fiction, review

Drupadi

33828926655_9a7f05b53b_oWanita sering kali tidak punya pilihan, dan tidak bisa berkata tidak. Sebelum banyak dari kaum perempuan di zaman modern menangisi kenyataan ini, kisah-kisah wayang Jawa kuna sudah sejak lama menyiratkannya, dan kisah Drupadi dalam epos Mahabharata adalah salah satunya. Seno Gumira Ajidarma menuliskan kembali kisah sang dewi nan cantik cemerlang ini dalam sejumlah cerita pendeknya, yang kemudian dijadikan satu sehingga terbaca sebagai sebuah novel yang utuh. Ditemani ilustrasi-ilustrasi apik karya Danarto serta bait-bait puisi yang memantik akal dan rasa, buku yang diberi judul Drupadi ini tidak hanya berbicara tentang penderitaan yang harus dialami wanita, tetapi juga peran dan apa yang sanggup mereka lakukan dengan kekuatan tersembunyi yang mereka miliki.

Di buku ini kisah Drupadi dimulai ketika ia diarak dengan segenap upacara kebesaran menuju gelaran sayembara yang diadakan sang ayah, Prabu Drupada, untuk mencarikan suami baginya. Belum apa-apa pembaca sudah disuguhi kenyataan pahit di mana Drupadi, sebagai seorang wanita, tidak berhak untuk memilih suaminya sendiri, karena yang akan menjadi suaminya adalah siapa pun yang memenangkan sayembara tersebut. Pesertanya pun dibatasi hanya dari golongan yang sederajat atau yang tidak lebih rendah dari Dewi Drupadi sendiri. Secercah harapan muncul ketika Arjuna memenangkan sayembara, karena walaupun akhirnya ada seorang pria yang berhasil “memiliki” dirinya, Drupadi jatuh cinta pada pandangan pertama pada sang kesatria yang tengah menyamar. Dapat menikah dengan pria yang dicintai merupakan kebebasan tersendiri, tetapi bukan lagi saat pria itu justru kemudian menolak untuk menikahinya dan melempar tanggung jawab untuk mempersunting dirinya kepada saudara yang lain. Jadilah Drupadi dari seorang putri yang tak bisa memilih suaminya sendiri menjadi sebentuk tanggung jawab yang dilempar-lempar di antara para Pandawa karena tidak ada yang mau menanggungnya. Drupadi hanya bisa tertunduk dan diam, tak mengungkapkan pendapat maupun keinginannya. Karena sekalipun ia mempunyai keinginan dan harapan, wanita seakan-akan tidak dikodratkan untuk memperjuangkan dengan cara mengungkapkannya. Maka pada akhirnya orang lainlah yang menentukan nasib Drupadi, menjadikannya istri dari kelima Pandawa bersaudara sekaligus.

Drupadi tertunduk. Apakah perempuan diandaikan tidak punya kemauan? Tentu seorang perempuan memiliki kehendaknya sendiri. Namun meski dirinya hidup di antara para bijak, selain kepada perempuan tidak pernah diajukan pertanyaan, perempuan sendiri tidak akan memperjuangkan kehendak dan cita-citanya dengan cara menyatakannya.

Dalam kisah ini, menjadi seorang wanita yang bersuamikan lima orang bukanlah balasan atau jawaban dari praktik poligami di mana seorang pria boleh memiliki lebih dari satu istri. Di sini, Drupadi justru menanggung beban harus bersikap adil kepada kelima suaminya (walau hanya mencintai seorang saja) dan menurut kepada kelimanya pula. Ia tetaplah seorang istri yang, sedikit banyak, merupakan properti dari para suaminya dan dengan demikian menjadikannya bagian dari diri kelima Pandawa. Ia tetaplah seorang wanita yang tak bisa berbuat apa-apa kala salah seorang suaminya, Yudhistira, mempertaruhkannya di atas meja judi dan menyerahkan nasibnya pada dadu yang berputar. Dan benar saja, ketika Yudhistira kalah di tangan Sangkuni, sebagai bagian dari properti sang suami, Drupadi pun harus ikut diserahkan kepada Kurawa bersama seluruh negeri Indraprastha. Sekeras apa pun ia menolak, bukanlah takdirnya sebagai seorang istri dan wanita untuk bisa lepas dari suratan menjadi “milik orang lain”. Belum cukup penderitaannya sampai di situ, ia diperkosa beramai-ramai di hadapan kelima suaminya sendiri serta harus ikut mengembara bersama mereka di hutan saat terbuang dalam penyamaran.

32946376464_713f388337Namun Seno Gumira Ajidarma tidak hanya menceritakan derita yang mesti dialami Drupadi sebagai seorang wanita. Dalam bab berjudul Wacana Drupadi, SGA menggambarkan betapa sang dewi sudah tak sanggup lagi memendam dendam di dalam hati dan menuntut kelima suaminya agar menuntut balas kepada para Kurawa. Dari tuntutan Drupadi inilah berkobar Perang Bharatayudha, di mana Kurawa dikalahkan oleh Pandawa dan Drupadi dapat memenuhi sumpahnya: mengeramasi rambutnya dengan darah Dursasana. Dari sini dapat dilihat betapa perang bisa terjadi “hanya” karena dendam dan tuntutan dari seorang wanita. Tetapi dari sisi lain juga dapat dilihat betapa balasan dari menghinakan seorang wanita mampu menyeret seratus orang kesatria beserta seluruh pasukannya pada kematian. Ini adalah kekuatan wanita, kekuatan tersembunyi yang tidak diperoleh dari penempaan fisik maupun penggunaan senjata.

Seno Gumira Ajidarma mampu menceritakan ulang kisah wayang Jawa yang berakar dari legenda India ini dengan sangat sederhana tetapi dengan gaya bahasa yang sangat apik dan dramatis. Dan meski terkesan sangat singkat dan plotnya melompat-lompat, novel ini mampu menerangkan karakter dan menangkap peran seorang Drupadi dalam kisah peperangan yang didominasi oleh kaum lelaki dengan lugas dan terperinci. Novel ini menggambarkan dua sisi wanita (kuat dan lemah) yang tak terelakkan, layaknya dua sisi kehidupan (baik dan buruk) yang sudah menjadi suratan dan hanya dipisahkan oleh sebuah garis tipis berwarna abu-abu. Novel ini juga seolah ingin menyatakan bahwa pria dan wanita seharusnya setara dan sederajat, bahwa bukan hanya wanita yang memiliki kewajiban terhadap suami tetapi juga sebaliknya. Pesan inilah, selain gaya bahasa dan ilustrasi-ilustrasinya, yang membuat novel Drupadi terasa sangat indah dan menggugah.

Rating: 4/5

Advertisements

1 thought on “Drupadi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s