others

Bahasa Kita, Bahasa Asing

Bagi narablog buku yang mengenal saya, atau yang sudah sangat mengenal saya, pasti tahu mengapa atau apa tujuan saya membuat resensi buku dalam bahasa Inggris di blog ini. Mungkin perlu saya tegaskan lagi bahwa awalnya saya membuat blog yang berisi resensi buku-buku yang saya baca sebenarnya saya ingin mencari suatu medium untuk melatih dan mempraktikkan terus-menerus bahasa Inggris yang sudah saya pelajari selama ini. Bagi saya bahasa asing adalah sebuah ilmu, yang jika tidak dilatih dan dipraktikkan secara berkesinambungan, lama-kelamaan akan terlupa. Jadi, tidak ada maksud sama sekali untuk sok bule, atau istilah “kasarnya”, sok English. Lagipula, untuk artikel lain di luar resensi biasanya saya menggunakan bahasa Indonesia.

Saya sangat mencintai bahasa Inggris, tapi, sebagai orang Indonesia dan seorang penerjemah, bagi saya sangat penting untuk lebih mencintai dan melestarikan bahasa sendiri, yaitu bahasa Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, segala sesuatu yang ada di dunia ini memang harus berkembang. Begitu pula dengan bahasa. Tetapi itu tidak berarti bahwa kita bisa mengembangkan bahasa secara “semena-mena”, mengadaptasi dan menyerap bahasa asing begitu saja seolah-olah tanpa pertimbangan yang matang, bahkan seakan-akan tanpa pertimbangan sama sekali. Saya tidak mau bahasa Indonesia menjadi seperti bahasa Turki modern yang sering diolok-olok karena banyak mencomot dan mengadaptasi bahasa Prancis hanya supaya kelihatan “Eropa”. Memang, bahasa Indonesia adalah hasil percampuran dari banyak bahasa, mulai dari bahasa Arab, Cina, India, Inggris, Portugis, Belanda, Melayu, dan berbagai bahasa lain yang bangsa penuturnya pernah mendiami tanah Nusantara ini. Namun, setelah melewati berbagai masa dan bertahun-tahun lamanya, bahasa-bahasa itu menjadi satu dan membentuk bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang ini, bahasa Indonesia yang pakem.

Jika bicara tentang perkembangan bahasa Indonesia, yang saya bayangkan, dan saya inginkan, adalah berusaha keras mencari padanan kata yang tepat untuk kata-kata dan istilah-istilah asing yang tidak ada dalam bahasa Indonesia karena memang perbedaan budaya membawa perbedaan cara berpikir sehingga apa yang ada dalam budaya Barat, atau budaya luar mana pun itu, belum tentu ada pula dalam budaya kita. Ini persoalan yang pelik, dan saya sendiri mengakui bahwa ada banyak istilah asing yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Kalaupun ada, pasti terdengar aneh, tidak wajar. Dulu saya juga kaget dan merasa tidak nyaman ketika pertama kali mendengar kata surel (singkatan dari surat elektronik, padanan dari kata email dalam bahasa Inggris), unduh (padanan kata untuk kata download), unggah (untuk kata upload), dan daring (singkatan dari dalam jejaring, padanan untuk istilah online). Tetapi kemudian saya berpikir, demi kelestarian dan kemajuan bahasa Indonesia, penerjemahan kata-kata ini haruslah diterima. Maka dari itu, saya girang bukan kepalang ketika belum lama ini muncul padanan kata untuk kata blogger (narablog) dan contact person (narahubung). Saya berpikir: Wah, akhirnya! Namun, setelah itu kegirangan saya memudar saat tiba-tiba saja kata viral “disahkan” menjadi kata dalam bahasa Indonesia. Terus terang saya tidak setuju, sama sekali tidak setuju. Ketika saya sibuk berpikir apakah padanan kata giveaway dalam bahasa Indonesia, kata viral tiba-tiba masuk tanpa permisi.

