others

Membaca: Jalan Menuju Roma

[BBI – Posting Bareng Juni 2016]

pic-posbar-juniSaya tidak pernah bepergian ke mana-mana. Saya memang pernah pergi ke luar kota, kadang-kadang, untuk urusan keluarga atau sekadar jalan-jalan. Tapi itu dulu. Rasanya sudah lama sekali saya tidak meninggalkan kota tempat saya tinggal ini. Setiap kali ada teman yang berkesempatan untuk pergi ke luar negeri (entah untuk melanjutkan sekolah, bekerja, atau hanya berwisata), saya jadi iri setengah mati. Sejak dulu cita-cita saya adalah menginjakkan kaki di tanah asing, di tempat-tempat yang hanya bisa saya lihat di televisi atau di lini masa Twitter. Saya sangat ingin pergi dari sini, tapi apa daya? Mungkin Tuhan tidak (atau belum?) mengizinkan. Maka dari itu saya sering menjuluki diri saya sendiri manusia gua.

Lalu, apa hubungan semua itu dengan pengakuan saya sebagai seorang pembaca? Ada, dan kaitannya sangat erat. Harus saya akui di sini bahwa sebenarnya, saya tidak suka membaca. Ini jujur sejujur-jujurnya. Daripada membaca saya lebih suka mendengarkan musik, atau menonton film. Lagi pula, sejak kecil saya lebih suka menulis daripada membaca. Saya sangat cinta menulis. Entah ada apa pada kegiatan menulis yang membuat saya sangat tertarik dan dapat merasa terserap ke dalamnya. Pokoknya saya amat sangat suka menulis sekali. Entah itu puisi, cerpen, novel, buku harian, atau sekadar resensi buku. Isi pikiran saya yang tidak pernah tenang ini selalu menuntut untuk dikeluarkan dalam bentuk tulisan. Itu saja intinya.

Sampai suatu saat saya menyadari bahwa tanpa membaca, saya tidak akan menjadi orang yang pintar. Ya, saya memang selalu bilang kalau saya mulai “senang” membaca sejak duduk di bangku SMA. Tapi pada saat itu saya hanya menganggap membaca sebagai “alat” untuk mendekatkan diri saya dengan dunia menulis. Tidak lebih. Dan kebetulan novel-novel yang saya baca waktu itu sangat relevan dengan kegalauan remaja saya ^_^. Yang menyadarkan saya, benar-benar menyadarkan saya, adalah ketika saya mulai kuliah. Di universitas, saya melihat dunia yang lebih besar, ilmu yang lebih banyak, dan orang-orang yang jauh lebih pintar dan berpengetahuan lebih luas daripada saya. Lama-kelamaan saya jadi minder: merasa bahwa diri ini bodoh sekali. Saya ingin jadi seperti mereka, karena saya tahu bahwa ada satu bagian dalam diri saya yang berambisi untuk menjadi pintar. Dan saya tahu, membaca adalah jalan utamanya. Kemudian saya pun mulai suka ke perpustakaan, memaksakan diri membaca koran (walaupun hanya beberapa rubrik), dan sering menyewa buku di persewaan buku/komik di belakang kampus saya (bagi yang satu alma mater dengan saya, pasti tahu di mana letak persewaan itu dulu). Intinya, saya menggenjot diri saya untuk lebih banyak membaca.

Nah, semakin kemari, saya jadi semakin sadar bahwa saya sudah tertinggal jauh. Sejak bergabung dengan komunitas GRI dan BBI, saya jadi “melek” bahwa ternyata bacaan orang lain sudah luar biasa banyaknya. Saya ini bisa dibilang hanya termasuk kelas teri. Saya jadi merasa ciut. Apalagi setelah berkenalan dengan blogger-blogger luar, yang bagi mereka membaca buku sudah seperti makan nasi bagi kita. Saya jadi semakin ciut, makin merasa bodoh. Tetapi segi positifnya adalah, semakin bodoh saya merasa, semakin getol saya membaca.

Hubungannya dengan pembukaan saya tadi? Nah, walaupun bacaan saya masih sangat sedikit (disebabkan akses yang masih agak sulit, daya baca saya yang masih lemah alias tidak bisa membaca lama-lama maupun cepat, dan kesibukan yang kadang-kadang membuat saya tidak sempat membaca sama sekali), manfaatnya sudah mulai terasa. Saya jadi tahu lebih banyak hal, “melihat” lebih banyak tempat. Jika ada yang bilang kalau membaca buku sama dengan bepergian ke mana-mana, saya setuju sekali. Dengan membaca, saya yang manusia gua ini serasa seperti berkunjung ke tempat-tempat di luar sana tanpa harus meninggalkan gua tempat saya tinggal. Dengan membaca, saya jadi tahu tentang budaya lain, watak masyarakat lain, dan sudut pandang orang lain. Dengan membaca, saya jadi “mengenal” negara-negara lain seperti Jepang, China, Britania Raya, Amerika, India, Italia, Iran, Afghanistan, Pakistan, Chile dan Turki, negeri impian saya. Hanya dengan membaca Istanbul, memoarnya Orhan Pamuk, saya merasa seperti sudah pernah ke sana (walaupun tetap, impian saya adalah benar-benar pergi ke sana). Intinya, dengan membaca saya jadi tahu lebih banyak dan melihat lebih banyak. Saya mungkin masih tetap manusia gua, tapi paling tidak sudah bukan katak dalam tempurung.

Jadi, inilah pengakuan saya: saya tidak suka membaca, tapi saya butuh membaca. Saya menggemari kegiatan membaca karena saya ingin keluar dari batas-batas gua tempat tinggal saya. Saya gemar membaca karena saya ingin pintar, ingin tahu banyak hal dan menjadi seseorang yang lebih baik. Saya gemar membaca karena saya tahu, membaca adalah satu-satunya jalan saya menuju Roma.

Banner Posbar 2016 kecilNote: Artikel ini diunggah sebagai bagian dari posbar #BBIBookishConfession Bulan Juni 2016.

Advertisements

8 thoughts on “Membaca: Jalan Menuju Roma”

  1. Ratih, baca ini aku jadi menyadari kalau daya bacaku semakin lemah, terkalahkan oleh aktivitas lain. Aku memang suka baca, tapi karena daya baca menurun itu aku jadi pilih2 buku yang perlu dibaca dan aku butuh tahu lebih banyak. *curcol

  2. Saya kemudian minder, karena saya sendiri masih pembaca yang lebih sering males ketimbang rajinnya. Duh, semoga kemampuan dan semangat membaca saya kembali lagi huhuhu *ngelirik tumpukan buku*

  3. waaah iya setujuuu membaca itu bener2 bisa membuka mata kita terhadap dunia.. meski kenikmatannya tetep beda dengan kalau pergi langsung, tapi bisa mengobati kekangenan jalan2 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s