others

Solusi Dari dan Untuk Diri Sendiri

[BBI – Posting Bareng Mei 2016]

pic-posbar-meiHari Buku Nasional mungkin akan selalu menjadi momen untuk merenungi atau mengkritisi dunia perbukuan dan masalah minat baca di Indonesia. Saya rasa, dari pengamatan kecil-kecilan saya selama ini, pertanyaannya masih berpusat di topik itu-itu saja dan belum berubah sama sekali. Kenapa minat baca (kebanyakan) orang Indonesia masih sangat rendah? Dengar-dengar negara kita ini bahkan ada di urutan kedua dari bawah dari negara-negara di dunia dalam urusan suka membaca (buku tentu saja, bukan status orang di media sosial). Lalu, kenapa harga buku (semakin) mahal? Bahkan harga satu eksemplar buku bisa berkali-kali lipat lebih mahal daripada harga satu kilogram beras yang paling bagus sekalipun. Orang Indonesia kebanyakan, yang punya watak perhitungan, tentu akan lebih memilih untuk menimbun beras (lalu dijual kembali) daripada menimbun buku (dan dibaca entah kapan).

Selain kedua pertanyaan di atas, ada satu pertanyaan yang terus terngiang di kepala saya: kenapa (sebagian besar) pembaca Indonesia belum bisa menghargai karya anak bangsa sendiri? Saya tahu dan saya menyadari bahwa belakangan ini buku-buku yang menjadi best seller adalah buku-buku dalam negeri alias karya penulis lokal. Buktinya bisa dilihat di toko-toko buku online maupun fisik, dan dari blog tour yang menjamur di dunia maya Indonesia. Tapi bukan itu yang menjadi masalah buat saya. Sekali lagi, dari hasil pengamatan kecil-kecilan saya (yang mungkin juga tidak dapat dipercaya), saya melihat sempat adanya tren membaca dan meresensi buku Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan setelah buku itu masuk dalam longlist penghargaan Man Booker International tahun 2016 ini. Buku itu pertama kali terbit 12 tahun yang lalu, kenapa baru heboh sekarang? Ke mana para pembaca Indonesia selama ini? Sibuk membaca Harry Potter, mungkin.

quote-posbar-mei
Kutipan dari novel 1Q84 – Haruki Murakami

Ah, tapi saya tidak mau sok suci. Saya sendiri juga begitu. Saya ini kan, hanya bagian dari orang-orang “pada umumnya”. Satu-satunya perbedaan saya dengan orang pada umumnya adalah saya tidak punya Facebook dan Instagram (maaf, off topic, tapi ini beneran, saya nggak bercanda). Saya sendiri masih lebih suka membaca (baca: menghargai) karya-karya penulis luar daripada penulis negeri sendiri (kalian bisa cek isi blog ini kalau tidak percaya), dan saya sendiri juga ikut-ikutan heboh membaca Cantik Itu Luka waktu buku itu terbit dan banyak diperbincangkan di luar negeri akhir tahun kemarin, padahal buku itu sudah terbit di Indonesia sejak 14 tahun yang lalu. Kenapa? Kenapa, sering kali, kita baru bisa menghargai suatu produk/karya dalam negeri setelah produk/karya tersebut dihargai di luar negeri? Apakah karena cara berpikir kita yang selalu bergantung pada “standar luar negeri”? Apakah karena bagi kita segala sesuatu yang berbau “luar negeri” selalu “pasti keren” dan “lebih keren”? Apakah kita harus selalu menunggu “pengakuan luar negeri” untuk menghargai penulis-penulis lokal?

