others

Seperti Membaca Diri Sendiri

Pada tanggal 29 Juli lalu saya menghadiri sebuah diskusi terbuka mengenai Orhan Pamuk, salah satu penulis favorit saya, yang diadakan oleh komunitas Pawon. Diskusi tersebut membuka beberapa bahasan menarik dan kemudian mengingatkan saya akan kesan yang saya tangkap dari karya-karya beliau dan alasan mengapa saya menggemari beliau.

Pertama kali saya mengenal Orhan Pamuk adalah ketika saya membaca My Name is Red edisi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Serambi. Saya langsung terkesan dengan ide cerita serta gaya penuturan narasinya. Mungkin ini akibat pengalaman baca saya yang masih sangat kurang, tetapi saya merasa bahwa gaya bercerita Pamuk dalam novel tersebut sangatlah unik di mana kisahnya dituturkan dari sudut pandang pertama bukan hanya semua orang/tokoh tetapi juga semua benda, bahkan warna dan kematian. Walaupun plotnya sangat panjang dan kadang-kadang terasa melelahkan, gagasan mengenai tarik-menarik antara paham Islam yang dianut kekaisaran Ustmaniyah dan paham Barat yang mulai menyusup masuk serta konflik yang terjadi kemudian memicu berbagai pemikiran di kepala saya.

Gagasan mengenai tarik-menarik antar dua paham inilah yang membuat saya menggemari Orhan Pamuk. Tema seputar pertentangan antara Barat dan Timur, modernitas dan tradisi, sekularisme dan Islam terasa dekat dengan kondisi masyarakat yang saya kenal. Setiap kali membaca karya-karya Pamuk, saya selalu merasa bahwa Turki dan Indonesia adalah dua negara yang berbeda namun dengan karakter bangsa yang sama: sama-sama sekuler (tidak berdasarkan hukum agama) tetapi sama-sama sebagian besar berpenduduk Muslim; sama-sama kuat memegang tradisi tetapi juga sama-sama memimpikan modernitas hingga tak pernah ragu “berkiblat ke Barat”. Masyarakat kita selalu menganggap bahwa yang bagus dan yang hebat adalah yang “Barat”. Saya ingat dalam novel The Museum of Innocence diceritakan bahwa begitu inginnya seseorang dianggap modern dan fashionable “layaknya” orang Barat sampai tak malu memakai produk-produk branded palsu (karena gengsi lebih besar daripada kesanggupan membeli yang asli). Hal ini, saya amati, juga terjadi di tengah masyarakat kita.

Ada yang mengatakan bahwa sebagai seorang penulis Turki beliau sangat “Barat”, namun dalam berkarya beliau selalu berusaha obyektif dan berimbang mengisahkan pertentangan antar paham. Kalaupun beliau memang sangat “Barat” seperti yang dikatakan orang-orang, tidak serta merta beliau berat sebelah dan membenarkan tindakan serta perilaku masyarakat Turki yang suka meniru-niru orang Barat—seperti yang disindirkan beliau dalam The Museum of Innocence dan yang tersirat dalam The White Castle. Namun begitu, di sisi lain, beliau juga sangat menyayangkan piciknya masyarakat tradisional Muslim di Turki yang seolah-olah sangat anti modernitas dan kemajuan—layaknya yang tersirat dalam My Name is Red (yang bercerita tentang pembunuhan terhadap seorang pelukis yang meniru gaya Barat dan “melanggar” aturan pembuatan gambar ilustrasi gaya Islam Turki), Silent House (yang tokoh utamanya, Fatma, digambarkan sangat kolot dan membenci modernitas karena dianggapnya sangat jauh dari ajaran agama dan memicu dosa), juga The New Life (di mana diceritakan bahwa mereka yang membaca buku yang membawa kehidupan baru alias “pembaharuan” dibunuh dan mati satu per satu). Obyektivitas Pamuk dalam menulis juga terlihat dari karya populer beliau yang berjudul Snow, di mana beliau menceritakan tentang tertekannya kaum Muslim Turki—terutama para pelajar wanita yang pada era novel tersebut dikisahkan masih dilarang memakai kerudung/hijab—sehingga memicu aksi bunuh diri dan terorisme.

Meski tema pertentangan selalu berulang-ulang dalam setiap novelnya (saya sudah membaca hampir semua karya fiksi Pamuk, baik dalam terjemahan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, terkecuali The Black Book) saya tidak pernah bosan, karena Pamuk selalu menghadirkan tema tersebut dalam bungkusan narasi yang apik dan unik. Walaupun sering kali narasi Pamuk terasa membosankan (terutama bagi mereka yang tidak terbiasa membaca buku-buku beliau), bagi saya tetaplah menakjubkan. Pamuk sering kali membangun cerita dari berbagai sudut pandang tokoh-tokohnya sehingga pertentangan nilai-nilai dan paham-paham yang ingin beliau sampaikan terlihat sangat jelas, karena penceritaan dari berbagai sudut pandang itu kemudian memunculkan pesan/isi mengenai pertentangan itu sendiri.

Pesan/isi inilah yang membuat saya setia membaca karya-karya beliau. Sekali lagi, kedekatan karakter, meskipun tidak sepenuhnya, antara masyarakat Turki (seperti yang tertuang dalam novel-novel beliau) dan masyarakat Indonesia selalu membuat saya merasa seperti membaca diri sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “Seperti Membaca Diri Sendiri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s