fiction, review

Mata yang Enak Dipandang

[BBI – Posting Bareng Maret 2016]

Bisa dibilang saya tidak (atau belum) banyak membaca karya-karya sastra Indonesia, apalagi karya penulis-penulis senior. Bisa dibilang juga ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Ahmad Tohari. Dan jika khalayak lebih banyak yang membaca Ronggeng Dukuh Paruk, maka saat ini saya baru berkesempatan membaca kumpulan cerpen Mata yang Enak Dipandang. Buku yang terdiri dari 15 cerita pendek ini secara umum mengedepankan tema kritik sosial, memaparkan kisah satu demi satu tentang kaum menengah ke bawah dengan segala masalah, konflik, dan pemikiran (terselubung) mereka.

Buku ini berisi cerita-cerita pendek yang pernah dimuat di berbagai media dari tahun 1980an sampai 1990an, dengan beberapa di antaranya ditulis pada era 2000an. Kumpulan cerpen ini, menurut saya, cocok bagi para pembaca awam Ahmad Tohari seperti saya karena dari kumcer inilah mereka dapat mengenal sang penulis mulai dari gagasan-gagasannya, cara berpikirnya, gaya bahasa dan penuturan narasinya, serta kritik-kritik sosialnya. Karya-karya Tohari yang terangkum dalam buku ini memiliki tema yang menarik, jika memang kritik sosial selalu dianggap “menarik” dalam dunia sastra, tetapi sayangnya hanya beberapa nomor saja yang berhasil mendapatkan perhatian saya. Cerita-cerita tersebut adalah Penipu yang Keempat; Warung Penajem; Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan; Dawir, Turah, dan Totol; Daruan; dan Bulan Kuning Sudah Tenggelam. Keenam cerita pendek tersebut memang berkisah tentang kaum menengah ke bawah, atau paling tidak tokoh pembantunya berasal dari kelas menengah ke bawah, sama seperti nomor-nomor lainnya. Akan tetapi, ada sesuatu yang lebih menarik dan menggelitik pada keenamnya. Seperti dalam cerpen yang berjudul Penipu yang Keempat, di mana Tohari menempatkan orang kelas bawah sebagai penjahat alih-alih korban ketidakadilan. Juga dalam cerita Dawir, Turah, dan Totol yang seolah diam-diam memprotes kebijakan pemerintah untuk membongkar sebuah terminal demi menciptakan sarana dan prasarana transportasi yang lebih baru dan lebih nyaman bagi masyarakat luas. Atau dalam kisah Daruan, seorang penulis pemula yang harus sampai membeli karya-karyanya sendiri demi bisa mendapatkan royalti. Gagasan-gagasan itu bagi saya sangat menggugah pikiran. Belum lagi kisah berjudul Bulan Kuning Sudah Tenggelam. Walaupun bahasanya terlalu puitis dan dramatis hingga terkesan tidak realistis, tapi cerita yang disajikan justru sebaliknya. Apalagi ketika ibu dari si tokoh utama berkata:

“Ini perjuangan istri untuk mempertahankan tempat duduknya di samping suami. Perjuangan yang lama dan terus-menerus. Mungkin sepanjang usia. Kedengaran tidak adil, tetapi itulah kenyataan. Setidaknya, itulah yang Ibu lakukan. Nah, kaulihat sendiri Ibu berhasil mendampingi almarhum ayahmu setengah abad.”

Dilihat dari cerita-ceritanya, sangat terlihat kalau Tohari amat tajam dalam mengkritik ketidakadilan di tengah masyarakat, terutama yang dialami kaum menengah ke bawah. Ini tidak ditutup-tutupi sama sekali oleh Tohari melalui narasinya yang jelas-jelas mengejek kalangan atas seperti yang terbaca dalam Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan. Selain ketidakadilan yang harus menjadi nasib tak terelakkan dari orang-orang kalangan bawah, Tohari juga mengkritik sikap semena-mena orang kaya terhadap mereka yang “ada di bawahnya”, seperti dalam Paman Doblo Merobek Layang-layang dan Bulan Kuning Sudah Tenggelam. Semua kritik Tohari sampaikan tanpa tanggung-tanggung, keras dan terbuka.