Mengapa saya tidak setuju? Karena menurut saya, selama suatu kata atau istilah asing masih bisa diterjemahkan, kenapa tidak? Jika dalam bahasa Indonesia kita bisa mengatakan “dengan cepat menyebar luas”, kenapa harus nekat memakai kata dalam bahasa Inggris? Apakah karena begitu pemalasnya kita sebagai sebuah bangsa, sampai-sampai kita tidak mau bicara panjang lebar dan main comot kata saja asalkan singkat dan gampang diucapkan? Mental macam apa itu? Yang semakin membuat saya sedih dan kecewa adalah ternyata akhir-akhir ini telah terjadi banyak penyerapan dan pengadaptasian kata-kata dan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia secara mentah-mentah. Mulai dari yang masih bisa diterima akal dan perasaan saya sebagai penutur bahasa Indonesia, sampai yang sudah masuk pada tahap “saya tidak mau memakai kata/istilah itu dalam tulisan-tulisan maupun terjemahan saya”. Mulai dari kata fesyen (yang diserap dari kata fashion), sampai kata ACC yang langsung berubah menjadi asese yang, maaf saja, di mata dan telinga saya seperti omongan orang kampung tidak berpendidikan yang mencoba berbicara dalam bahasa Inggris.

Saya memang tidak punya kuasa dan daya untuk membenarkan atau menyalahkan kata dan istilah dalam bahasa kita, tapi paling tidak saya punya pendapat sendiri. Sah-sah saja kan, punya pendapat sendiri? Nah, berikut adalah beberapa padanan kata versi saya, menurut pertimbangan saya sebagai penerjemah dan penutur bahasa Indonesia, juga pertimbangan satu-dua ahli.

  • Viral = dengan cepat menyebar luas / merajalela

Pertimbangan: menurut kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary edisi kedelapan milik saya, arti kata viral adalah “like or caused by virus”, seperti atau disebabkan oleh virus. Jadi, bisa dibayangkan sesuatu yang “viral” mempunyai sifat menular dan/atau menyebar luas dengan cepat. Memang belum ada kata padanan dalam bahasa Indonesia yang tepat bisa menggantikannya hanya dalam satu kata saja. Tapi saya lebih memilih menerjemahkannya secara “masuk akal” ke dalam bahasa Indonesia, walaupun hasilnya jadi panjang lebar.

  • UFO = BETA (Benda Terbang yang Aneh)

Pertimbangan: istilah BETA saya temukan pada laman Wikipedia Indonesia saat mencari padanan/pengganti kata UFO. Jika saya tidak salah ingat, istilah ini ditemukan oleh seorang pengamat keantariksaan. Saya pernah memakai istilah ini saat menerjemahkan majalah National Geographic untuk anak-anak.

  • Fashion = mode

Pertimbangan: ini adalah pendapat salah seorang penerjemah senior, dan saya setuju dengan beliau.

  • Schedule = jadwal/rencana

Pertimbangan: sepanjang saya hidup sebagai penutur bahasa Indonesia dan pembelajar bahasa Inggris, setahu saya arti kata schedule adalah jadwal. Di luar itu, menurut kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily, schedule berarti daftar (perjalanan/pekerjaan) atau rencana. Lalu, bagaimana ceritanya sampai muncul kata skedul? Apa pula pertimbangannya? Saya berdoa semoga tidak akan ada instansi resmi, badan publik, atau perusahaan yang menggunakan kata skedul. Bisa bayangkan jika istilah “jadwal penerbangan” diganti menjadi “skedul penerbangan”? Naiknya pesawat, tapi omongannya seperti orang-orang yang naik gethek.

  • ACC = persetujuan resmi

Pertimbangan: istilah ini merupakan singkatan dari kata accord yang dalam kamus bahasa Inggris versi Oxford maupun Merriam-Webster berarti formal agreement. Jadi, padanan katanya? Persetujuan resmi, titik. Jika Anda ingin mengatakan di-ACC, bisa diganti dengan kata disetujui. Namun jika Anda merasa keberatan menulis panjang-panjang, lebih baik tetap menggunakan istilah aslinya. Cara ini masih lebih terhormat daripada menjadikannya “asese”, kalau menurut saya.

