-istri yang sering kali mengalami kendala/surut di tahun ketujuh, Blogger Buku Indonesia pun tampaknya mengalami kendala/surut yang sama persis di tahun yang sama. Awal surutnya aktivitas komunitas ini sudah sangat terasa ketika kegiatan Secret Santa, yang biasanya diadakan setahun sekali bertepatan dengan Hari Raya Natal, dengan segala pertimbangan yang entah apa saja, mulai ditiadakan di akhir tahun 2016. Setelah itu aktivitas daring komunitas ini semakin berkurang: pengurus yang tidak pernah berganti dan semakin malas mengurus, event yang semakin jarang bahkan tidak diadakan, banyak anggota yang semakin malas membaca dan menulis resensi atau apa pun itu di blog masing-masing, bahkan ada anggota yang keluar dan/atau menghapus blog bukunya. Singkat kata, gairah komunitas ini semakin menurun, kemudian melakukan “perselingkuhan”, alias melakukan kegiatan selain membaca dan menulis di blog. Memang tidak semua anggota demikian, tetapi jelas sekali gairah BBI semakin dan semakin menurun.

Mungkin setiap hubungan, kegiatan, atau situasi apa pun itu memang ditakdirkan untuk mengalami pasang-surut, dan itu sudah lazim. Saya sendiri, harus saya akui, sudah sangat lama tidak mengisi blog buku saya dengan tulisan apa pun. Terakhir kali saya mengunggah resensi buku di bulan Oktober tahun 2017 lalu, itu berarti sudah lima bulan lamanya. Saya pun semakin jarang membaca buku, karena sibuk berselingkuh dengan menonton serial/film silat. Baiklah, saya memang sangat sibuk bekerja setengah tahun lebih belakangan ini karena banyak proyek berdatangan, dan itu bisa saja saya jadikan alasan untuk tidak membaca atau menulis resensi seperti biasa. Tetapi rasanya tidak adil jika menyalahkan pekerjaan saya karena: 1). di awal karier saya, saya bahkan jauh lebih sibuk daripada sekarang dan saya masih sempat membaca dan menulis resensi walaupun hanya satu paragraf sehari; 2). entah kenapa setiap kali ada waktu untuk beristirahat setelah bekerja 12 jam dalam sehari, saya lebih memilih untuk berselancar di internet dan menonton serial silat. Kalaupun sempat membaca, saya hanya membaca komik silat—mudah dibaca (karena lebih banyak gambar daripada tulisan) dan menghibur.

Jadi intinya, sebenarnya tidak ada alasan bagi anggota BBI, setidak-tidaknya bagi diri saya sendiri, untuk melupakan kegiatan membaca dan mengisi blog bukunya. Namun begitulah, setiap hal pasti ada pasang-surutnya. Ada yang bilang komunitas BBI sekarang sedang mati suri (sambil berdoa tidak mati beneran), ada yang bilang sedang off saja, karena toh banyak anggota lainnya yang masih rajin membaca dan menulis di blog bukunya kendati gairah komunitas sedang menurun dan tidak ada aktivitas apa-apa (selain mengobrol yang tidak-tidak di grup WhatsApp, tentunya :D).

Lantas, bagaimana nasib Blogger Buku Indonesia ke depannya? Tidak ada yang tahu, kecuali Tuhan tentu saja. Saya hanya berharap komunitas ini tidak ada akan mati, dan kelak bisa bangkit kembali: para anggotanya ramai-ramai membaca dan mengisi blog, mengadakan kuis, menuliskan laporan peluncuran buku atau wawancara, juga artikel dengan berbagai macam tema. Saya juga berharap kelak ada penyegaran dalam tubuh kepengurusan (yang, tentu saja, tidak bisa mengandalkan saya si pemalas ini), sehingga para anggota yang sudah (terlalu) lama menjadi pengurus bisa beristirahat dan ada ide-ide baru yang dibawa ke dalam komunitas. Saya berharap komunitas Blogger Buku Indonesia bisa seperti dulu lagi, syukur-syukur bisa lebih baik lagi.

-erdeaka-

Advertisements

4 thoughts on “BBI’s Seven-Year Itch”

  1. Sebagai komunitas bisa saja mati. Lantas anggotanya yang jika passion-nya memang di buku (membaca, menulis revie, berbagi GA, dsb) semangatnya tetap ada. Bisa saja sedang mati suri. Atau sedang bermimpi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s