The Girl on The Train

Setelah gemparnya novel Gone Girl karya Gillian Flynn, sebuah novel thriller psikologis yang plotnya digerakkan oleh tokoh utama wanita berkarakter “ganda” dan tidak bisa dipercaya sudut pandangnya, para pecinta novel, khususnya novel berjenis sama, seolah mendapat suntikan candu dengan hadirnya The Girl on The Train karya Paula Hawkins. Bahkan, novel ini sering disebut-sebut sebagai “the next Gone Girl”. Julukan tersebut bisa dianggap berlebihan, tetapi agaknya tidak juga jika melihat alur The Girl on The Train yang juga dibangun dari sudut pandang tokoh wanitanya yang tidak bisa diandalkan. Namun tentu saja, buku ini memiliki gaya penulisan dan cara bercerita yang berbeda, juga kejutan yang mampu membuat pembaca menaikkan alis dan membelalakkan mata.
Rachel Watson mengalami depresi berat setelah bercerai dari suaminya, Tom Watson. Ketidakmampuannya memiliki anak dan kesedihannya yang berlarut-larut karena masalah tersebut menjadikannya seorang pecandu alkohol, yang kemudian membawa pernikahannya pada kehancuran. Ia bahkan dipecat dari pekerjaannya karena mabuk berat dan bersikap tidak sopan saat menemui klien perusahaannya bekerja. Meski begitu Rachel masih menjalani “rutinitas sehari-harinya” seperti biasa: berangkat “kerja” dengan kereta pukul 08:04 pagi dan pulang naik kereta pukul 17:56 sore. Di tengah-tengah perjalanannya itulah ia selalu melewati deretan rumah di jalan Bleinheim, area tempat tinggalnya dulu semasa masih bersama Tom. Bukan hanya bekas rumahnya yang selalu ia lihat setiap hari, tetapi juga rumah yang tak jauh dari sana, rumah nomor 15 yang dihuni oleh sepasang suami-istri yang tidak dikenalnya, yang dalam khayalannya ia beri nama Jason dan Jess. Suatu saat, dari dalam kereta, Rachel melihat “Jess” berciuman dengan lelaki lain, dan ia pun berasumsi bahwa wanita itu telah berselingkuh dari suaminya. Anehnya, besok malamnya wanita itu, yang kemudian diketahui bernama Megan, menghilang. Rachel langsung menyimpulkan bahwa Megan kabur bersama sang kekasih gelap. Ia berusaha memberikan informasi tersebut kepada polisi, tetapi polisi tidak menanggapinya dengan serius karena ia dianggap sebagai “saksi yang tidak bisa diandalkan” mengingat kondisinya yang selalu mabuk. Dan toh ia sering tidak ingat kejadian-kejadian atau apa yang pernah dialaminya akibat kehilangan kesadaran total ketika sedang mabuk. Sialnya, sebenarnya Rachel sedang berada di daerah tempat tinggalnya dulu saat Megan menghilang di jalan tersebut. Namun ia tidak ingat apa-apa yang dapat memberinya petunjuk ke mana wanita itu pergi… dan dengan siapa.

The Girl on The Train ditulis dari sudut pandang tiga tokoh wanita yang berbeda: Rachel yang depresi dan pemabuk, Megan yang liar dan gelisah, serta Anna yang perebut suami orang dan suka berprasangka buruk. Bisa dibilang ketiganya bukanlah karakter yang “baik”, bukan karakter yang likable. Tetapi justru di sinilah, pada karakterisasi inilah, pesan-pesan novel karangan Paula Hawkins ini terletak. Di luar kisah misteri yang disajikan, sang penulis, melalui tokoh-tokoh wanita tersebut dan apa yang mereka alami, menunjukkan betapa wanita harus hidup tertekan di bawah stereotip/beban yang diberikan oleh masyarakat. Jika seorang wanita tidak bisa memiliki anak, maka pasti dialah yang disalahkan. Belum lagi wanita pada umumnya selalu merasa tidak sempurna bila belum/tidak memiliki anak. Hal ini tecermin dalam penuturan Rachel pada salah satu bab, “perempuan masih benar-benar dihargai untuk dua hal saja—tampang mereka dan peran mereka sebagai ibu. Aku tidak cantik dan aku tidak bisa punya anak, jadi apa yang tersisa untukku? Aku tidak berguna.” Pembaca / orang pada umumnya pasti juga akan memandang buruk pada Megan yang liar dan tidak bisa diam di rumah menjadi “istri yang baik”, sementara yang diinginkannya adalah kebebasan, cinta yang tulus dan tidak mencekik, serta kedamaian setelah yang dialaminya di masa lalu. Dan di antara ketiganya, Anna pastilah tokoh yang dianggap paling buruk karena telah merebut suami orang lain. Tidak bisa dibenarkan memang, kecuali jika pembaca mau menyalahkannya pada nafsu dan sang suami yang tidak setia.

The Girl on The Train merupakan karya yang menarik, selain karena dituturkan dari sudut pandang tokoh yang tidak berkarakter baik dan tidak bisa dipercaya serta isu-isu gender yang diselipkan di dalamnya, novel ini sendiri mengusung ide cerita yang cemerlang: benarkah seseorang/sesuatu itu memang seperti yang kita kenal/ketahui? Ataukah sebenarnya selama ini kita hanya mengira-ngira saja? Ide ini, layaknya ide cerita-cerita misteri lainnya, dikembangkan menjadi plot padat yang penuh dugaan dan kecurigaan. Mau tak mau, semakin narasi berjalan maju pembaca menjadi semakin sulit menetapkan siapa yang bersalah dan apa yang telah terjadi. Sayangnya, alur berjalan lambat sehingga ketegangan yang diciptakan penulis terasa seperti kurang greget. Namun itu tidak masalah, karena toh narasi yang dibangun dengan rapi oleh Hawkins tetap membuat pembaca tidak sabar untuk menyelesaikan buku ini dan mengetahui jawaban dari semua pertanyaan. Lagi pula, ada kejutan di akhir cerita. Kejutan yang masuk akal, tapi tetap tak terduga.

The Girl on The Train memang layak dibaca oleh semua pecinta novel misteri, khususnya novel thriller psikologis. Hampir semua unsur di dalamnya, plot, karakter, pesan-pesan dan akhir ceritanya menunjukkan kualitas yang mumpuni dari penulisnya.

RatingL 3.5/5

Advertisements

3 thoughts on “The Girl on The Train

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s