fiction, review

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

34135013895_b46a7651dc_oKita hidup di tengah budaya patriarki di mana sering kali perempuan dipandang sebagai obyek seks semata sehingga kekerasan maupun pelecehan seksual terhadap wanita (diam-diam) dianggap wajar saja. Dan jika memang karya sastra merupakan refleksi dari kehidupan nyata, maka sepertinya itulah yang hendak disampaikan Eka Kurniawan dalam novelnya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Dengan mengambil latar belakang masyarakat kelas menengah ke bawah yang gemar kekerasan, buku ini seolah ingin menunjukkan bahwa hal yang dianggap “wajar” ini sesungguhnya justru tidaklah wajar.

Kisah dimulai ketika Ajo Kawir dan sahabatnya, Si Tokek, masih berusia awal belasan tahun. Suatu malam, tanpa sengaja mereka melihat Rona Merah, seorang perempuan gila di kampung mereka, diperkosa dua orang polisi. Akibat rasa terguncang saat menyaksikan peristiwa ini, kemaluan Ajo Kawir, atau yang ia panggil si Burung, jadi tidak bisa ngaceng alias berdiri. Ajo Kawir berusaha keras membangunkan si Burung dari “tidurnya”, mulai dengan cara yang paling menggelikan sampai yang paling menyedihkan. Tapi si Burung tetap tak mau bangun, tidur nyenyak bak seekor beruang kutub yang terlelap di musim dingin dan memimpikan hujan salju. Masalah bertambah runyam bagi Ajo Kawir ketika ia berjumpa dan jatuh cinta pada Iteung, gadis cantik dari sebuah perguruan silat, karena bagaimana mungkin ia dapat membahagiakan seorang gadis dengan kemaluan yang tidak bisa ngaceng? Tahun demi tahun Ajo Kawir lewati dengan menanggung penderitaan ini, sementara satu-satunya cara untuk menuntaskannya adalah dengan menghabisi kedua polisi yang telah memerkosa Rona Merah.

Tidak seperti Cantik Itu Luka maupun Lelaki Harimau yang sangat mengandalkan realisme magis dalam menyampaikan ide ceritanya, novel Eka Kurniawan kali ini lebih berpegang pada realisme. Namun realisme yang maskulin. Maskulin dan sovinis. Hampir di sepanjang jalan cerita terdapat adegan-adegan brutal di mana adu jotos (dan membunuh dengan tangan kosong) adalah cara yang biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah. Akan tetapi, yang paling menonjol di sini adalah kekerasan seksual terhadap perempuan. Hal yang menimpa Ajo Kawir, yang menjadi sorotan dalam novel ini, berawal dari aksi pemerkosaan yang dilakukan oleh dua orang polisi biadab terhadap seorang perempuan gila. Dari sini dapat dilihat bahwa dua orang lelaki, yang berfisik dan bermental lebih kuat dari si perempuan gila, dengan demikian memiliki kuasa lebih, dapat memaksakan kehendak mereka secara semena-mena terhadap wanita yang lebih lemah. Hal nahas serupa juga dialami Iteung di masa kecilnya, ketika ia masih seorang gadis polos dan dilecehkan oleh guru sekaligus wali kelasnya sendiri. Tapi tentu saja tidak ada tempat untuk mengadu. Si perempuan gila hanya diam saja sampai ia mati seusai diperkosa, begitu pula dengan Iteung yang memilih jalannya sendiri untuk menyudahi pelecehan yang dialaminya. Karena, pada umumnya, yang berkuasalah yang akan selalu menang dan yang lemah (baik secara fisik, mental, maupun kedudukan) akan selalu kalah. Maka mengadu kepada siapa pun hanya akan menjadi jalan keluar yang sia-sia.

“Kau pikir perempuan barang, bisa dibeli di Pasar Tanah Abang?”

Namun dengan narasi yang teramat maskulin dan sovinis inilah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas justru mengolok-olok seksisme dan kekerasan seksual terhadap perempuan yang dianggap lazim di masyarakat. Si Burung yang tidur lelap bisa dibilang merupakan kiasan dari sesuatu yang tidak wajar, berlawanan dengan tindak pemerkosaan (sebagai penyebabnya) yang diam-diam dan sering kali dipandang wajar dan sambil lalu. Dan seperti yang disiratkan oleh kisahnya sendiri, ketidakwajaran yang diderita Ajo Kawir hanya akan sembuh jika kewajaran yang dilakukan oleh kedua polisi biadab tersebut dihapuskan secara nyata, bagaimana pun caranya. Tampaknya, bagi Eka Kurniawan, memandang wajar seksisme dan kekerasan seksual terhadap perempuan adalah hal yang konyol dan patut ditertawakan, maka dari itu ia melawan gagasan ini dengan kiasan burung (kemaluan lelaki) yang tertidur. Eka juga melakukan perlawanan dengan menciptakan tokoh Iteung yang kuat baik secara fisik maupun mental, yang mampu melawan lelaki dengan tangannya dan memilih jalannya sendiri dan melakukan apa pun yang dikehendakinya.

Sebagaimana sudah menjadi tipikal Eka Kurniawan, novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas penuh dengan satire dan bernuansa komedi gelap (black humor). Tetapi memang gaya penulisan seperti ini sangat cocok untuk menyampaikan olok-olok yang diinginkan penulis. Namun novel ini juga tak melulu berisi sindiran terhadap budaya patriarki dan masalah sosial, Eka juga mewarnainya dengan guyonan-guyonan segar terutama melalui burung Ajo Kawir yang ia ajak bicara dan mintai pendapat setiap kali ia dihadapkan pada masalah yang rumit. Dan yang paling menarik dari novel ini adalah plotnya yang terlihat seperti tak beraturan, tak memiliki batasan antara masa lalu dan masa kini, pun antara kenyataan dan khayalan. Uniknya, jalan ceritanya mengalir dengan sangat baik sehingga tetap dapat diikuti tanpa kesulitan.

Secara keseluruhan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas bukan hanya sebuah karya yang sepertinya diciptakan memang sengaja untuk mengkritik, tetapi juga merupakan hasil olahan narasi yang ciamik dan bukti dari kelihaian sang penulis dalam bercerita.

Rating: 4/5

Advertisements

2 thoughts on “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”

  1. Aku suka buku ini, dan quote si burung di endingnya itu bikin saya melongo… “whaat??”
    Dan kayaknya usaha Ajo Kawir jadi berantakan…hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s