Lalu, bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan itu? Terus terang, saya juga tidak tahu. Saya bukan seorang kritikus dan bukan ahli memberi solusi. Tapi saya punya satu prinsip: jika ingin melakukan perubahan, maka berubahlah mulai dari diri sendiri. Pertama, soal minat baca. Di negara yang sebagian besar rakyatnya masih lebih memikirkan bagaimana caranya mengisi perut (dan punya kendaraan sendiri) daripada bagaimana caranya menjadi bangsa yang cerdas rasanya masih sulit untuk menumbuhkan minat membaca (ingat: buku, bukan kolom gosip). Walaupun sudah banyak bermunculan komunitas baca di Indonesia yang gencar mengkampanyekan gemar membaca beberapa tahun belakangan ini, kita masih saja di urutan kedua dari belakang. Apa solusinya? Dengar-dengar pemerintah melalui Mendikbud sudah meluncurkan program “membaca 15 menit sebelum kelas dimulai” bagi anak-anak sekolah. Tapi apakah itu cukup? Jangan-jangan begitu pulang sekolah mereka lebih suka main game di gawai. Menurut saya, peran orangtua sangat penting di sini. Nah, kalau sudah begitu saya tidak bisa bilang apa-apa lagi. Lalu, apa solusi perubahan bagi diri saya sendiri? Menetapkan satu niat: menjadi pembaca yang lebih baik. Saya sadar saya tidak akan bisa bertanggung jawab atas minat baca se-Indonesia yang ratusan juta orang rakyatnya, tapi paling tidak saya bisa bertanggung jawab atas diri saya sendiri. Jadi, saya ingin membesarkan minat baca saya. Saya menyadari kalau sampai saat ini saya baru berminat membaca karya-karya fiksi. Saya jarang sekali membaca jenis buku lainnya, paling-paling hanya beberapa buku sejarah (dan tidak tuntas), sedikit buku teori ideologi, lebih sedikit lagi buku-buku puisi, dan memoarnya Orhan Pamuk. Saya ingin kelak punya minat membaca buku yang lebih beragam. Semoga saja, amin.

Kedua, soal harga buku yang mahal. Saya sendiri bingung harus bagaimana agar buku bisa murah, karena saya bukan pedagang/produsen buku. Kalau beberapa saat lalu, waktu harga BBM dan listrik naik, mengatakan “harga buku mahal” wajar-wajar saja rasanya. Tapi sekarang? Harga BBM turun. Tarif listrik turun. Lalu, kapan harga buku turun? Kalau itu mungkin hanya Tuhan yang tahu, karena pemerintah yang (saat ini) belum memikirkan industri buku dalam negeri tidak akan berpikiran sampai ke sana. Saya pernah baca di lini masa Twitter seorang teman kalau harga buku mahal disebabkan kertas yang digunakan adalah kertas impor, sedangkan kurs dolar sekarang masih di sekitar Rp. 13.000,-. Lalu, apakah kita harus menunggu kurs dolar turun untuk dapat membeli buku dengan harga murah? Mau menunggu sampai kapan? Nah, karena saya ini hanya orang bodoh dan bukan bagian dari pemerintah, saya tidak bisa sok-sokan memberi solusi. Saya hanya punya satu jalan keluar, dan ini sifatnya sangat personal dan ekonomis. Pinjam. Yap, jika teman-teman blogger buku lain mengaku sebagai “ordo buntelan”, maka saya ini adalah “ordo peminjam”. (Saya tidak bisa mengaku-ngaku sebagai ordo buntelan karena sering kali gagal menang giveaway dan tidak pernah dilirik penerbit). Sebenarnya ini adalah solusi lama, bukan hal baru bagi saya. Karena saya ini bukan orang yang mampu membeli buku sewaktu-waktu (mengingat penghasilan saya yang tidak tetap dan kebutuhan rumah tangga saya yang banyak), sejak dulu saya sudah sering meminjam buku dari teman. Jika tidak pinjam, biasanya saya akan menyewa di persewaan. Tapi syukurlah sekarang saya sudah menemukan perpustakaan lokal dengan koleksi yang cukup lengkap, jadi sekarang saya sering meminjam di perpustakaan. Bagi saya solusi ini sangat membantu. Lagi pula, selama kondisi keuangan saya masih begini-begini saja, prinsip saya adalah “mencintai (buku) tidak harus memiliki”.