  • Gentleman = pria sejati / pria terhormat

Pertimbangan: sama halnya dengan istilah di atas, lebih baik tetap menggunakan kata dalam bahasa aslinya yaitu gentleman, karena padanan katanya sulit sekali dicari dalam bahasa Indonesia. Di zaman modern ini, secara umum kata gentleman berarti pria yang santun, berpendidikan, dan berperilaku baik (terutama terhadap wanita). Karena masih sangat sulit mendapatkan padanan kata atau istilahnya dalam bahasa Indonesia, maka menurut saya lebih baik tetap menggunakan kata gentleman untuk sementara waktu sampai ketemu istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia, daripada mentah-mentah menyerapnya menjadi jentelmen. Atau, kalau mau, Anda bisa menggunakan istilah pria sejati, mengingat bahwa selain ciri-ciri di atas, seorang gentleman biasanya juga memiliki sifat “kesatria”. Dulu waktu saya masih menerjemahkan novel-novel historical romance, yang notabene berlatarbelakang zaman dahulu, saya sering menjumpai istilah gentleman, dan biasanya istilah ini dikaitkan dengan pria yang berasal dari kalangan atas, sehingga saya rasa penggunaan istilah pria terhormat pun tidak salah.

  • Dubbing = sulih suara; Speaker = pengeras suara

Seperti kata jadwal yang merupakan padanan kata yang sudah umum untuk kata schedule, maka kita semua tahu bahwa kata dubbing dan speaker juga sudah ada padanan istilahnya dalam bahasa Indonesia yang umum dipakai selama ini, yaitu sulih suara dan pengeras suara. Jadi saya rasa tidak perlu diserap mentah-mentah menjadi dabing dan sepiker. Dan saya jelas-jelas tidak akan menggunakan dua istilah aneh bin ajaib ini. Jangan harap.

Bahasa suatu bangsa adalah cerminan budaya dan cara berpikirnya. Contohnya dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Eropa (paling tidak bahasa Spanyol, yang juga sedang saya pelajari), ada banyak tenses karena para penuturnya adalah orang-orang yang sangat menghargai dan tepat waktu. Tidak seperti kita orang Indonesia yang harus menggunakan kata kemarin, besok, sekarang, nanti, dsb untuk menunjukkan kapan suatu hal terjadi. Melihat perkembangan bahasa Indonesia sekarang, saya jadi berpikir: apakah cara berpikir dan mental kita sebagai sebuah bangsa, alih-alih semakin maju, justru semakin mundur? Melihat kata-kata serapan baru yang terdengar ajaib yang disahkan dalam kamus besar, saya jadi berpikir: kenapa lama-kelamaan kita jadi semakin (sok) bule? Karena globalisasikah? Karena semakin tak punya harga dirikah? Jika harus menyesuaikan kata-kata dan istilah-istilah asing sedangkan sulit sekali mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, kenapa tidak mencari referensi dalam bahasa-bahasa daerah kita? Bukankah kita punya banyak sekali bahasa daerah? Seperti bahasa Jawa misalnya, kata saking (sebegitu) dan goblok (bodoh) sudah diserap menjadi bahasa nasional. Bukankah kata “bung” (sapaan untuk lelaki) juga berasal dari bahasa daerah di Indonesia Timur? Saya sering melihat, membaca, dan menggunakan kata itu untuk mengartikan sapaan “man” dalam bahasa Inggris.

Intinya, saya sedih dan kecewa. Amat sangat kecewa. Saya hanya bisa berharap ke depannya tidak akan terjadi lagi penyerapan maupun pengadaptasian semena-mena semacam ini. Saya berharap, kelak pencarian padanan kata dan istilah asing dalam bahasa Indonesia bisa lebih bijaksana daripada sekarang.

Advertisements

2 thoughts on “Bahasa Kita, Bahasa Asing”

  1. Pertama kali nemu kata jentelmen, saya berpikir, “wow… ini lucu” dalam artian seru aja serapannya. Tapi kemudian muncul fesyen, dabing, sepiker dan paling parah asese… saya langsung mikir, “oke… ini udah kelewatan”.

    Setuju dengan pendapat mbak. Jangan sampai Bahasa Indonesia kehilangan identitasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s