recap-tweet
recap Tweet #BBILagiBaca

Jika bicara soal narasi, maka mau tidak mau saya harus menilai kekurangannya. Atau, lebih tepatnya, kekurangannya di mata saya. Bagi saya beberapa narasi Tohari dalam cerita-cerita di buku ini kurang menarik dan kurang emosional (walaupun sudah dibantu dengan gaya bahasa yang mendayu-dayu). Singkat kata, narasinya kurang enak dibaca. Meski kritiknya menarik, penyampaian melalui narasinya tidak bergerak dan tidak menggerakkan. Ini bisa jadi dikarenakan gaya bahasanya, yang menurut saya kaku, terlalu baku, dan kadang mendayu-mendayu, tidak “membumi” dan realistis, terutama untuk dialog-dialog orang kecilnya. Menurut pendapat awam saya, gaya bahasa merupakan medium untuk menyampaikan cerita, sangat berpengaruh pada menarik atau tidaknya suatu narasi yang dihasilkan. Jika gaya bahasanya kurang, maka narasinya juga akan terasa kurang. Itulah yang terjadi pada narasi kisah-kisah pendek Tohari dalam buku ini. Intinya adalah, saya kurang dapat menikmatinya, walaupun, harus saya akui, alur dari beberapa cerpen terasa unik alias tidak biasa. Namun yang lebih penting dari semuanya adalah saya merasa sependapat dengan sebagian besar kritik yang dilontarkan Tohari melalui cerpen-cerpennya.

Secara keseluruhan, kumpulan cerita Mata yang Enak Dipandang ini merupakan medium kritik sosial yang sangat bagus dan memang layak dibaca. Bisa jadi pembaca lain tidak keberatan dengan gaya bahasa dan penceritaan Tohari dalam buku ini, dan pendapat awam saya hanya berlaku untuk saya.

Rating: 3.5/5

Banner Posbar 2016 kecilNote: Resensi ini diunggah sebagai bagian dari event Baca Bareng #BBILagiBaca Bulan Maret 2016.

Advertisements

8 thoughts on “Mata yang Enak Dipandang”

  1. Akhirnya suara hatiku terwakili oleh paragraf terakhirnya lol. Aku belum baca ini sih. Tapi kesan yang sama soal narasi yang membosankan juga kudapati di Senyum Karyamin. Ahmad Tohari memang terkenal dengan “kesederhanaan” dan isu sosial yang juga kusetujui, tapi nggak tahu kenapa nggak memperoleh kesan berarti buat aku. Mungkin hanya gak merasa related ya.

  2. aku setuju sama pendapatmu soal gaya bahasa merupakan medium untuk menyampaikan cerita. jadi memang kurang pas ya kalau gaya bahasa sastra mendayu dituturkan oleh tokoh yang berasal dari masyarakat bawah misalnya. nice review!

  3. Sudah lama pengen buku ini, tapi hanya bisa kepegang di toko buku. Semoga suatu saat bisa berjodoh dengan bukunya. Setuju juga soal gaya bahasa sebagai medium. Kadang, cara menyampaikan jauh lebih penting daripada apa yang disampaikan. Hal besar yang disampaikan dengan tidak menarik maka pembaca juga susah untuk menangkapnya. Maka jadi sia-sialah tema atau amanat yang hendak disampaikan itu *ikut dicatat di ingatan.

  4. Aku juga belum banyak baca penulis sastra Indonesia, masih cupu banget, hahaha. Belum pernah juga baca karya Ahmad Tohari, entahlah, aku agak pemilih kalau baca sastra, mau nyoba Eka Kurniawan dulu. Btw, tumben nggak pake b. Inggris mbak? 😀

    1. Hahaha, tahun ini aku canangkan buat ikutan posbar BBI untuk tema-tema tertentu. Dan untuk postingan posbar emang sengaja aku pake bahasa Indonesia aja, hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s