Yang ketiga dan yang terakhir, soal penghargaan terhadap penulis-penulis lokal (sebelum dilirik pembaca luar). Untuk masalah yang satu ini, sebenarnya saya juga sudah punya solusi sejak tahun lalu. Bagi yang suka membuka dan membaca blog saya, pasti tahu tentang Indonesian Literature Reading Project yang saya gagas awal tahun lalu. Saya berketetapan untuk membaca lebih banyak karya-karya sastra Indonesia tanpa batasan waktu dan jumlah buku per tahunnya. Pokoknya saya harus baca karya sastra Indonesia walaupun hanya satu buku dalam setahun. Ini demi membuka wawasan tentang khazanah sastra Indonesia dan memicu kesadaran untuk menghargainya. Bonusnya adalah agar kita tidak bengong saja jika ditanya orang luar tentang dunia sastra kita sendiri, kayak kita nggak tahu di mana letak Jakarta. Selain itu saya punya solusi lain: saya berketetapan untuk sementara ini tidak membaca buku-buku Eka Kurniawan. Saya tidak mau lagi membaca karya beliau hanya karena ikut-ikutan heboh orang luar negeri. Saya ingin membaca karya beliau karena saya tulus dan ikhlas ingin membaca karya beliau. Lagi pula, sisa tahun ini mungkin akan saya habiskan dengan membaca karya-karya sastra Jepang. Bukan kenapa-kenapa, hanya saja teman saya Opat sedang mengadakan Japanese Literature Reading Challenge dan hadiah utamanya cukup menggiurkan :D.

Nah, sekian dulu artikel saya tentang problema dunia buku dan solusinya. Apa solusi kalian?

Banner Posbar 2016 kecilNote: Artikel ini diunggah sebagai bagian dari posbar #BBIHariBukuNasional Bulan Mei 2016.

Advertisements

8 thoughts on “Solusi Dari dan Untuk Diri Sendiri”

  1. Panjang…bentar aku mikir dulu komennya 😀

    *intermezzo*

    Kalau harga buku mahal, dulu pernah dikasih tau orang penerbit, bukan cuma harga kertas tapi pajaknya juga kan? Makanya pengen juga pajak buku ini dihapus biar harga buku murah. Solusi lain, sebenarnya bisa dengan format digital. Tapi ngelihat komen orang yang bilang “e-book kan bukan buku”, ya aku kudu piye? :v Itu juga masih dikenai pajak juga e-book. Jujur aku syok lihat harga Career of Evil sampe tembus 175ribu. Padahal harga yang versi mass marketnya sendiri ga segitu (ya iyalah mmp :D). Bagiku yang, syukurlah, berkecukupan masih bisa beli. Tapi masyarakat biasa gimana ya?

    Terkait award…dari dulu aku ga terlalu peduli award. Tapi ya mengamini kalau baca buku yang tiba – tiba ngehitz itu sering. Menurutku manusiawi aja sih, karena ibaratnya kita penasaran kan kok buku itu jadi terkenal atau dijadiin film (kasus paling sering). Aku pernah dikasihtau juga kalau ukur tolok best seller itu..semacam ga ada ukurannya. Paling mudah FSoG ma Twilight deh. Ceritanya bener – bener biasa, penulisannya biasa (atau buruk banget), tapi meledak dll. Jadi formula buku untuk best seller itu..bisa dibilang susah susah gampang nebaknya.

    *udah kepanjangan XD*

    Yah, menurutku lagi sih, baca yang kamu mau aja Erdeaka. Misal hari ini baca sastra Indonesia, terus besoknya baca bukunya Eka kan gapapa :D. Jangan sampai baca buku terasa jadi kewajiban, kalau merasa wajib, artinya ada yang salah. Baca buku karena kita emang butuh, karena tanpa baca kita merasa hampa. Itu aja 🙂

    1. Halo Ren, makasih dah mampir di blogku :).

      Eh iya, aku belum ngitung soal pajak ya *tepok jidat*. Tapi lha ya itu, pajak kan urusan pemerintah, dan yang pasti semua barang tuh ada pajaknya dong. Kalopun kita berdoa pemerintah sadar arti penting buku dan mau ngehapus (ato at least ngurangin) pajak buku, kapan mereka sadarnya??? Kalo aku solusinya teuteup… pinjem X)

      Terus… lanjut. Emang sih seharusnya kita baca buku yang pengen kita baca aja, tapi ya itu kadang-kadang orang “pada umumnya” suka terbawa arus dan ikut-ikutan, ya kayak aku ini, heuheuheu. Makanya aku bikin solusi (ato resolusi ya?) buat sementara waktu ga baca bukunya Eka, coz jujur setelah baca Cantik Itu Luka, aku merasa ga sreg sama karyanya beliau. Emang bagus sih, tapi aku ga sreg aja. Ibarat ada cowok ganteng tapi aku ga suka (iki opo sih XD). Makanya aku bilang pengennya ntar kalo baca buku beliau, aku tulus dan ikhlas. Ga merasa wajib cuma gara-gara ngikutin arus. Getow…

      1. Lah itu ga sreg sih gpp 😀

        Ga usah merasa bersalah kalau kita ga bisa nyukain buku yang semua orang suka. Dan ga usah maksain juga baca buku Eka yang lain untuk ngetes apa buku dia yang lain lebih bagus (tapi kalau mau juga g masalah sebenarnya). Baca yang bikin happy, yang bikin mikir, yang pokoknya sesuai sama pribadi aja

  2. Ini post yang bagus sekali. Saya malah merasa mbak agak rendah diri karena solusi-solusi mbak banyak yang benar. Contohnya memulai segala sesuatu dari diri sendiri. Kedua, meminjam buku. Kadang blogger-blogger mudah terjerat lingkaran BELI TERUS padahal ada cara lain untuk menyusun konten. 🙂

  3. hmmm aku nih, yang termasuk nggak menghargai karya anak bangsa XD dan jujur, tertarik baca Eka K ya memang karena karyanya masuk long list award yang bergengsi itu 🙂 Tapi gimana ya? Sama kayak kata Ren sih. Aku lebih memilih untuk membaca buku yang memang sesuai dengan selera dan kata hatiku. Dan jujur aja, so far aku memang masih merasa lebih cocok membaca buku karya penulis luar negeri dibandingkan karya penulis Indonesia. Kenapa? Nggak tau ya, masalah selera aja kayaknya, Sama kayak kenapa aku lebih suka makanan Sunda daripada Jawa Tengah. Atau kenapa aku lebih suka minum teh daripada kopi. Jadi memang butuh suatu pemicu yang heboh buatku untuk mau mencicipi karya penulis lokal. Termasuk tadi itu, kalau karyanya masuk ke longlist award apalah itu XD Buatku waktu terlalu singkat sih, untuk memaksakan diri menyukai hal-hal yang memang kurang sreg di hati. So..just enjoy the ride aja 🙂

  4. Hidup ordo peminjam! Hahahaha
    Kalau aku masih di solo mbak, pasti aku akan selalu menemanimu ke perpustakaan karena aku juga sering bokek untuk beli semua buku yang aku mau, hahaha, selain itu di kotaku harga sewa buku di rental mahal, belum nengok perpusnya sih karena belum ada waktu dan teman ke sana, makanya sampai sekarang masih rajin jadi ordo buntelan juga atau cari buku seken yang harganya lebih murah. Beli buku yang emang aku tahu bakalan suka dan daripenulis yang udah lama aku ikutin, setuju juga sama Ren, baca yang emang disuka aja kalau emang terasa berat mengikuti bacaan lain, kadang aku juga gitu, kalau lelah mencoba aku akan kembali ke zona nyaman, dan kalau udah siap lagi, sok atuh berlalangbuana ke negeri (baca: genre buku) lain 😀

  5. Ikut terjlebb akibat kutipan novel Haruki Murakami yang bahkan sampai sekarang masih saya timbun dan belum buka segelnya. Saat ini, mencoba membaca buku-buku yang di luar genre yang biasa kubaca. Masih kuat untuk nonfiksi dan K-Lit, namun masih belum tergerak baca Hisrom.

    Saya sebagai sarjana sastra Inggris bisa dibilang jomplang karena bacaannya lebih banyak yang Indonesia ketimbang yg bahasa Inggris, tapi semoga ini bisa jadi cambuk karena sebagai pembaca yang baik kita hanya bisa membaca (dan menimbun) buku dengan sebaik-baiknya. Membaca itu baik, itu saja sudah luar biasa bagi saya kalau ada banyak orang yang membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s